Bali Waspadai Kenaikan Harga Pangan Setelah Berakhirnya Musim Panen

Pada Desember 2023, risiko yang perlu diwaspadai antara lain potensi kenaikan harga gula pasir sejalan dengan kenaikan harga di pasar internasional.
Ilustrasi inflasi atau kenaikan harga bahan-bahan pokok./Bisnis-Himawan L Nugraha.
Ilustrasi inflasi atau kenaikan harga bahan-bahan pokok./Bisnis-Himawan L Nugraha.

Bisnis.com, DENPASAR – Bank Indonesia mencatat akan ada sejumlah kenaikan harga komoditas penting di Bali pada Desember 2023 yang patut diwaspadai karena berdampak ke pengendalian inflasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja, mengatakan pada Desember 2023, risiko yang perlu diwaspadai antara lain potensi kenaikan harga gula pasir sejalan dengan kenaikan harga di pasar internasional, potensi berlanjutnya kenaikan harga komoditas hortikultura seiring dengan berakhirnya musim panen.

“Kenaikan harga komoditas tersebut penting untuk diwaspadai dan antisipasi agar inflasi di Bali tetap berada di rentang 3±1% sesuai dengan target nasional,” jelas Erwin dikutip dari siaran pers, Senin (4/12/2023).

Selain kenaikan komoditas hortikultura, Erwin menyebut yang patut diwaspadai adalah potensi kenaikan tarif angkutan udara. Harga tiket pesawat dari maupun ke Bali diproyeksikan naik imbas dari meningkatnya permintaan pada periode libur Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) natal dan tahun baru 2024. 

Harga canang sari juga berpotensi mengalami kenaikan karena adanya peningkatan permintaan untuk upacara keagamaan di Bali. Laju inflasi Bali akan tertahan oleh turunnya harga komoditas bensin atau BBM non subsidi per 1 Desember 2023 rata-rata penurunan sebesar -3,41%. Selain itu, penurunan harga CPO di pasar global diperkirakan berdampak pada penurunan harga minyak goreng dan komoditas yang berbahan baku CPO.

Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, tekanan harga gabungan dua kota di Provinsi Bali (Denpasar dan Singaraja) pada November 2023 tercatat inflasi sebesar 0,41% (mtm). Tekanan inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,18% (mtm) dan inflasi nasional pada periode yang sama sebesar 0,38% (mtm). 

Walau lebih tinggi, inflasi tersebut masih terkendali yang tercermin dari inflasi secara tahunan sebesar 2,77%, terjaga pada rentang sasaran 3±1%. Berdasarkan komoditasnya, inflasi pada November 2023 terutama bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, beras, emas perhiasan, dan jeruk. Kenaikan harga komoditas hortikultura terutama disebabkan oleh penurunan pasokan seiring dengan berakhirnya musim panen raya. 

Sementara kenaikan harga beras disebabkan oleh terbatasnya produksi padi pada panen raya periode Oktober – November 2023. Kenaikan harga emas perhiasan didorong oleh kenaikan harga emas di pasar internasional. Di sisi lain, komoditas penyumbang deflasi adalah telur ayam ras, canang sari, angkutan udara, bensin, dan daging ayam ras.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper