Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perajin Perak di Bali Raup Keuntungan dari Momen Pandemi, Begini Terobosannya

Gantungan masker dari bahan nonperak ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Luh Putu Sugiari
Luh Putu Sugiari - Bisnis.com 22 Januari 2021  |  03:03 WIB
Gantungan masker dari Bara Silver.
Gantungan masker dari Bara Silver.

Bisnis.com, DENPASAR - Meski dilanda Pandemi Covid-19, perajin perak di Bali tidak kehabisan inovasi untuk tetap menjalankan bisnisnya dengan membuat gantungan masker yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Perajin Perak Binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Putu Sudi Adnyani mengatakan permintaan gantungan masker dari bahan nonperak dalam waktu satu hari dapat mencapai 600 buah dengan harga mulai dari Rp25.000 - Rp35.000.

Sedangkan untuk gantungan masker dari perak senilai Rp1 juta - Rp1,2 juta tetap diproduksi, hanya saja permintaannya tidak sebanyak produk berbahan nonperak.

"Gantungan masker dari bahan nonperak ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, yang dari bahan perak tetap ada yang membeli tapi jumlahnya tidak terlalu banyak," tutur pemilik Bara Silver ini saat dihubungi Bisnis, Kamis (21/1/2021).

Menurutnya, saat ini permintaan gantungan masker masih didominasi oleh pekerja kantoran, sehingga pernak pernik yang digunakan dapat seragam. Meski di sisi lain, di pasaran banyak yang menawarkan produk serupa dengan harga sekitar Rp5.000, namun dia tidak gentar karena memiliki desain dan kualitas produk yang lebih baik.

"Kami punya desain sendiri, bahannya juga bahan pilihan, sehingga tidak begitu takut dengan persaingan di luar," katanya.

Disinggung mengenai dampak pandemi terhadap usaha peraknya, wanita asal Celuk Sukawati ini menjelaskan bahwa permintaan produk kerajinan dari perak menurun secara drastis karena ekonomi masyarakat Bali sangat terdampak Covid-19.

Sedangkan untuk menyiasatinya hal tersebut, pihaknya tetap membuat kerajinan dari bahan logam lain seperti alpaka, kuningan, dan tembaga, sehingga 30 orang pengrajin logam yang bekerjasama dengannya masih tetap dapat berproduksi.

Selain gantungan masker, dia juga membuat kalung, cincin, dan bros dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat dalam keadaan ekonomi yang tidak menentu ini.

"Dulu produksi perak dibandingkan non perak sebesar 50 banding 50, kalau sekarang produksi dari non perak mendominasi hingga 80 persen," tambahnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali perak
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top