Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Produsen Tas Feodora Bali Bangkit Karena Dagang-el

Feodora Ubud identik dengan menggunakan rotan terbaik di dunia dan dikerjakan oleh perajin yang sangat teliti dan berbakat.
Butik Feodora Ubud./Ist
Butik Feodora Ubud./Ist

Bisnis.com, DENPASAR — “Saya diselamatkan karena ada online. Kalau waktu itu tidak ada online, entah seperti apa,” tutur Tarii Panjaitan, owner Feodora Bali, UMKM yang memproduksi tas dan aksesoris mewah berbahan rotan.

Tarii tidak hiperbola dengan kata penyelamat. Dia menceritakan, usahanya dirintis pada akhir 2019. Nama brand Feodora Bali dipilih nya karena terinspirasi dari kata ‘Faith’ Dia mempunyai keyakinan bahwa suatu saat Feodora Bali akan terkenal seperti brand-brand ternama yang sudah lazim dibeli. Itulah mengapa Tarii sangat selektif, untuk setiap material yang dia gunakan pada produk feodora Ubud.

Tarii ingin Feodora Bali identik dengan menggunakan rotan terbaik di dunia dan dikerjakan oleh perajin yang sangat teliti dan berbakat. Feodora Ubud pun mengkombinasikan rotannya dengan Italian leather yaitu salah satu standar kulit terbaik di dunia. Hasil produksi awal saat itu langsung dititipkannya ke 15 hotel bintang lima di daerah Bali dan beberapa airport di Indonesia.

“Itu akhir 2019, saya buat 100 produk, dan ternyata ada beberapa permintaan restock barang dari hotel lagi sambutannya. Senanglah, akhirnya buat lagi 50 produk,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat (16/06/2023).

Tas dan aksesoris Feodora Bali tersebut pun dijual dengan harga tidak murah. Produk Feodora Ubud paling murah dibandrol dengan harga Rp800.000/pcs, hingga Rp6 juta.

Tarii pun mengedukasi calon pembeli bahwa harga produk Feodora Bali tergantung dari material yang digunakan. Produk Feodora Ubud memiliki tiga tingkatan, mulai dari material lokal, semi material atau medium hingga top quality. Tingkatan itu berdasarkan bahan baku yang digunakan.

Cerahnya bisnis yang terbuka di awal tersebut tiba-tiba menjadi mendung gelap ketika memasuki awal 2020. Bandara I Gusti Ngurah Rai tidak ada kedatangan wisatawan. Covid-19 membuat aktivitas pariwisata terhenti seketika. Akomodasi pariwisata ikut terdampak. Tarii mengaku akhirnya disuruh menjemput semua produknya disejumlah hotel, dan airport tempatnya menitip barang.

Disinilah dia menghadapi dua problem sekaligus. Pertama, produk Feodora Bali yang berbahan natural (rotan dan kulit) butuh tempat yang tidak lembab. Sementara saat itu, dirinya tidak memiliki fasilitas gudang, melainkan hanya kamar kos-kosannya yang kecil. Masalah kedua, masih ada produk baru yang juga membutuhkan tempat untuk pemeliharaan tas.

“Pusing saya, akhirnya memberanikan diri menyewa ruko di Ubud. Itu pas pandemi, karena pikirnya palingan sebentar saja ini,” ujarnya.

Mendapatkan toko untuk dijadikan butik tidak lantas membuat problemnya terurai. Karena aktivitas pariwisata di Pulau Dewata sedang tertidur, butiknya di Ubud minim kunjungan. Disinilah kemudian dia diselamatkan oleh dagang-el. Awalnya Tarii tidak terpikir menjual lewat aplikasi dagang-el karena menilai produknya tidak masuk segmen ini.

Produsen Tas Feodora Bali Bangkit Karena Dagang-el

Saran dari seorang temannya untuk mencoba dagang-el kemudian dipilih. Ternyata hasilnya memuaskan. “Ada beberapa klien dari luar negeri yang tetap membeli tas Feodora karena material dan kualitasnya yang memuaskan dan itu sangat membantu sekali,” ungkapnya.

