Bali Siap Ekspor Salak Gula Pasir 1 Ton Per Hari

Produk buah lokal salak gula pasir dari Bali bakal diekspor ke Kamboja mulai Maret 2019 dengan kesiapan 1 ton per hari.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  17:44 WIB
Bali Siap Ekspor Salak Gula Pasir 1 Ton Per Hari
Ilustrasi

Bisnis.com, DENPASAR—Produk buah lokal salak gula pasir dari Bali bakal diekspor ke Kamboja mulai Maret 2019 dengan kesiapan 1 ton per hari.

Martin, salah seorang pengekspor salak mengatakan salak  gula pasir dari Bali sangat manis dan enak dibandingkan dengan jenis salak yang lain dari berbagai daerah.

“Saya optimistis buah ini akan menyusul kesuksesan ekspor buah manggis tahun lalu,” katanya, Jumat (22/2/2019).

Salak gula pasir atau ‘Salacca zalacca’, selain manis juga memiliki daging yang lembut sehingga bisa dikatakan memiliki cita rasa tersendiri dibandingkan salak bali maupun jenis salak yang lain.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar Terunanegara mengatakan akan berupaya maksimal untuk mendorong akselerasi ekspor komoditas pertanian dari Bali dan berjanji melakukan pendampingan dan kerja sama dengan para petani untuk memperlancar ekspor komoditas pertanian dari Bali.

“Jangan takut, karantina tidak pernah mempersulit ekspor, kami justru membantu memperlancar sertifikasi komoditas pertanian yang akan diekspor,” katanya, dikutip dari rilis.

Menurut Terunanegara persyaratan ekspor bukan domain kantor karantina, melainkan dari negara tujuan ekspor. Ia pun menegaskan siap siap membantu pemenuhan persyaratan yang ditentukan.

Kata dia registrasi rumah kemas dan kebun menjadi persyaratan ekspor buah salak ke China, sedangkan untuk negara-negara lain yang belum mempersyaratkan, bisa dimuali untuk mendorong ekspor ke sana.

Registrasi tujuannya semata untuk mengetahui ketelusuran dari komoditas pertanian yang diekspor jika nantinya ada suatu permasalahan. 

Irsan Nurhantoro, Kepala Seksi Karantina Tumbuhan menambahkan rumah kemas dan kebun manggis saja bisa diregistrasi untuk ekspor tahun lalu. Ia berharap demikian pula halnya untuk ekspor salak.

Ia berharap ini menjadi berita menggembirakan bagi petani salak di Bali. Ekspor ini secara otomatis juga bakal mendongkrak produksi salak yang berkualitas dan mempunyai daya saing. 

Badan Karantina Pertanian melalui program AgroGemilang berupaya keras menggalakkan ekspor pertanian dengan mencetak petani milenial yang produktif dan kreatif sehingga komoditas pertanian Indonesia mampu bersaing dan sejajar dengan produk dari luar negeri. 

Terbukti, ekspor manggis dari Bali pada 2018 merupaklan ekspor manggis tertinggi mengalahkan daerah-daerah lain di Indonesia. Sekitar 4.000 ton buah manggis telah disertifikasi Karantina Denpasar dengan tujuan China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, salak

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top