Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merger 12 BPR di NTB Tuntas, Begini Kata OJK

Kepala OJK Provinsi NTB, Rico Rinaldy, menjelaskan tuntasnya merger 12 BPR tersebut setelah lima tahun diproses merupakan kemajuan yang positif bagi industri perbankan di NTB.
Harian Noris Saputra
Harian Noris Saputra - Bisnis.com 18 Juni 2022  |  11:16 WIB
Ilustrasi aksi korporasi, termasuk merger dan akuisisi. - Freepik.com
Ilustrasi aksi korporasi, termasuk merger dan akuisisi. - Freepik.com

Bisnis.com, MATARAM – Merger 12 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Provinsi Nusa Tenggara Barat tuntas dilakukan pada 2022 setelah 12 BPR tersebut digabungkan menjadi tiga BPR.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan Provinsi NTB mencatat, 12 BPR yang melakukan merger antara lain PT BPR Kabalong Abdi Swadaya yang merger dengan PT BPR Samas dan berganti nama menjadi PT BPR Kabalong Abdi Swadaya, kemudian PT BPR Dana Master Surya yang merger dengan PT BPR Tanjung Abdi Swadaya, kemudian berganti nama menjadi PT BPR Dana Master Lotara.

Merger BPR paling besar dilakukan oleh 8 BPR milik pemerintah daerah di NTB yakni PD BPR NTB Sumbawa, PD BPR NTB Lombok Tengah, PD BPR NTB Lombok Barat, PD BPR NTB Lombok Timur, PD BPR NTB Bima, PD BPR NTB Dompu, PD BPR NTB Sumbawa, PD BPR NTB Sumbawa Barat, dan PD BPR NTB Mataram. 8 BPR tersebut menjadi satu dengan nama PD BPR NTB Mataram.

Kepala OJK Provinsi NTB, Rico Rinaldy, menjelaskan tuntasnya merger 12 BPR tersebut setelah 5 tahun diproses merupakan kemajuan yang positif bagi industri perbankan di NTB. “Merger ini berlangsung lama, dan bisa tuntas seluruhnya pada 2022 ini setelah lima tahun diproses, tentu lamanya proses tersebut karena berbagai dinamika di internal mereka, dan kami dari OJK melakukan prosedur yang ketat dalam proses merger ini,” jelas Rico di Sumbawa, Jumat (17/6/2022).

PT BPR NTB Mataram setelah merger berpotensi menjadi BPR dengan aset terbesar, saat ini modal PT BPR NTB Mataram setelah merger mencapai Rp250 miiar. BPR ini ditargetkan menjadi BPR Syariah, tetapi menurut Rico jalan menuju syariah masih panjang, karena harus berubah dari Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas (PT).

“Kalau dikonversi ke BPR Syariah tentu ada tahapan yang harus dilewati, harus menjadi PT terlebih dahulu, kemudian syarat-syarat administrasi dan potensi pasarnya seperti apa,” ujar Rico.

Sementara itu, aset BPR di NTB hingga April 2022 mencapai Rp2,69 triliun atau tumbuh 8,43 persen secara tahunan. Penyaluran kredit BPR di NTB hingga April 2022 juga tumbuh 7,29 persen dengan nilai Rp2,04 triliun, dengan jumlah 69.259 kreditur. Dana Pihak Ketiga (DPK) di BPR juga tumbuh 17,06 persen dengan nilai Rp1,9 triliun.

Menurut Rico pertumbuhan DPK BPR di NTB lebih tinggi dari pertumbuhan DPK BPR di tingkat nasional yang tumbuh 11,35 persen. “Performance BPR di NTB masih sehat dan bagus secara umum, walaupun NPL nya 9,73 persen tetapi masih bisa dikendalikan,” kata dia. (C211).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpr merger ntb
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top