Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Krisis Air Bersih Ancam Pariwisata Gili Meno

Krisis air bersih yang melanda kawasan pariwisata Gili Meno di Kabupaten Lombok Utara berdampak buruk ke sektor pariwisata dan masyarakat.
Akses air bersih dan sanitasi penting bagi kehidupan./Dok. Habitat for Humanity Indonesia
Akses air bersih dan sanitasi penting bagi kehidupan./Dok. Habitat for Humanity Indonesia

Bisnis.com, DENPASAR - Krisis air bersih yang melanda kawasan pariwisata Gili Meno di Kabupaten Lombok Utara berdampak buruk ke sektor pariwisata dan masyarakat yang tinggal di Gili tersebut. 

Pelaku pariwisata di Gili Meno mulai mengeluh karena krisis air bersih mengganggu aktivitas pariwisata. Suplai air ke hotel dan restoran menurun drastis.

Ketua Gili Hotel Asosiasi (GHA) Lalu Kusnawan menjelaskan beberapa kali air di hotel mati total karena tidak ada suplai. Dampaknya wisatawan yang menginap kecewa karena tidak ada air yang digunakan untuk mandi dan keperluan lainnya.

Kusnawan menyebut seharusnya krisis air di Gili Meno tidak perlu terjadi jika semua pihak berwenang mulai dari Pemerintah dan pihak terkait lainnya bisa duduk bersama tanpa mengorbankan pelayanan dasar seperti air.

"Kami meminta pemerintah segera menyelesaikan persoalan ini, Pasalnya ini merupakan pelayanan publik yang harus diutamakan, karena air menjadi kebutuhan. Jika tidak ada air maka bagaimana hotel bisa menerima tamu berkunjung," jelas Kusnawan saat dikonfirmasi media, Kamis (6/6/2024). 

Kusnawan menyebut hotel terancam tidak bisa lagi menerima tamu karena krisis air. Jika terjadi, akan menjadi preseden buruk bagi pariwisata Gili Meno, wisatawan tidak mau lagi berkunjung jika air tidak ada. Dampaknya dalam jangka panjang walaupun air sudah tersedia, butuh waktu untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan ke Gili Meno.

Sebagai solusi sementara, pihak hotel membeli air dari luar Pulau, akan tetapi harganya sangat mahal, pihak hotel harus mengeluarkan biaya hingga Rp2,5 juta untuk memenuhi kebutuhan air di hotel. Kusnawan menyebut hotel tidak bisa terus menerus membeli air dari luar pulau karena sangat memberatkan operasional. 

Krisis air berawal dari kisruh pengelolaan air bersih di kawasan Gili Meno. Sebelumnya pengelolaan air dilakukan oleh swasta PT. Berkat Air Laut (BAL) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT.Gerbang NTB Emas (GNE). Akan tetapi dua pengelola ini dinilai menyalahi regulasi, bahkan dua pejabat utama di perusahaan tersebut sudah ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi NTB dan ditahan. Setelah PT.BAL dan PT.GNE tidak beroperasi, pasokan air mulai terganggu.  

Pengelolaan air beralih ke PT. Tiara Cipta Nirwana (TCN) yang bekerjasama dengan PDAM Amerta Dayan Gunung, milik Pemkab Lombok Utara, akan tetapi tidak menyelesaikan persoalan karena masyarakat keberataan dengan tarif air dari dua investor baru yang mereka lebih mahal dari sebelumnya. Masyarakat pun sempat menggelar unjuk rasa di PDAM memprotes masalah air bersih di Gili Trawangan. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, Denda Dewi Tresna Budi mengaku krisis air bersih mulai berdampak ke turunnya kunjungan wisatawan ke Gili Meno. "Kunjungan wisatawan ke Gili Meno turun drastis. Semua hotel dan restoran terdampak krisis air ini," jelas Denda. 

Denda mengaku Pemkab sedang mencari solusi terbaik untuk mengatasi krisis air di Gili Meno. Dia berharap akan cepat teratasi sebelum Juli 2024, karena Juli hingga Agustus merupakan masa high season kunjungan wisatawan ke Gili Meno. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler