Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

NTB Fokus Kembangkan Industri Pengolahan

Komoditas ekspor yang berpotensi seperti vanili, sarang burung walet harus diolah terlebih dahulu di NTB.
Vanili, salah satu komoditas ekspor dari NTB./Ist
Vanili, salah satu komoditas ekspor dari NTB./Ist

Bisnis.com, MATARAM - Pengembangan industri pengolahan akan menjadi fokus Pemprov Nusa Tenggara Barat pada 2022 untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Pemprov NTB akan mengurangi pengiriman bahan baku mentah ke luar daerah maupun ke luar negeri yang menjadi komoditas ekspor. Bahan baku yang potensial menjadi komoditas ekspor harus diolah terlebih dahulu menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi.

Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah menjelaskan perlu inovasi pada 2022 untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi 6 persen seperti yang diproyeksikan oleh Bank Indonesia.

"Kami optimistis bisa tumbuh 6 persen, indikatornya mendukung untuk pertumbuhan ekonomi di sektor ekonomi kreatif, perkebunan. Kuncinya perlu inovasi bagaimana bahan baku yang potensi bisa diolah di NTB sehingga kita dapat add value atau nilai tambah seperti yang diarahkan pak Presiden," jelas Rohmi, Kamis (26/11/2021).

Komoditas ekspor yang berpotensi seperti vanili, sarang burung walet harus diolah terlebih dahulu di NTB sebelum diekspor ke luar negeri. "Ekspor vanili masih sangat luas potensinya, NTB baru bisa penuhi 10 persen permintaan vanili dari luar negeri. Vanili harus diolah dulu misalnya menjadi powder, jangan hanya diekspor mentah, jadi NTB mendapat nilai tambah," ujar Rohmi.

Kepala Kantor Perwakilan BI NTB Heru Saptaji menjelaskan pada 2022 BI akan melakukan intervensi untuk meningkatkan penanaman dan pengolahan vanili dan sarang burung walet.

"Kami akan lakukan intervensi secara all out, karena vanili dan sarang burung walet nilai ekspornya sangat menjanjikan. Termasuk pengolahannya akan kami intervensi sehingga lebih produktif," jelas Heru.

Heru juga menjelaskan NTB sudah mendapat izin ekspor komoditas secara langsung ke luar negeri tanpa harus melalui proses administrasi ke daerah lain seperti Bali dan Surabaya.

"Saat NTB sudah bisa ekspor komoditas langsung atas nama NTB, kalau sebelumnya komoditasnya dari NTB tapi atas nama daerah lain. Oleh sebab itu saat ini komoditasnya dan pengolahannya yang harus ditingkatkan, agar nilai tambah bagi NTB terus meningkat," kata dia.

Sebagai informasi, BPS NTB mencatat pada kuartal III/2021, dari sisi lapangan usaha pengolahan mengalami pertumbuhan tertinggi sejumlah 46,53 persen (Q to Q). Sejak 2020, NTB memang fokus pada industrialisasi berbasis Industri Kecil dan Menengah (IKM) pada berbagai sektor lapangan usaha. Di sektor pertambangan, NTB juga menjadi lokasi pembangunan smelter untuk mengolah hasil pertambangan di AMNT Sumbawa Barat. Smelter tersebut ditarget beroperasi pada 2024. (K48)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Miftahul Ulum

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper