Denpasar Dukung Mitigasi Bencana Untuk Cagar Budaya

Pemkot Denpasar mendukung mitigasi bencana untuk pelestarian cagar budaya dikarenakan jumlahnya sangat banyak dan berada di daerah rawan bencana.
Feri Kristianto | 15 Desember 2018 21:45 WIB

Bisnis.com, DENPASAR--Pemkot Denpasar mendukung mitigasi bencana untuk pelestarian cagar budaya dikarenakan jumlahnya sangat banyak dan berada di daerah rawan bencana.

Sekda Denpasar AAN Rai Iswara menyampaikan Pemerintah Kota Denpasar terus konsisten dalam pelertarian kebudayaan khususnya cagar budaya.

Hal ini dibuktikan dengan diterbitkannya Perda No. 12/2015 tentang Pengelolaan Cagar Budaya sebagai regulasi perlindungan, pemanfaatan dan pembinaan Cagar Budaya di Kota Denpasar.

“Saat ini Cagar Budaya di Kota Denpasar yang telah terdata per Tahun 2018 kurang lebih sebanyak 300, baik itu situs, benda, bangunan, struktur dan kawasan cagar budaya,” jelas Rai Iswara dalam diskusi bertema “Mitigasi Bencana Dalam Pelestarian Cagar Budaya Di Bali”, Sabtu (15/12/2018).

Berbagai cagar budaya di Denpasar seperti arca-arca bercorak megalitik di Pura Ayun dan Pura Sukun Peguyangan serta ditemukannya Prasasti Blanjong Sanur yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 835 Saka (913 Masehi).

Selain itu muncul pengaruh Majapahit dengan adanya bangunan bercirikan batu bata merah seperti bangunan cagar budaya Pura Maospahit Tonja dan Pura Maospahit Gerenceng serta adanya kerajaan-kerajaan besar di Denpasar seperti Puri Kesiman, Puri Pemecutan, dan Puri Denpasar.

Menurutnya, Wakil Walikota Denpasar sangat mendukung pelaksanaan kegiatan mitigasi bencana pelestarian cagar budaya yang dilaksanakan. Hal itu tak terlepas dari peran penting dalam nilai sejarah, pengetahuan, agama dan kebudayaan.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali (BPCB) I Wayan Muliarsa mengatakan diskusi yang mengambil tema “Mitigasi Bencana Dalam Pelestarian Cagar Budaya Di Bali” ini diharapkan mampu menanamkan ideologi  pelestarian warisan leluhur dengan cara perencanaan-perencanaan penyelamatan Cagar Budaya jika dipandang terancam oleh bencana.

Kerusakan (kepunahan) cagar budaya tidak saja karena ulah manusia, tetapi juga oleh alam yang tidak bisa dibendung. Maka dari itu sangat penting strategi-strategi mitigasi bencana alam upaya pelestarian Cagar Budaya.

“Mengingat lokasi cagar budaya berada di daerah rawan bencana seperti di Bali, maka dari itu sangat perlu diadakannya diskusi seperti ini. Dengan adanya diskusi ini kami berharap dapat menemukan berbagai cara-cara mencegah maupun mengambil langkah ketika terjadi bencana di dalam melestarikan cagar budaya tersebut,” ujar Muliarsa.

Tag : mitigasi bencana, denpasar, Cagar Budaya
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top