Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

13,83 Persen Penduduk NTB Masih Miskin, Ketimpangan Makin Besar

Data menunjukkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin melebar
Harian Noris Saputra
Harian Noris Saputra - Bisnis.com 17 Januari 2022  |  19:08 WIB
Warga menanam kangkung di pinggiran sungai Jangkuk, Ampenan, Mataram, NTB, Senin (17/1/2022). Sebagian warga yang tinggal dekat sungai Jangkuk tersebut memanfaatkan lahan pinggiran sungai untuk menanam sayuran. - Antara/Ahmad Subaidi.
Warga menanam kangkung di pinggiran sungai Jangkuk, Ampenan, Mataram, NTB, Senin (17/1/2022). Sebagian warga yang tinggal dekat sungai Jangkuk tersebut memanfaatkan lahan pinggiran sungai untuk menanam sayuran. - Antara/Ahmad Subaidi.

Bisnis.com, MATARAM - Kemiskinan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada September 2021 masih berada di angka 735.300 orang atau 13,83 persen dari keseluruhan jumlah penduduk.

Penduduk miskin di NTB pada September 2021 hanya turun 0,13 persen atau 11.400 orang dibanding Maret 2021 yang jumlah penduduk miskin mencapai 746.660 orang atau 14,14 persen. Data dari BPS mencatat kemiskinan di perkotaan lebih tinggi dari pada kemiskinan di perdesaan, kemiskinan diperkotaan mencapai 14,54 persen sedangkan di perdesaan 13,12 persen per September 2021.

Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan penurunan angka kemiskinan di NTB masih bersifat fluktuatif setiap periode, belum menurun secara konsisten.

"Penurunan kemiskinan paling signifikan terjadi pada September 2019 yakni sejumlah 705.680 orang. Sedangkan persentase penduduk miskin yang terendah selama periode tersebut adalah pada September 2021 yaitu sebesar 13,8 persen," jelas Wahyudin dari rilis, Senin (17/1/2022).

Pada September 2021, lima komoditas makanan yang memberi sumbangan terbesar pada garis kemiskinan di daerah perkotaan yakni beras 18,96 persen, rokok kretek filter 11,55 persen, daging ayam ras 3,71 persen telur ayam ras 3,18 persen, dan kue basah 2,70 persen.

Sedangkan di daerah perdesaan, lima komoditas makanan yang memberi sumbangan terbesar pada garis kemiskinan yakni beras 20,72 persen, rokok kretek filter 12,04 persen,telur ayam ras 2,98 persen, daging ayam ras 2,94 persen; dan kue basah 2,63 persen.

Untuk komoditas nonmakanan, lima komoditas yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan di daerah perkotaan yakni perumahan 9,61 persen, bensin 2,65 persen, pendidikan 2,00 persen, listrik 1,41 persen, dan perlengkapan mandi 1,36 persen.
Sementara di perdesaan, komoditas non makanan yang memberi sumbangan terbesar pada garis kemiskinan yakni perumahan 11,02 persen, bensin 1,95 persen, pendidikan 1,40 persen, perlengkapan mandi 1,27 persen, dan listrik 1,21 persen.

"Pada periode September 2021, terlihat bahwa peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar terhadap garis kemiskinan di NTB dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Dari data di atas, Garis Kemiskinan (GK) di NTB naik 4,30 persen menjadi 441.711 pada," kata Wahyudin.

Wahyudin menjelaskan yang perlu diperhatikan pengambil kebijakan yakni tingkat kedalaman kemiskinan di NTB meningkat menjadi 2,503 pada September 2021. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan di NTB juga mengalami peningkatan menjadi 0,628 per September. "Data ini menunjukkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin melebar," ungkapnya. (K48)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemiskinan ntb
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top