Dari sinilah kemudian penjualannya terbuka kembali meskipun masih pandemi. Bahkan, di aplikasi dagang-el tersebut dia bisa menjangkau buyers potensial dari Amerika Serikat hingga Prancis. Hingga kini, komunikasi dengan buyers tetap lancar dilakukan. Beberapa buyers baru pun ikut mengetahui produknya dari dagang-el. Berkat digitalisasi itulah, Feodora kembali bangkit. Bahkan, produknya masuk sebagai finalis UMKM EXPO (RT) Brilianpeneur 2022 yang diadakan BRI di KTT G20 di Nusa Dua.

“Saya terus terang tidak tahu lagi kalau waktu itu tidak ada online,” jelasnya wanita asal Sumatra Utara ini.

Tarii menegaskan produknya segmen daring kini berkontribusi besar terhadap penjualan Feodora selain di butik yang berlokasi di Ubud. Permintaan di Feodora kini mencapai 100 produk per bulan. Namun, Tarii memilih membatasinya karena alasan ingin mempertahankan kualitas produk buatan tangan. Kini dirinya juga semakin menseriusi menggarap segmen online. Agar tidak tertinggal dari digitalisasi, situs kembali diaktifkan. Untuk aktivasi di Instagram juga akan kembali ditingkatkan karena banyaknya pertanyaan yang masuk.

Saat ini, pangsa pasarnya lebih banyak masyarakat dari mancanegara. Adapun pasar di nasional masih sangat minim karena sentimen harga. Tarii mengakui Feodora Ubud selektif memilih pasar online karena lebih menyasar level menengah atas. Keputusan menyasar ceruk tersebut karena ingin produknya dihargai, dan memberikan edukasi masyarakat bahwa produk lokal juga bisa bersaing dengan merek dari luar negeri.

Pembeli lokal menurutnya sudah mulai harus sadar bahwa produk dalam negeri yang dibuat dengan standar kualitas tinggi harus dihargai. Terlebih lagi, produknya dibuat menggunakan tangan yang tidak bisa diproduksi secara massal.

Digitalisasi yang dilakukan Feodora merupakan kunci untuk bertahan. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali mencatat, saat Pandemi Covid-19 banyak UMKM di Bali terdampak. Namun ada sebagian usaha kecil yang justru bisa tetap bertahan dan bertumbuh. Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali mencatat, pada periode 2021, ada sekitar 87,5 persen atau sebanyak 2.600 pelaku UMKM di daerah ini terdampak. Sektor bisnisnya bervariatif seperti jasa, kreatif, kuliner dan fashion, pariwisata serta otomotif.

Akan tetapi masih ada 12,5 persen atau sekitar 370 pelaku UMKM bisa bertahan. Mereka yang bisa tumbuh tersebut adalah usaha mikro dan kecil seperti Feodora Bali karena memilih strategi khusus seperti menerapkan digitalisasi (online) dalam pemasaran maupun transaksi, melakukan penambahan produk yang bisa terjangkau masyarakat luas. Khususnya untuk segmen bisnis seperti tekstil yang menyasar kalangan masyarakat menengah.

Strategi lainnya yakni memasarkan secara ritel sehingga bisa menjangkau segmen lebih luas. Usaha kecil juga mulai efisien untuk menekan biaya dengan memanfaatkan online. Bentuk realisasinya seperti menutup tiga toko dan menggantinya dengan tiga toko di ranah digital.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali Trisno Nugroho, cara seperti itu cukup ampuh menahan dampak negative Pandemi Covid-19. “Intinya adaptif, harus mengadopsi digital untuk bertahan. Paska pandemi, digitalisasi tinggal melanjutkan saja,” jelasnya.

Direktur Utama BRI Sunarso pada akhir tahun lalu mengatakan bahwa UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur merupakan inisiatif BRI untuk memperkenalkan keunikan UMKM dan produknya yang memiliki daya saing tinggi.

Menurutnya UMKM harus banyak mendapatkan kesempatan agar dapat melakukan ekspor dan masuk pasar internasional karena UMKM saat ini merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Program ini menjadi salah satu langkah konkret BRI sebagai lembaga keuangan yang turut bertanggung jawab memajukan UMKM Indonesia. BRI melihat adanya peluang besar bagi produk Indonesia untuk masuk ke pasar global. 

“Hasil karya anak bangsa dinilai memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan produk dari negara-negara lain,” ujar Sunarso melalui keterangan tertulis.

1687238604_596a92fe-de78-473c-83af-d8e9930c2b12.
1687238604_596a92fe-de78-473c-83af-d8e9930c2b12.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Feri Kristianto
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper