Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Skala Usaha Pertanian Bali Tak Menarik bagi Investor

Pertanian Bali dengan skala ekonomi kecil juga cenderung tidak menarik bagi investasi industri hilir. Seperti industri hilir kopi yang banyak dilakukan dalam skala rumah tangga. Maka untuk menggaet investasi besar dirasa akan sulit.
Luh Putu Sugiari
Luh Putu Sugiari - Bisnis.com 08 April 2021  |  15:17 WIB
Lanskap Bali terlihat dari kawasan Ungasan, Badung, Bali, Minggu (14/3/2021). - Antara/Fikri Yusuf.
Lanskap Bali terlihat dari kawasan Ungasan, Badung, Bali, Minggu (14/3/2021). - Antara/Fikri Yusuf.

Bisnis.com, DENPASAR - Kesenjangan pembangunan infrastruktur sektor pertanian dengan pariwisata di Bali menjadikan sektor agribisnis tidak menarik minat para investor.

Akademisi Program Studi Agribisnis Universitas Udayana Made Sarjana mengatakan infrastruktur jalan dan mesin di kawasan pertanian belum banyak tersedia, sehingga nilai pengadaannya menjadi tinggi bagi para investor. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memahami industri hilir juga belum banyak menarik minat petani.

"Seringkali industri hilir pertanian tidak berkelanjutan pengelolaannya karena SDM petani yang memiliki keterampilan yang sesuai jumlahnya minim," kata dia kepada Bisnis, Kamis (8/4/2021).

Lebih lanjut, sambungnya, pertanian Bali dengan skala ekonomi kecil juga cenderung tidak menarik bagi investasi industri hilir. Seperti industri hilir kopi yang banyak dilakukan dalam skala rumah tangga. Maka untuk menggaet investasi besar dirasa akan sulit.

"Terlebih lagi investor tidak mau berinvestasi dengan pasokan bahan baku terbatas," tuturnya.

Menurut Sarjana, kesinambungan pasokan bahan baku juga terkadang menjadi masalah karena berbagai faktor. Terutama komoditas pertanian yang diusahakan petani selalu berubah, misalnya karena saat ini banyak petani yang membudidayakan komoditas porang. Namun belum ada jaminan usaha porang yang menguntungkan dan berkelanjutan.

"Jadi perlu kajian dan kerja sama lebih detail antara kelompok tani dan pihak pemodal perlu dibuat untuk meminimalkan resiko ketidakpastian usaha," tambahnya.

Dari sisi lain, program pembangunan pertanian banyak yang tidak berkelanjutan. Meski sebelumnya pengembangan Simantri sempat menjadi harapan baru. Tapi saat ini Simantri yang pernah mendapatkan juara tidak aktif setelah beberapa tahun berjalan.

"Ini sebabnya saya ragu momen adanya pandemi untuk mendorong kinerja pertanian tetap akan sulit untuk dapat menggaet investasi," jelas Sarjana.

Seperti diketahui, pengembangan ekonomi di Bali cenderung didukung oleh sektor tersier yakni pariwisata tanpa memiliki pondasi sektor sekunder berupa industri pengolahan atau hilirisasi pertanian yang memadai.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menilai Pulau Dewata terlalu cepat mengembangkan sektor tersier yakni pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi, sektor sekunder berupa industri pengolahan di Bali sangat minim pengembangan.

Padahal, menurutnya secara teori, suatu negara aka maju jika telah melewati fase industrialisasi terlebih dahulu sebelum bertumpu pada sektor jasa seperti pariwisata. Hal yang terjadi Di Bali adalah pengembangan ekonomi dari fase sektor primer yakni pertanian langsung melompat ke sektor tersier atau jasa seperti pariwisata.

"Bali tidak punya industri modern, pertanian yang modern, dan pengolahan yang modern kita belum banyak, sedangkan pengembangan pariwisata sangat cepat. Jadi kita sangat ketinggalan di sektor industrialisasi," katanya, Kamis (8/4/2021).

Menurutnya, karena terlalu bertumpu pada sektor tersier yakni pariwisata, perekonomian Bali sangat rentan. Padahal, Bali untuk mendukung sektor pariwisata seharunya memuliki food station maupun rice milling unit untuk memproduksi beras tanpa melakukan impor dari provinsi lain.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali pertanian
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top