Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ekspor Pertanian Bali Meningkat Rp25,3 Miliar

Walaupun meningkat pada 2022, tetapi nilai ekspor produk pertanian Bali masih belum normal sepenuhnya.
Harian Noris Saputra
Harian Noris Saputra - Bisnis.com 22 Desember 2022  |  18:05 WIB
Ekspor Pertanian Bali Meningkat Rp25,3 Miliar
Dermaga kapal wisata, di Pelabuhan Benoa, Denpasar. - Antara/Nyoman Budhiana
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR – Nilai ekspor produk pertanian Bali hingga November 2022 mencapai Rp119,7 miliar atau meningkat Rp25,3 miliar dibandingkan kinerja 2021 sejumlah Rp93,9 miliar.

Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar mencatat nilai ekspor tertinggi berasal dari peternakan dengan nilai ekspor Rp62,1 miliar. Bali sudah mengekspor 75.757 ekor ternak sepanjang 2022. Nilai ekspor ternak ini meningkat Rp26,3 miliar dibanding dengan ekspor 2021 yang nilainya Rp35,8 miliar.

Nilai ekspor tertinggi selanjutnya berasal dari ekspor komoditas perkebunan dengan nilai Rp49,04 miliar atau meningkat Rp5 miliar dibanding dengan ekspor 2021 yang nilainya Rp44,5 miliar.

Selanjutnya ekspor komoditas hortikultura pada 2022 hanya Rp7,9 miliar, turun Rp5,6 miliar jika dibanding ekspor pada 2021 yang nilainya Rp13,5 miliar. Sepanjang 2022 Bali mengekspor 322,4 ton komoditas hortikultura. Terakhir ekspor komoditas tanaman pangan Bali pada 2022 hanya Rp6 juta, meningkat Rp5,3 juta jika dibandingkan dengan ekspor 2021 yang nilainya Rp1,3 juta.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, I Putu Terunanegara menjelaskan nilai ekspor pertanian Bali mulai meningkat seiring dengan meredanya kasus covid-19 di berbagai negara.

“Walaupun meningkat pada 2022, tetapi nilai ekspor produk pertanian Bali masih belum normal sepenuhnya, ini disebabkan karena masih ada negara tujuan ekspor Bali yang belum kembali normal seperti China, kemudian permintaan sejumlah komoditas dari pasar ekspor belum sepenuhnya normal,” jelas Terunanegara di kantornya, Kamis (22/12/2022)

Faktor lain yang membuat ekspor Bali belum pulih karena kapal yang biasa melayani ekspor dari Bali sebelum pandemi, kini sudah bergeser ke Pelabuhan lain seperti Tanjung Perak Surabaya, dan sampai saat ini belum ada kapal ekspor yang kembali beroperasi ke Pelabuhan Benoa. Dampaknya ekspor komoditas Bali dari jalur laut harus melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dan disaat yang sama eksportir dihadapkan pada mahalnya biaya kontainer.

Untuk komoditas perkebunan, Bali banyak mengekspor kopi dan vanili. Ekspor vanili banyak ditujukan ke Prancis dan Amerika, kemudian kopi diekspor ke China, Amerika Serikat, Jepang. Komoditas hortikultura yang diekspor yakni teh, bahan jamu-jamuan, rimpang-rimpangan beku, yang ditujukan ke negara Finlandia Australia dan Finlandia. Untuk peternakan, Bali banyak mengekspor kulit ular yang banyak digunakan untuk membuat tas oleh brand ternama, ekspor kulit ular ini banyak ke Prancis dan Turki.

Terunanegara menegaskan jika ekspor kulit ular ini tidak mengancam keberadaan hewan tersebut, karena Bali memiliki pusat pengolahan kulit ular yang berizin lengkap sesuai dengan aturan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali Vanili ular ekspor
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top