Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Digitalisasi Jadi Juru Selamat UMKM Bali, Saat Pariwisata Mati Suri

Trasformasi digital terbukti menjadi salah satu kunci untuk bagi pelaku UMKM Bali untuk tetap bersaing dan mereguk cuan ketika pandemi Covid-19 menghantam, terutama di sektor pariwisata.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 21 Oktober 2021  |  11:31 WIB
Pandemi Covid/19 berhasil mempercepat transformasi bisnis serta aktivitas jual beli dari tradisional menjadi daring atau online lewat prinsip digitalisasi.  -  Antara
Pandemi Covid/19 berhasil mempercepat transformasi bisnis serta aktivitas jual beli dari tradisional menjadi daring atau online lewat prinsip digitalisasi. - Antara

Bisnis.com, DENPASAR — Bak roller coster, tiba-tiba turun, dan kemudian menanjak. Kira-kira begitulah yang dirasakan oleh pemilik Dewa Bali Collection di daerah Kerobokan Kabupaten Badung, Dewanti Amalia Artasari ketika pandemi Covid-19 merebak dan menghantam perekonomian Bali.

Baru setahun membuka toko luring di salah satu kawasan pariwisata yang khusus menjual kerajinan rajutan berbahan tali atau makrame, dia harus dipusingkan akibat efek pandemi. Sebab, tokonya terpaksa harus ditutup pada awal 2020 karena wisatawan tidak ada yang datang ke Pulau Dewata. Situasi itu sempat membuatnya khawatir akan nasib dua orang karyawannya.

Akan tetapi, kekhawatiran itu terjadi sesaat, karena penjualan produknya secara daring justru melesat pada saat bersamaan. Kebijakan work from home (WFH) membuat sejumlah hasil kerajinannya banjir pesanan.

“Selama pandemi kenaikan penjualan di toko online sampai 400 persen, terutama di awal-awal pandemi, dulu sampai kewalahan melayani orderan makrame,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/10/2021).

Dampak dari peningkatan permintaan itu ibarat bola salju. Sebelum pandemi dia mengerjakan orderan pembuatan hiasan dinding berbahan tali itu hanya ditemani suami dan 2 orang karyawan di Bali. Sejak orderan melejit, perajin yang dilibatkan bertambah banyak. Selain itu, lokasi pembuatan diperluas tidak hanya di Bali saja, tetapi juga di Jawa Timur. Amalia kini harus bolak-balik Jawa Timur dan Bali untuk memenuhi permintaan.

Semua itu terjadi dikarenakan keputusannya mengadopsi digitalisasi. Secara khusus dia menunjuk online marketplace domestic Tokopedia. Amalia mengaku tidak menduga bisnisnya akan seperti sekarang, terutama setelah dia mulaia fokus dan rutin mengunggah foto di lokapasar virtual tersebut. 

umkm

Perajin makrame Dewa Bali Collection sedang membuat kerajinan di daerah Kerobokan, Kabupaten Badung. /Feri Kristianto.

Sebelum pandemi, Amalia adalah penjual kerajinan makrame secara door to door. Kegiataan itu dilakukan untuk membantu saudaranya. Walakin, upah dari pekerjaan lamanya itu dirasa kurang mencukupi kebutuhan. Dia kemudian memutuskan berjualan di aplikasi media sosial. Saat itu tanggapan dari konsumen masih rendah. Diperkirakannya masih banyak masyarakat yang khawatir tertipu jika belanja di media sosial. 

Karena faktor itulah, dia pun memutuskan pindah ke lokapasar virtual. Ketika pandemi Covid-19 memukul pariwisata Bali pada awal 2020, dia pun mulai memanfaatkan fitur seperti diskon dan gratis ongkir. Hasilnya meledak. Sebelum pagebluk merebak, permintaan sekitar 10 orderan per bulan,sekarang lebih dari 40 orderan per bulan.

“Akhirnya malah serius dan fokus banget jualan online. Apalagi semua serba online, serba gampang. Diem di rumah, pencet-pencet hape, barang yang diinginkan tiba di depan rumah. Lebih aman juga karena tidak perlu keluar-keluar ketemu banyak orang,” tuturnya.

Kisah selamatnya bisnis UMKM di era pandemi dampak dari digitalisasi juga dirasakan Jimmy Aman pemilik toko Leolle Bali. Menjual pernak-pernik kerajinan dekorasi, sebelum pandemi Jimmy sangat mengandalkan pasar dari luar negeri khususnya wisman. Penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai membuat konsumennya tidak bisa datang. Akhirnya 5 tokonya yang berlokasi di pusat-pusat pariwisata harus ditutup.

