Harga Hotel di Ubud Masih Belum Normal

Hotel di Ubud yang sudah bisa menentukan harga dengan tarif normal harus menambahkan dengan paket atau bonus lain.
Wisatawan mancanegara mengenakan pakaian adat ketika melihat perayaan Hari Raya Galungan di Pura Dalem Peliatan, Ubud, Bali./Antara-Nyoman Budhiana
Wisatawan mancanegara mengenakan pakaian adat ketika melihat perayaan Hari Raya Galungan di Pura Dalem Peliatan, Ubud, Bali./Antara-Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR – Harga kamar hotel di Ubud masih belum mulai normal walaupun wisatawan mancanegara sudah mulai masuk setelah dibukanya penerbangan internasional ke Bali.

Sebagian manajemen hotel belum bisa mengembalikan harga hotel seperti harga sebelum pandemi karena jumlah wisatawan yang menginap masih belum normal. Apalagi mayoritas tamu hotel di Ubud merupakan tamu mancanegara.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kabupaten Gianyar, Tjokorda Gde Bayuputra Sukawati, menjelaskan secara umum kondisi pariwisata Ubud sudah membaik jika dibandingkan saat pandemi. Hotel pun sudah mulai terisi oleh wisman maupun wisatawan domestik.

“Walaupun kamar sudah terisi, ada sebagian hotel belum memberikan harga normal karena tamu belum sebanyak dulu, dengan jumlah wisman yang masuk sepanjang 2022, Ubud juga harus bersaing dengan kawasan lainnya,” jelas Tjok Tra, Senin (19/9/2022).

Menurut Tjok Tra, hotel di Ubud yang sudah bisa menentukan harga dengan tarif normal harus menambahkan dengan paket atau bonus lain agar tamu atau wisatawan berminat untuk menginap di hotel tersebut.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat okupansi hotel di Bali pada Juli 2022 sejumlah 37,52 persen, turun 1,25 persen jika dibandingkan Juni 2022. Sementara itu length of Stay atau lama tamu asing tinggal di hotel yakni 2,05 hari.

Pandemi selama 2,5 tahun juga mengubah segmen pariwisata Bali, sehingga promosi juga harus dilakukan dengan inovasi yang mampu menarik wisatawan baru. Promosi yang dilakukan tidak hanya mempromosikan alam Bali yang indah seperti pantai, laut, subak.

“Kehidupan sosial Bali yang unik juga harus dipromosikan, sehingga tidak hanya berfokus ke alam,” ujar dia. (C211)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper