Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produktivitas Padi di Bali Tinggi, Tapi Alih Fungsi Lahan Jadi Ganjalan

Produktivitas padi di Bali mencapai 60,74 kuintal per hektare are pada 2020.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  16:37 WIB
Subak di Bali. - kemdikbud
Subak di Bali. - kemdikbud

Bisnis.com, DENPASAR — Produktivitas lahan padi di Bali lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. Namun, capaian tersebut justru diikuti dengan alih fungsi lahan yang tinggi.

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali, produktivitas padi di Bali mencapai 60,74 kuintal per hektare are pada 2020. Nilainya sedikit menurun dibandingkan dengan posisi 2019 yang sebesar 60,78 kuintal per herktar are. Meskipun demikian, selama lima tahun belakangan, dapat dikatakan tingkat produktivitas padi di Bali cenderung menanjak dari posisi 2016 yang sebesar 60,6 kuintal per hektare are.

Perlu diketahui, produktivitas padi adalah kemampuan produksi per satuan luas. Apabila ingin menghitung produksi, produktivitas tadi perlu dikalikan dengan luas panen.

Kepala Bidang Produksi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali I Wayan Sunarta mengatakan kenaikan produktivitas padi di Bali tidak mampu mengkompensasi tingginya alih fungsi lahan di pulau tersebut. Tercatat, alih fungsi lahan di Bali pada 2016 sebesar 537 hektare arre di tengah tren peningkatan produktvitas padi.

Lebih rinci, Tabanan yang menjadi penghasil padi tertinggi di Bali justru juga mengalami alih fungsi lahan terbesar. Per 2016, alih fungsi lahan di Tabanan mencapai 262 hektare are (Ha). Disusul kemudian, Buleleng 129 Ha dan Gianyar 44 Ha. Gianyar merupakan daerah penghasil padi kedua tertinggi di Bali setelah Tabanan.

"Bali kalau dibandingkan dengan rata-rata nasional [produktivitas padi] memang lebih tinggi. Kalau produksi tergantung luas panen dan tanam, kalau sawah hilang terus tentu tidak bisa dikompensasi oleh kenaikan produktivitas," katanya kepada Bisnis, Rabu (24/2/2021).

Selama 2020, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali mencatat produksi padi cenderung stagnan dibandingkan tahun lalu dengan volume mencapai 778.186 ton.

Menurutnya, saat ini tengah dikembangkan padi hybrida yang memungkinkan produktivitas panen lebih tinggi daripada varietas biasa. Namun, terkendala harga benih yang 10 kali lipat lebih mahal.

"Pengembangan padi hibrida dilakukan di Tabanan dan Gianyar sudah dari tiga tahun lalu, yang dihasilkan juga sama dengan padi lainnya," sebutnya.

Terpisah, pengamat pertanian dari Universitas Udayana I Wayan Windia menilai produktivitas sawah di Bali sudah tinggi, dibandingkan dengan daerah lain. Produksi di Bali bahkan mencapai 6,5 ton gabah kering per hektare.

Hanya, diakuinya kalau tingkat produksi memang sangat dipengaruhi luas lahan sawah. Semakin luas lahan sawah makin tinggi total produksi. Perlu digarisbawahi pula, produksi padi juga berkaitan dengan ketersediaan air irigasi dan sinar matahari.

"Di musim kemarau produktivitas lahan per hektare lebih tinggi sekitar 29 persen dibanding musim hujan. Tentu saja juga karena input yang digunakan," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali pertanian Subak Bali
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top