Berangkat dari ide sederhana untuk menghabiskan produk di toko luring  yang telah tutup, dia memutuskan menjual di lokapasar Tokopedia. Hasilnya justru di luar perkiraan. Penjualannya lancar dan bahkan membuat pembeli kembali bertransaksi. Kondisi itu bahkan membuat pemasoknya bisa kembali aktif berproduksi. Berkat Tokopedia, Jimmy justru menemukan pasar baru yakni wisatawan domestik yang sebelumnya tidak menjadi perhatian.

“Pembeli yang sebelumnya beli harus ke Bali sekarang mereka beli di toko virtual,” ujarnya.

PENINGKATAN DRASTIS

External Commmunications Senior Lead Tokopedia Ekhel Candra WIjaya menyebutkan Bali bersama DKI Jakarta dan Yogyakarta menjadi daerah dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di Tokopedia selama pandemi.

Dia menyebutkan bahwa pelaku usaha yang memanfaatkan jalur distribusi di situs lokapasar virtual domestik ini secara nasional juga meningkat pesat. Jika sebelum pandemi hanya ada sekitar 7,3 juta, saat ini jumlahnya sudah mencapai 11 juta penjual. Angka pertumbuhan ini sangat eksponensial karena dalam dua tahun peningkatannya sangat drastis. 

“Memang kita melihat di satu sisi pandemi memberikan tantangan karena usaha terpukul keras, tapi di sisi lain ada kesempatan untuk bertumbuh berkembang dengan memanfaatkan platform digital,” jelasnya dalam lokakarya yang digelar secara virtual.

Menurutnya, sebagai lokapasar Tanah Air yang mensyaratkan harus ber-KTP Indonesia, Tokopedia telah terbukti menjadi wadah untuk UMKM ketika menghadapi kesulitan akibat pandemi Covid-19. Berdasarkan data, sebanyak tujuh dari 10 penjual di situs ini mengalami peningkatan penjualan hingga 133 persen selama pandemi.

Hal itu bisa terjadi karena pihaknya ikut aktif membantu UMKM memanfaatkan sejumlah fitur inovasi pemasaran digital hingga kampanye daring. Tokopedia juga berupaya memudahkan pelaku UMKM dalam beradaptasi terhadap digital dengan pelatihan dan pendampingan melalui webinar maupun kelas virtual. 

tokopedia

Ilustrasi tangkapan layar aplikasi Tokopedia. /ANTARA.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali Trisno Nugroho menuturkan adaptasi digitalisasi UMKM di Bali cukup cepat khususnya ketika pariwisata terpuruk. Fakta itu itunjukkan dengan adanya transaksi digital yang mencapai Rp30 miliar per bulan dengan jumlah transaksi hingga 376.000 transaksi per bulan. Menurutnya, kemampuan pelaku UMKM Bali beradaptasi dengan digitalisasi tidak saja membantu mereka, melainkan perekonomian daerah.

Selama ini ekonomi Bali sangat bergantung sektor jasa akomodasi serta makan dan minum. Keputusan pelaku UMKM bermigrasi ke digital dalam berbagai aspek, mulai dari produksi, pemasaran, pembayaran hingga pembiayaan, mampu menghidupkan roda perekonomian. Hal ini terjadi karena peran UMKM di daerah berpenduduk 4,2 juta jiwa ini sangat penting. Data BPS Bali menyebutkan 1,3 juta orang tenaga kerja terserap di sektor ini.

“Karena itulah, kami selalu mendorong UMKM bertransformasi mengadopsi digitalisasi agar ekosistemnya mendukung. Ketika pandemi seperti sekarang, adaptasi itu membuahkan hasil,” jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengungkapkan secara nasional, digitalisasi telah mendorong sekitar 8 juta pelaku usaha UMKM mengadopsi digitalisasi. Angka ini terbilang fantastis karena bertahun-tahun sebelumnya, hanya ada 7 juta pelaku UMKM yang terjun secara digital. Suka tidak suka, menurutnya, pelaku usaha ini harus adopsi digital untuk efektifitas dan efisiensi.

Meski demikian dia mendorong lokapasar virtual juga mulai memikirkan terkait status legalitas pelaku usaha. Hal ini dikarenakan dalam aturan UU Cipta Kerja, pelaku usaha diwajibkan memiliki nomor induk berusaha (NIB).

Sebab, saat ini baru sekitar 800.000 pelaku UMKM sudah memiliki izin yang dapat diakses melalui Online Single Submission (OSS). Persyaratan ini kedepannya mutlak dimiliki UMKM untuk kemudahan mengakses seperti pembiayaan. Meskipun mendapatkannya sangat mudah karena hanya daftar 10 menit, tetapi belum banyak pelaku sektor ini memahaminya.

Terlepas dari hal tersebut, digitalisasi terbukti menjadi salah satu kunci bagi UMKM untuk tetap bersaing dan meraih cuan di tengah pandemi. Digitalisasi juga menjaga agar roda perekonomian di sektor UMKM tetap berputar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali pariwisata umkm digitalisasi tokopedia
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top