Pariwisata Pesat, Setiap Tahun 700 Ha Lahan di Bali Jadi Bangunan

Pariwisata Bali yang berkembang pesat juga dihadapkan dengan berbagai persoalan mulai dari sampah hingga konversi 700 hektare lahan menjadi bangunan setiap tahunnya.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 13 Januari 2019  |  14:05 WIB
Pariwisata Pesat, Setiap Tahun 700 Ha Lahan di Bali Jadi Bangunan
Wisatawan menikmati pemandangan di obyek wisata Pura Ulun Danu Beratan, Tabanan, Bali - ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Bisnis.com, DENPASAR – Pariwisata Bali yang berkembang pesat juga dihadapkan dengan berbagai persoalan mulai dari sampah hingga konversi 700 hektare lahan menjadi bangunan setiap tahunnya.
 
Pengamat pariwisata dari Universitas Udayana I Nyoman Sunarta mengatakan Bali memiliki banyak tantangan dalam mengembangkan industri ini.

Pada satu sisi, Bali diuntungkan lewat perputaran ekonomi namun juga dihadapkan dengan berbagai masalah.
 
Menurutnya, Bali telah terkenal sebagai pulau dengan pantai berpasir yang memukau, sawah yang subur, budaya hindu, dan wisata yang murah.

Kondisi ini menjadikan industri pariwisata Bali berkembang hingga menjadi salah satu tujuan wisata favorit dunia.
 
Pada 2018 misalnya, Bali kedatangan hingga enam juta wisatawan.
 
“Pariwisata seperti angsa tidak hanya memproduksi telur emas tetapi juga menghancurkan sarangnya,” katanya dalam pembukaan Future City Summit (FCS) 2019 di Bali Paragon Resort, Minggu (13/1/2019).
 
Di sisi lain, industri pariwisata yang berkembang di Bali telah menjadikan banyaknya perhotelan yang tumbuh dengan menyedot air bawah tanah. Setiap kamar dalam satu hotel bisa mengonsumsi hingga 300 liter air dalam sehari.
 
Menurutnya, dalam 2025, Bali diprediksi akan dihadapkan dengan krisis air.
 
Belum lagi, rata-rata setiap tahunnya, 700 hektar tanah telah dibangun menjadi hotel dan penginapan mewah bagi tamu asing.

Lahan tersebut juga dikonversi untuk menjadi jalan dengan tujuan meningkatkan lalu lintas dan koneksi pulau ini.
 
Setiap harinya, 13.000 meter kubik sampah dibuang ke pembuangan dan hanya setengahnya yang didaur ulang.

Ditambah dengan kemacetan lalu lintas akibat pertumbuhan jumlah kendaraan mencapai lebih 13% setiap tahun.Di satu sisi, hanya 2,28% pertumbuhan jalan raya yang dapat dipakai motor.
 
“Kami berharap program Future City Summit 2019 mampu memberikan ide untuk membuat Bali sebagai destinasi pariwisata yang berkelanjutan,” katanya.
 
Adapun Future City Summit (FCS) Limited adalah sebuah Organisasi Nirlaba Non-profit yang terdaftar di Hong Kong. Organisasi nirlaba yang telah berdiri sejak 2016 ini memvisualisasikan kepribadian kota masa depan yang berkembang pesat dalam bidang kewirausahaan.
 
Chief Executive Officer (CEO) FCS Limited Shadman Sadab mengatakan setiap tahun Future City Summit memiliki misi untuk mengembangkan program dan konvensi yang membawa pemerintah, startup, perusahaan, universitas, dan para pemimpin kelembagaan lainnya untuk mencari solusi dalam menghadapi masalah kota-kota masa depan di kawasan yang sedang berkembang melalui kemitraan publik-swasta.
 
Setelah kerap mengadakan pertemuan di Hong Kong dan China, FCS membuka sayap untuk menjalin kemitraan dengan kota-kota berkembang lainnya di dunia.

Lewat program musiman yang diikuti siswa-siwsi di Hong Kong, Bali dijadikan sebagai kota pertama diluar China oleh FCS untuk mencari solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi.
 
“Kita sangat aktif di Hongkong dan China, tetapi kita sekarang ingin lebih terlibat dalam masalah kota dan memberikan solusi bagi pemerintah dan swasta, dan Bali jadi yang pertama,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata bali, konversi lahan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top