Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Tumbuh Minus 4,98 Persen, Jembrana Perlu Dorong Hilirisasi

Kinerja ekonomi Jembrana pada 2020 lebih rendah dari sebelumnya. Pada 2019, Jembrana mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,56 persen (yoy)
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 10 Maret 2021  |  12:54 WIB
Nelayan di Pantai Perancak Jembrana, Bali. - JIBI
Nelayan di Pantai Perancak Jembrana, Bali. - JIBI

Bisnis.com, DENPASAR — Jembrana perlu mendorong pengembangan hilirisasi produk pertanian sebagai respons atas pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi 4,98 persen selama 2020 dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Berdasarkan data Bank Indonesia, kinerja ekonomi Jembrana pada 2020 lebih rendah dari sebelumnya. Pada 2019, Jembrana mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,56 persen (yoy).

Sekadar catatan, lapangan usaha utama perekonomian Jembrana adalah pada sektor pertanian sebesar 21,81 persen, transportasi 14,42 persen, dan Akmamin 12,27 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menilai Jembrana perlu lebih berfokus pada sektor pertanian dan mendorong industri pengolahan dengan mengembangkan hilirisasi produk pertanian. Hal ini dapat memberikan nilai tambah pada produk pertanian sehingga akan meningkatkan daya jual atau daya saing komoditas ekspor, seperti padi, kakao dan ikan.

Hilirisasi pertanian tersebut dinilai akan berdampak pada perekonomian Jembrana.

"Kinerja ekonomi Jembrana di tahun 2020 tercatat tumbuh sebesar minus 4,96 persen (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya, perlu didorong agar kabupaten Jembrana dapat berfokus pada sektor pertanian dan mendorong industri pengolahan," katanya seperti dikutip dalam rilis, Rabu (10/3/2021).

Jembrana juga diminta untuk mencermati empat komoditas yang berpotensi dapat mengalami peningkatan harga yakni telur ayam ras, bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Apalagi, di tengah periode perayaan Nyepi yang berlangsung pada kuartal I/2021, pasokan sejumlah kebutuhan pokok masih belum optimal akibat curah hujan yang tinggi dan peningkatan permintaan menjelang hari raya.

"Perkembangan harga cabai rawit dan daging babi masih terus mengalami tren yang meningkat, seiring dengan keterbatasan pada kedua pasokan tersebut," sebutnya.

Bank Indonesia merekomendasikan sejumlah kebijakan untuk pengendalian inflasi yakni pelaksanaan program pengendalian inflasi sesuai kewenangan OPD dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Selain itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga diminta menjamin kecukupan pasokan, kestabilan harga dan kelancaran distribusi sebelum pelaksanaan hari raya Nyepi dan Isra Miraj, mendorong kerja sama antar daerah, dan mendorong pembentukan BUMD pangan.

Terakhir, perlu adanya pemanfaatan aplikasi digital dalam teknologi pertanian, pemantauan harga dan penjualan hasil pertanian.

Bupati Jembrana I Nengah Tamba mengatakan memasuki awal 2021,curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan bencana banjir di beberapa kota dan daerah. Kondisi ini mengganggu tingkat produksi dan distribusi dari daerah pemasok menuju daerah yang dipasok.

Tamba mengimbau kepada seluruh unsur TPID Kabupaten Jembrana dapat mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi permasalahan tersebut. Apalagi, pada Maret 2021, terdapat perayaan hari besar keagamaan yaitu Hari Raya Nyepi dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Kemudian, Hari Raya Galungan dan Kuningan yang akan jatuh pada April 2021.

"Diharapkan dengan langkah antisipasi yang tepat, dapat menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di Kabupaten Jembrana," sebutnya.

Senada dengan penilaian Bank Indonesia, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan adanya wabah virus African Swine Flu (ASF) pada ternak babi masih berpengaruh terhadap keterbatasan pasokan komoditas daging babi di pasar. Sementara, curah hujan yang tinggi membuat pasokan cabai rawit terganggu.

"Upaya Pemerintah Jembrana berupa pemberian bibit cabai kepada masyarakat belum mampu menekan laju kenaikan harga cabai rawit," sebutnya.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Jembrana I Komang Agus Dinata mengatakan daya beli masyarakat yang masih belum pulih. Pedagang dan distributor juga masih enggan untuk menambah stok sehingga berpengaruh terhadap keterbatasan pasokan dan kenaikan harga terutama cabai rawit.

"Untuk itu, sebagai upaya mengendalikan harga akan dilakukan pasar murah di kalangan ASN Pemkab Jembrana pada hari Jumat mendatang sebelum hari raya Nyepi," sebutnya.

Asisten Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Jembrana I Gusti Ngurah Sumber Wijaya menegaskan perlu adanya nota kesepahaman kerja sama antar daerah dengan kabupaten lain di Bali guna mendukung ketahanan pangan di Jembrana maupun di Provinsi Bali.

"Apabila diperlukan MoU di luar Provinsi Bali, agar dapat difasilitasi oleh TPID Provinsi Bali," sebutnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali Pertumbuhan Ekonomi Jembrana
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top