Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ekonomi NTB Diproyeksikan Tumbuh 5,6 Persen pada 2023

BI mencatat okupansi hotel di Senggigi, Gili Trawangan hingga Mandalika rata-rata sudah 70 persen dan diproyeksikan semakin meningkat pada 2023.
Harian Noris Saputra
Harian Noris Saputra - Bisnis.com 05 Januari 2023  |  20:30 WIB
Ekonomi NTB Diproyeksikan Tumbuh 5,6 Persen pada 2023
Objek wisata alam di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bagikan

Bisnis.com, MATARAM – Ekonomi Nusa Tenggara Barat diproyeksikan tumbuh 4,8-5,6 persen pada 2023 seiring dengan semakin meningkatnya konsumsi masyarakat dan kinerja sektor-sektor strategis di NTB.

Bank Indonesia mencatat pada 2023 sejumlah sektor akan menjadi pemicu utama tumbuhnya ekonomi NTB, seperti sektor konsumsi rumah tangga, pariwisata, otomotif, hingga pertanian.

Sektor pariwisata yang terus pulih sejak 2022 dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan. BI mencatat okupansi hotel di Senggigi, Gili Trawangan hingga Mandalika rata-rata sudah 70 persen dan diproyeksikan semakin meningkat pada 2023.

Selain sektor pariwisata, sektor otomotif juga disebut semakin membaik pasca pandemi Covid-19.

Kepala Perwakilan BI NTB, Heru Saptaji menjelaskan permintaan kendaraan dari masyarakat terus meningkat pasca pandemi dan akan berlanjut pada 2023. Permintaan yang terus meningkat menurut Heru mengindikasikan perputaran uang di masyarakat semakin tinggi.

“Indikator-indikator yang ada saat ini membuat kami optimis pertumbuhan ekonomi NTB bisa lebih baik dibanding 2022. Konsumsi rumah tangga tercatat semakin baik, kemudian pariwisata juga sudah reborn, dan sektor pertanian juga akan diproyeksikan tumbuh. Khusus sektor pertanian ini kami akan dorong untuk lebih baik terutama dalam produksi komoditas ekspor dan komoditas strategis yang memberi andil terhadap inflasi,” jelas Heru, Kamis (5/1/2023)

Bank Indonesia akan mendorong peningkatan produksi vanili, rumput laut, udang vaname, lobster yang menjadi komoditas strategis ekspor. Untuk vanili, BI akan mendorong pengembangan klaster di Kabupaten Bima yang memiliki potensi yang besar. Permintaan terhadap vanili ke NTB menurut Heru terus meningkat dan akan memberi andil pertumbuhan ekonomi masyarakat jika dioptimalkan.

Selain itu, NTB secara bertahap akan membangun ekosistem industrialisasi di sektor pertanian, sehingga tidak lagi mengirim komoditas mentah ke luar daerah.

Menurut Heru kedepan NTB tidak boleh lagi mengirim jagung mentah, gabah, tetapi harus diolah terlebih dahulu agar memiliki nilai tambah, sehingga memberi kesejahteraan petani bisa meningkat.

Untuk menjaga inflasi di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia akan menekan inflasi dari kelompok volatile food seperti cabai, bawang merah, telur ayam ras.

Menurut Heru NTB sebagai produsen komoditas tersebut seharusnya tidak mengalami inflasi, tetapi selama ini ketika musim panen, komoditas-komoditas tersebut dikirim langsung ke luar daerah tanpa terlebih dahulu memenuhi kebutuhan dalam daerah.

“Kami akan membentuk banyak offtaker yang akan menampung hasil panen dari komoditas strategis tersebut, sehingga tidak langsung dibawa ke luar daerah tetapi kebutuhan dalam NTB sendiri harus dipenuhi terlebih dahulu, agar harganya tetap stabil,” ujar Heru.

Bank Indonesia menargetkan inflasi di NTB kembali ke jalur moderat pada 2023 di kisaran 3 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ntb Pariwisata Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top