Turis ke Bali Hanya Naik 6,58%, Ini Diduga Penyebabnya

Terjadinya bencana yang mendera Tanah Air diprediksi menjadi penyebab tingkat kunjungan wisman pada periode Januari-Oktober 2018 ke Bali hanya tumbuh 6,58%.
Feri Kristianto | 23 November 2018 22:00 WIB
Delegasi peserta Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 menonton atraksi budaya di salah satu destinasi wisata di Gianyar, Bali, Sabtu (13/10). - Bisnis/Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, DENPASAR - Terjadinya bencana yang mendera Indonesia diprediksi menjadi penyebab tingkat kunjungan wisman pada periode Januari-Oktober 2018 ke Bali hanya tumbuh 6,58%.

Wakil Ketua IHGMA Bali I Made Ramia Adnyana mengatakan butuh waktu lama kunjungan wisman ke destinasi kembali normal. Dia memprediksi paling cepat sekitar 4-5 bulan ke depan, kunjungan wisman ke destinasi ini akan meningkat hingga dua digit seperti dua tahun lalu.

"Implikasinya cukup besar terutama seperti bencana erupsi Gunung Agung. Kemudian rebound juga butuh waktu lama dan tidak bisa langsung," jelasnya, Jumat (23/11/2018).

Selama periode Januari-Oktober, Bali dikunjungi sebanyak 5,2 juta wisman dengan China masih menjadi negara penyumbang terbesar mencapai 23,47% dari total kunjungan. Ramia memprediksi tahun depan, kunjungan ke Bali masih hanya akan tumbuh di atas 6%.

Angka pertumbuhan itu diakuinya belum signifikan, disebabkan banyaknya tantangan yang harus dihadapi daerah ini. Kendati demikian, harapan untuk tumbuh lebih tinggi juga dimungkinkan karena dibukanya sejumlah jalur penerbangan langsung ke Bali seperti dari Moskow.

Selain itu, dampak pelaksanaan IMF-World Bank Annual Meeting juga akan dirasakan mulai 2019. Ramia menyatakan, pelaksanaan MICE berpotensi memberikan pengaruh jangka panjang.

"Seperti kemarin ada kunjungan Menpar Zansibar, itu setelah presidennya tahun lalu datang ke sini," ungkapnya.

Tenaga Ahli Menpar Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Gde Pitana mengaku terkejut dengan tingkat pertumbuhan kunjungan wisman ke Bali. Dia menduga penyebabnya adalah terbatasnya kapasitas pintu masuk yakni Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Solusi untuk mengatasi masalah ini dengan menambah bandara atau runway. Sebab, dia mengakui permintaan penerbangan langsung ke Bali sangat banyak tetapi tidak semua dapat dilayani dikarenakan terbatasnya landasan.

"Saya dengar permintaan sangat tinggi, bahkan di atas daya tampung. Turis ke sini 80% lewat bandara, kalau jembatan [pintu masuk] sudah tidak bisa tentu harus tambah," ujarnya.
 
 

Tag : bali, turis
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top