Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bali Perlu Waspadai Kenaikan Harga Komoditas Berkelanjutan

Semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan soal kenaikan harga komoditas yang masih berlangsung.
Harian Noris Saputra
Harian Noris Saputra - Bisnis.com 25 Juli 2022  |  16:10 WIB
Bali Perlu Waspadai Kenaikan Harga Komoditas Berkelanjutan
Pedagang cabai melayani pembeli di salah satu pasar. - Bisnis/Eusebio Chysnamurti

Bisnis.com, DENPASAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat inflasi Bali hingga Juni 2022 sebesar 4,2 persen atau melampaui rentang target inflasi nasional sebesar 3 persen.

Tingginya inflasi Bali disebabkan naiknya harga komoditas pangan pada kelompok volatile food seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah akibat dari musim hujan yang berkepanjangan sehingga mengganggu produktivitas petani. Penyumbang inflasi juga disusul dari core inflation, naiknya harga canang sari.

Naiknya harga pada kelompok volatile food ini perlu diwaspadai oleh pemerintah daerah, jika terjadi secara berkelanjutan akan mempengaruhi daya beli masyarakat Bali. Bank Indonesia mencatat potensi harga bahan pokok tetap tinggi hingga akhir tahun bisa terjadi karena adanya potensi angin monsoon Australia yang meningkatkan curah hujan dan berisiko menurunkan produksi cabai merah, cabai rawit, bawang merah dan tomat.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, G. A. Diah Utari,menjelaskan semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan soal kenaikan harga komoditas yang masih berlangsung. “Perlu adanya peningkatan kesadaran mengingat hingga Juni 2022, inflasi kumulatif Bali sudah melampaui rentang target inflasi nasional yakni sebesar 4,2 persen,” kata Diah dari keterangan resminya, Senin (25/7/2022).

Menurut Diah, Bali juga harus mewaspadai wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang berpotensi mengganggu pasokan daging sapi di tengah tingginya permintaan daging. Sementara itu, dari administered inflation atau inflasi yang diatur pemerintah, kenaikan tarif dasar listrik, harga gas dan energi yang dapat menimbulkan dampak lanjutan pada peningkatan harga bahan makanan jadi dan kenaikan tarif tiket pesawat.

“Dinamika yang sedang terjadi di tingkat global juga mendorong naiknya inflasi di Bali seperti krisis geopolitik, kebijakan proteksi pangan, zero covid policy Tiongkok, gangguan rantai pasok yang berakibat pada melemahnya nilai tukar rupiah,”.

Bank Indonesia memberikan rekomendasi kepada pemda di Bali untuk menjalankan kebijakan pemberian insentif jangka pendek ke komoditas hortikultura untuk mengendalikan harga bahan pangan, menjamin ketersediaan stok pangan melalui kerja sama antar daerah yang surplus bahan pangan, mengintensifkan operasi pasar, dan menghidupkan kembali gerakan menanam cabai di pekarangan rumah. (C211)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali Inflasi
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top