Alih Fungsi Lahan Pertanian di Bali Capai 1,13%

Produksi beras di Bali dihadapkan dengan alih fungsi lahan pertanian yang pada 2017 mencapai 1,13% dari luas area tanam atau lebih tinggi dari batas yang diatur rencana tata ruang wilayah.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  16:42 WIB
Alih Fungsi Lahan Pertanian di Bali Capai 1,13%
Persawahan di Bali - Antara/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR – Produksi beras di Bali dihadapkan dengan alih fungsi lahan pertanian yang pada 2017 mencapai 1,13% dari luas area tanam atau lebih tinggi dari batas yang diatur rencana tata ruang wilayah.

Kepala Bidang Produksi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali I Wayan Sunarta memerinci pada 2015 luas lahan pertanian padi di Pulau Dewata sebesar 80.063 hektar are. Namun, luasan tersebut menurun 537 hektar are menjadi 79.526 hektar are pada 2016.

Pada 2017, luasan lahan pertanian padi di Bali pun menjadi 78.626 hektar are atau menurun 1,13% dibanding tahun lalu.

Adapun Tabanan sebagai lumbung padi Bali menjadi daerah dengan alih fungsi lahan terbesar.

“Sesuai dengan RTRW, alig fungsi lahan tidak boleh lebih dari 10% dalam 20 tahun atau 0,5% dalam setahun, berdasar perhitungan alih fungsi lahan kita lebih,” katanya kepada Bisnis, Senin (25/2/2019).

Dinas Pertanian dan Holtikultura Bali mencatat dari luas 78.626 ha lahan pertanian pada 2017, produksi mencapai 518.300 ton beras. Sementara, kebutuhan tahunan beras untuk dikonsumsi masyarakat Bali mencapai 417.816 ton. Artinya, masih ada selisih 100.484 ton beras selama 2017.

Selisih beras itu pun digunakan untuk kebutuhan upacara sebanyak 11.942 ton, hewan ternak 11.500 ton, wisatawan domestik 10.566 ton, dan wisatawan mancanegara sebanyak 2.470 ton. Pada 2017, beras yang tersisa dan telah dipotong konsumsi mencapai 64.006 ton.

Sisa akhir yang cukup sedikit itu, juga ditopang oleh beras bulog yang dikirim dari Jawa menuju Bali untuk menstabilkan harga. Dengan produksi yang masih tinggi dan beras cadangan Bulog, kebutuhan beras di Bali hingga saat ini masih mencukupi.

Menurutnya, jika alih fungsi lahan ini terus dibiarkan, bisa saja Bali tidak bisa memenuhi kebutuhan beras dari produksinya sendiri. Saat ini, pihaknya masih menggencarkan insentif ke petani berupa bantuan benih hingga pemberian bantuan alat dan mesin untuk mempermudah kerja pertanian.

“Kalau ini dibiarkan Bali bisa saja tidak bisa mencukupi kebutuhan sendiri, penduduk naik setiap tahun, wisatawan juga bertambah,” katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, konversi lahan

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top