Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Sepanjang 2022 Inflasi Bali 5,01 Persen

Pemicu tingginya inflasi di Bali sepanjang 2022 paling besar berasal dari harga yang diatur pemerintah atau administered price seperti kenaikan harga BBM.
Harian Noris Saputra
Harian Noris Saputra - Bisnis.com 02 Januari 2023  |  16:02 WIB
Sepanjang 2022 Inflasi Bali 5,01 Persen
Pengendara sepeda motor melakukan pengisian bahan bakar minyak. - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR – Badan Pusat Statistik Bali mencatat inflasi wilayah setempat dari Januari hingga Desember 2022 mencapai 5,01 persen atau meningkat drastis jika dibandingkan dengan inflasi pada 2021 yang hanya tercatat 1,2 persen.

Inflasi mulai naik di atas 3 persen pada Mei 2022 sejumlah 4,39 persen, kemudian terus naik ke 5 persen hingga paling tinggi 6,99 persen pada Oktober 2022.

Dari catatan BPS Bali, pemicu tingginya inflasi di Bali sepanjang 2022 paling besar berasal dari harga yang diatur pemerintah atau administered price seperti kenaikan harga BBM yang terjadi pada September 2022 yang berdampak terhadap naiknya harga komoditas, transportasi hingga properti.

Kepala BPS Bali, Hanif Yahya menjelaskan kelompok harga yang diatur pemerintah memberi andil inflasi 13,75 persen sepanjang 2022, kemudian diikuti oleh inflasi dari volatile food dan core inflation atau inflasi inti.

“Pada 2022 ada kenaikan harga BBM dan harga tiket pesawat yang menyebabkan inflasi dari administered price tercatat paling tinggi, puncaknya pada Agustus, September hingga November,” jelas Hanif melalui live streaming, Senin (2/1/2023).

Sedangkan inflasi dari volatile food disebabkan oleh naiknya harga sejumlah komoditas strategis yang masih terus berulang seperti kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, telur, tomat, beras, hingga minyak goreng yang sempat langka dan menyebabkan harganya meroket.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari Pemda, Bank Indonesia, belum mampu memberikan solusi jangka panjang untuk pengendalian inflasi dari volatile food, selama 2022 langkah yang dilakukan masih sebatas operasi pasar, penanaman bibit cabai untuk mengendalikan harga.

Agenda pengendalian inflasi jangka panjang seperti peningkatan produktivitas pertanian, Pembentukan Perusahaan Daerah (Perusda) Pangan hingga membuat pasar induk belum terealisasi optimal.

Perusda Pangan yang sudah beroperasi baru dua Kabupaten yakni Tabanan dan Buleleng, Perusda ini diberikan tugas untuk menyerap hasil produk pertanian dengan harga yang sesuai sehingga ketersediaan pangan bisa terjamin dan petani diuntungkan.

Pada 2023 Badung misalnya sudah merencanakan pembangunan pasar induk, untuk pengendalian inflasi juga Badung mempertahankan 9.800 hektare lahan produktifnya.

Sementara itu, inflasi Bali pada Desember 2022 masih berada di angka 6,2 (YoY) persen atau masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama di Desember 2021. Inflasi pada Desember ini disebabkan oleh naiknya harga sejumlah komoditas seperti beras, cabai rawit, tomat emas perhiasan, dan telur ayam ras.

“Harga cabai rawit naik 100 persen pada Desember 2022, kemudian telur ayam ras naik 19 persen, dua komoditas ini memberikan andil inflasi terbesar,” jelas Hanif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi bali
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top