Gempa di Bali Akibat Subduksi Lempeng Indo-Australia

BMKG mencatat gempa bumi dengan magnitudo 5,6 mengguncang sebagian wilayah Bali, Sabtu (27/1/2024) sore.
Tangkapan layar. Peta gempa bumi dengan magnitudo 5,6 di Bali, Sabtu (27/1/2024)./Antara-BMKG.
Tangkapan layar. Peta gempa bumi dengan magnitudo 5,6 di Bali, Sabtu (27/1/2024)./Antara-BMKG.

Bisnis.com, DENPASAR - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi dengan magnitudo 5,6 mengguncang sebagian wilayah Bali, Sabtu (27/1/2024) sore.

BMKG melalui laman resmi infoBMKG dipantau di Denpasar, Sabtu (27/1/2024), menyebutkan getaran gempa berdurasi singkat itu terjadi sekitar pukul 17.33 Wita, saat hujan mengguyur sebagian wilayah Bali.

Berdasarkan data BMKG, episentrum gempa berlokasi pada kedalaman 10 kilometer yang berjarak sekitar 391 kilometer arah barat daya Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Ada pun titik koordinat gempa bumi itu berada di 11.78 Lintang Selatan (LS) dan 113.35 Bujur Timur (BT).

BMKG mendata getaran gempa dirasakan di Kuta, Mataram dan Lombok Barat dengan skala Mercalli (Modified Mercalli Intensity/MMI) yakni satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi sebesar III MMI.

Skala III MMI yakni getaran dirasakan nyata dalam rumah dan terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Kemudian di wilayah Denpasar dan Kabupaten Gianyar II MMI yakni Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

BMKG menegaskan gempa bumi itu tidak berpotensi tsunami.

Getaran gempa dirasakan itu yang kedua terjadi dalam pekan ini setelah pada Kamis (25/1) juga terjadi gempa bumi dengan magnitudo 4,8 sekitar pukul 22.41 Wita.

Gempa pertama itu berpusat di laut pada jarak 55 kilometer sebelah tenggara Kuta Selatan, Bali pada kedalaman 101 kilometer.

BMKG mencatat gempa bumi sebelumnya itu akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia di bawah lempeng Eurasia.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan naik dengan kombinasi mendatar (oblique thrust fault).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Redaksi
Editor : Miftahul Ulum
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper