Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Kerajinan Perak Bali Masih Berkilau

Ekspor kerajinan perak lainnya, yang berbentuk satuan justru naik secara nilai sebesar 12,66 persen yoy pada kuartal III/2021 menjadi US$15,9 juta.
Perajin perak di Gianyar Bali./Youtube
Perajin perak di Gianyar Bali./Youtube

Bisnis.com, DENPASAR — Ekspor perak Bali mampu tumbuh di tengah penurunan penjualan yang terjadi pada produk kerajinan lainnya.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, secara volume, ekspor kerajinan perak Bali dalam bentuk kilogram mengalamai kenaikan hingga 2.882,93 persen pada kuartal III/2021 dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy) menjadi 21.715 kilogram. Namun, jika dibandingkan secara nilai, ekspor kerajinan perak dalam satuan kilogram menurun sebear 52,46 persen yoy per kuartal III/2021.

Ekspor kerajinan perak lainnya, yang berbentuk satuan justru naik secara nilai sebesar 12,66 persen yoy pada kuartal III/2021 menjadi US$15,9 juta.

Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Bali, Ketut Dharma Siadja, mengatakan ekspor kerajinan perak, memang cukup berjaya saat ini sebagai imbas dari perang dagang China dan Amerika Serikat. Saat ini, produsen kerajinan perak di Bali dibanjiri permintaan perak dari Amerika Serikat.

"Perak lagi bagus, kita dapat limpahan," katanya kepada Bisnis, Rabu (17/11/2021).

Sementara itu, sebagian besar ekspor kerajinan Bali seperti kerajinan anyaman, kerajinan bambu, kerajinan batu padas, kerajinan furnitur, kerajinan kayu, kerajinan kerang, maupun kerajinan lukisan mengalami penurunan ekspor.

Menurutnya, kondisi pandemi Covid-19, memang telah menurunkan jumlah pemesanan produk kerajinan Bali di luar negeri. Apalagi, hal ini ditambah dengan tingginya biaya kontainer dan jadwal pengiriman yang tidak menentu.

"Secara overall turun, orang-orang juga masih simpan uang mereka karena ketidakpastian," sebutnya.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Ni Wayan Lestari, mengatakan jika dilihat berdasarkan permohonan surat keterangan asal (SKA), permintaan produk kerajinan di Bali masih tinggi. Namun, akibat kelangkaan kontainer dan mahalnya biaya logistik, menjadi pertimbangan buyer dalam mengimpor produk kerajinan dari Bali.

"Karena biaya logistik mahal akibat kelangkaan kontainer ini yang jadi pertimbangan buyer," sebutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper