Studi Kelayakan PLTSa TPA Suwung Mulai Dikerjakan, Target Rampung Pertengahan 2019

Studi kelayakan atau Feasibility Study untuk pengerjaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di TPA Suwung mulai dikerjakan dan ditarget rampung pertengahan 2019.
Ni Putu Eka Wiratmini | 13 Februari 2019 18:17 WIB
Studi Kelayakan PLTSa TPA Suwung Mulai Dikerjakan - BISNIS/Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR – Studi kelayakan atau Feasibility Study untuk pengerjaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di TPA Suwung mulai dikerjakan dan ditarget rampung pertengahan 2019.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis PT Indonesia Power Erwin Putranto mengatakan PT Waskita Karya telah terpilih sebagai strategic partner atau mitra untuk pengerjaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Suwung.

Joint venture company antara Indonesia Power dan Wakita Karya ini akan menarget pengerjaan FS selama enam bulan sehingga proyek pengerjaan PLTSa tersebut dapat segera rampung.

FS tersebut diharapkan mampu memerinci masalah komposisi sampah, keberlangsungan pengiriman sampah, hingga anggaran yang diperlukan.

Setelah itu, Detail Engineering Design (DED) akan mulai dikerjakan dan diharapkan proyek pembangunan PLTSa TPA Suwung mulai dikerjakan pada 2020. Sementara, PLTSa tersebut ditarget beroperasi pada 2022.

Start bangunnya kalau bisa kita buat lebih cepat,” kata Erwin kepada Bisnis, Rabu (13/2/2019).

Direktur Teknik dan BD PT Waskita Karya Energi Hokkop Situngkir mengatakan berdasarkan kajian pra-FS, pertumbuhan sampah di TPA Suwung setiap tahunnya mencapai 4%.

Apabila pengerjaan pembangunan mampu dilakukan selama 3 tahun, PLTSa ini diyakini mampu mengatasi laju pertumbuhan sampah di TPA Suwung.

“Sekarang menurut penjelasan yang kami terima, pertumbuhan sampah datang terus ke TPA Suwung, sementara lahan yang tersedia berkurang, secara teknis pengolahan sampah ingin dipercepat,” kata Hokkop.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan pihaknya mengharapkan penyelesaian masalah sampah di TPA Suwung dapat segera berakhir lewat proyek PLTSa tersebut. Target pembangunan PLTSa pada 2010 diharapkannya mampu dipercepat menjadi 2019 akhir.

Menurut Koster, dengan kehadiran dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini maka tipping fee atau bayaran membuang sampah kemungkinan dapat dihindari. Setelah proyek PLTSa ini rampung, Bali menargetkan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, terutama dari rumah tangga dan desa.

“Sekarang gak akan gagal karena yang mengerjakan BUMN, kalau swasta kan minta tipping fee,” kata Koster.

Berdasarkan data yang diterima Bisnis dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bali, rata-rata TPA Suwung menerima 1.700 ton sampah dalam sehari. Jumlah ini masih fluktuatif tergantung pelaksanaan hari raya maupun liburan. Jika proyek PLTSa ini terealisasi, 1.700 ton sampah tersebut diprediksi menghasilkan 10 MW listrik.

Tag : bali, pltsa
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top