Alih Fungsi Lahan Jadi Tantangan Bali Jaga Daya Tahan Pangan

Saat ini paling luas lahan petani di Bali berkisar di 75 are/0,75 ha, sangat jarang petani yang memiliki lahan di atas satu hektare.
Subak di Bali./kemdikbud
Subak di Bali./kemdikbud

Bisnis.com, DENPASAR – Alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi di Bali menjadi ancaman daya tahan pangan di Pulau Dewata yang notabene penduduknya terus bertambah sehingga meningkat kebutuhan pangan.

Setiap tahun, 600 hektare hingga 1000 hektare lahan pertanian Bali beralih fungsi menjadi perumahan, hotel, restoran maupun bangunan lain yang menopang industri pariwisata dan industri lainnya. Dampak dari itu, tidak ada petani di Bali yang memiliki lahan yang luas.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, I Wayan Sunada, menjelaskan saat ini paling luas lahan petani di Bali berkisar di 75 are/0,75 ha, sangat jarang petani yang memiliki lahan di atas satu hektare.

“Kelemahan petani Bali saat ini lahannya sempit, ada yang punya 25 are, paling banyak 75 are. Itu akibat dari alih fungsi lahan yang terjadi setiap tahun,” kata Sunada kepada Bisnis, Rabu (22/6/2022)

Pemda Bali berupaya berinovasi di sektor pertanian untuk menutupi kekurangan lahan tersebut, seperti menanam padi dengan sistem salibu atau satu kali tanam berkali-kali panen.

“Sistem salibu ini lumayan berhasil diterapkan, jadi setelah panen pertama, tanaman padi itu dibiarkan tumbuh kembali kemudian berisi dan bisa dipanen lagi. Indikator keberhasilannya saat ini produksi gabah Bali masih surplus 25 ton. Selain gabah, jagung juga masih surplus 50 ton, dan bawah merah juga surplus, hanya bawang putih Bali kekurangan 1.000 ton,” ujar Sunada.

Untuk mengurangi defisit bawang putih, pemerintah mengalokasikan lahan seluas 120 hektare di tiga kabupaten untuk menanam bawang putih yakni di kabupaten Buleleng 50 hektare, Tabanan 50 hektare dan Karangasem 20 hektare. Selain itu Pemda Bali juga melakukan sertifikasi bawang putih agar bisa dijadikan benih sehingga tidak membeli benih dari luar daerah.

Bali juga sudah membuka lahan di desa Besakih, Kabupaten Karangasem untuk mengembangkan tanaman ubi jalar di atas lahan non produktif milik warga termasuk di halaman pekarangan rumah warga.

“Ubi jalar ini merupakan tanaman khas Bali yang bisa menjadi alternatif pengganti nasi, sehingga daya tahan pangan Bali semakin bagus. Kami sudah mulai di Besakih di atas lahan nonproduktif, walaupun lahannya tidak bisa luas sekali. Selain itu kami juga menanam ubi madu, ubi kayu di beberapa tempat,” kata Sudana.

Luas lahan pertanian Bali saat ini 70.966 hektare, hal tersebut masih terancam untuk berkurang setiap tahun karena alih fungsi lahan yang tidak bisa dihindarkan. (C211)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper