BI NTB Kembangkan Smart Farming Berbasis Pesantren

Penggunaan pupuk kompos dalam pengembangan pertanian ini telah berdampak positif terhadap kualitas cabai dan bisa menekan biaya produksi.
Penanaman bibit cabai bagian dari strategi ketahanan bahan pokok./Ist
Penanaman bibit cabai bagian dari strategi ketahanan bahan pokok./Ist

Bisnis.com, DENPASAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengembangkan pertanian modern atau smart farming melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan melibatkan pondok pesantren besar.

BI NTB memilih tiga pondok pesantren untuk menjadi piloting program Integrated Farming with Technology Information and Society atau Infratani binaan BI NTB dalam pengembangan komoditas cabai, di antaranya Pondok Pesantren Thohir Yasin, Pondok Pesantren Nurul Hakim, dan Pondok Pesantren Nurul Haramain. Bank Indonesia memfasilitasi pembangunan green house dan instalasi peralatan drip irrigation berbasis IOT di masing-masing Ponpes tersebut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Berry, Arifsyah Harahap, menjelaskan di tengah kondisi inflasi pangan yang tinggi, Bank Indonesia melihat pondok pesantren memiliki kapasitas dalam mengembangkan produktivitas pangan dan dianggap mampu untuk berkontribusi dalam upaya pengendalian inflasi.

Lebih lanjut, program kemandirian pesantren dikaitkan dengan program GNPIP khususnya dalam pengembangan pertanian organik seperti beras, cabai, bawang merah, juga komoditas lainnya. Tahun 2023, terdapat 40 piloting program yang tersebar di 11 Kantor Perwakilan se-Indonesia dan KPw BI Provinsi NTB menjadi yang pertama melakukan kick off program Infratani pondok pesantren.

”Pemberian green house sendiri ditujukan untuk mendukung program pengendalian inflasi pangan dengan mendorong penanaman di masa off season melalui keunggulan dari green house yang dapat membuat lingkungan di sekitar penanaman lebih terkontrol dan bisa memodifikasi cuaca saat musim hujan agar tanaman tidak terlalu basah, sehingga produksi menjadi maksimal dan diharapkan pertumbuhan menjadi lebih baik,” jelas Berry dari siaran pers, Selasa (16/1/2023).

Selain green housedukungan Bank Indonesia kepada Pondok Pesantren Thohir Yasin juga berupa kandang ternak ayam, pelatihan dan pendampingan budidaya organik dengan memanfaatkan limbah pesantren. Ke depannya, dalam kerja sama melalui program GNPIP, komoditas hasil produksi pesantren Thohir Yasin dapat disalurkan melalui kios yang dikelola oleh TPID Kota Mataram di pasar Kebon Roek untuk mendapatkan margin yang tepat guna mengendalikan harga pangan di pasar dan membangun ekosistem dari hulu, intermediate, dan hilir, serta pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan.

Kepala Unit Ekonomi PPSM Thohir Yasin, Syahrulloh menjelaskan Ponpes Thohir Yasin telah merasakan manfaat dari program smart farming yang diintervensi oleh BI  NTB melalui berbagai pelatihan dan fasilitas green house hingga IOT. Syahrulloh juga menjelaskan penggunaan pupuk kompos dalam pengembangan pertanian ini telah berdampak positif terhadap kualitas cabai dan bisa menekan biaya produksi.

“Pesantren dapat menekan biaya produksi hingga 50 persen. Lebih rinci, pertanian organik dapat menekan biaya hingga Rp1,5 juta, sedangkan pertanian konvensional memakan biaya produksi hingga Rp4 juta,” ujar Syahrulloh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper