Rainbow Warrior Sandar di Benoa Tolak PLTU Celukan Bawang

Oleh: Feri Kristianto 13 April 2018 | 17:32 WIB
Kapal Rainbow Warrior disembahyangi ketika tiba di Pelabuhan Benoa

Bisnis.com, DENPASAR—Kapal Ksatria Pelangi atau Rainbow Warrior kembali merapat ke Pelabuhan Benoa, Denpasar untuk membawa pesan keseimbangan alam dan kehidupan manusia.

Kedatangan kapal legendaris yang kedua kalinya ke Bali ini untuk memberikan dukungan terhadap Pulau Dewata dari ancaman kerusakan lingkungan. Kapal berbendara Belanda ini selama di Benoa akan dibuka untuk umum pada 14-15 April.

Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak mengatakan kedatangan kapal berbobot 800 GT dan sebelumnya mengunjungi Sorong ini sebagai ajang untuk saling memperkuat.

“Kami tahu ada kekhawtiran keprihatian terhadap Bali yang kami yakini Rahmat Tuhan Maha Kuasa keindahan budaya alam lingkungan yang menjadi pilar utama pembangunan di Bali. Kami punya kekhawatiran akan beberapa hal yang akan merusak ke depan,” jelasnya di Pelabuhan Benoa.

Dia menegaskan Bali sebenarnya sudah disiapkan sebagai provinsi yang dipenuhi energi terbarukan. Greenpeace Indonesia ingin memperkuat rencana itu sekaligus sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pembangunan energi bersumber dari batubara. Di Celukan Bawang Kabupaten Buleleng rencananya akan dibangun PLTU dengan kapsitas 2x330 MW.

“Kami ingin perkuat semua untuk menyatakan tidak kepada energi yang kotor seperti batubara yang seharusny tidak punya tempat di Bali. Kita ingin suarakan dukungan kami menyediakan ajang platform wahana bersama suarakan ketidaksetujuan untuk merusak wilayah suci di Teluk Benoa,” paparnya.

Dia menegaskan kehadiran Rainbow Warrior sebagai wujud mendukung Bali untuk berkontribusi secara signifikan terhadap dunia perubahan iklim dan dampaknya. Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika menambahkan ada tiga isu penting yang ingin mereka suarakan di Bali

“Isu energi bagaimana pemprov bali dan nasional secepatnya bali go renewable dan tinggalkan energi kotor. Kami juga mendukung Forbali dan kampanye bahaya sampah plastik,” jelasnya.

Kapten Kapal Rainbow Warrior Hettie Geenen mengatakan sebelumnya kapal berhasil mendokumentasikan keindahan hutan di Papua. Saat perjalanan, sebenarnya ada rencana mengubah perjalanan ke Balikpapan setelah mendengar ada tumpahan minyak.

Namun rencana itu urung direalisasikan karena waktu yang dimiliki di Indonesia tidak lama.

“Akhirnya kami putuskan ke Bali dan sadar bahwa kami harus menyebarkan penyelamatan lingkungan. Balikpapan merupakan contoh kasus yang disebabkan oleh manusia. Kami berdiri disini dan sadar bahwa sebagai bentuk kepedulian kita untuk suarakan lingkungan,” jelasnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya