Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Lokal Paling Banyak Tutup Hotel di Denpasar

Ini yang mungkin harus kita segera carikan solusi agar jangan sampai jadi penonton di negeri sendiri ketika pandemi berakhir.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 01 September 2021  |  20:35 WIB
Anggota Sat Pol Air Polresta Denpasar menegur warga yang tidak menggunakan masker dengan benar saat berpatroli pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Pantai Sanur, Denpasar, Bali, Kamis (26/8/2021). - Antara
Anggota Sat Pol Air Polresta Denpasar menegur warga yang tidak menggunakan masker dengan benar saat berpatroli pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Pantai Sanur, Denpasar, Bali, Kamis (26/8/2021). - Antara

Bisnis.com, DENPASAR — Pemerintah Denpasar menilai jumlah penutupan hotel secara permanen di kota tersebut sebagian besar dilakukan oleh pengusaha lokal.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Denpasar, ada 16 usaha akomodasi yang tutup permanen, yang terdiri dari 11 hotel non bintang, 2 pondok wisata, dan tiga villa. Selain itu, usaha akomodasi yang tutup sementara ada sebanyak 141, terdiri dari tiga hotel berbintang, 70 hotel non bintang, 32 pondok wisata, dan 36 villa.

Secara total, ada 551 jumlah usaha akomodasi di Denpasar yang terdiri dari 49 hotel bintang, 316 hotel non bintang, 90 pondok wisata, dan 96 villa.

Kepala Dinas Pariwisata Denpasar A. Dezire Mulyani mengatakan hotel yang ditutup permanen tersebut memiliki kemungkinan untuk dijual. Dari 16 usaha akomodasi yang tutup, sebagian besar dipastikan milik pengusaha lokal.

Hanya, dia tidak bisa memastikan persentase usaha akomodasi milik lokal maupun asing yang ditutup.

Menurutnya, penjualan hotel tersebut pun dinilai tidak akan mempengaruhi proses pemulihan pariwisata. Pasalnya, hotel tersebut akan dibeli pengusaha dengan kemampuan finansial yang lebih mumpuni. Nantinya, ketika pariwisata dibuka kembali, hotel-hotel tersebut pun akan siap dibuka.

"Semuanya menunggu pasar, kedatangan wisatawan dalam dan luar negeri. Menunggu kebijakan pemerintah pusat untuk membuka pintu bagi wisman," katanya kepada Bisnis, Rabu (1/9/2021).

Menurutnya, pembelian maupun penjualan hotel yang dilakukan pun bagian dari rencana bisnis yang sudah sangat matang. Kecil kemungkinan, hotel yang dibeli tersebut akan beralih fungsi menjadi akomodasi lain.

"Tentunya para pengusaha mempunyai business plan yang matang sebelum membeli hotel. Karena bentuk fisik dan fasilitas pendukungnya sudah jadi tinggal aktivasi," sebutnya.

Berdasarkan data Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali yang dikutip dari laporan Bank Indonesia, terdapat 48 hotel yang telah dijual sebagai bentuk dampak Covid-19 terhadap hotel dan restoran. Dari 48 hotel yang dijual tersebut, terbanyak berada di Badung dengan jumlah 41 hotel. Sisanya, sebanyak 4 hotel berada di Denpasar dan 3 hotel berada di Gianyar.

Sementara itu, berdasarkan katagorinya, terbanyak berada di katagori hotel berbintang empat dengan jumlah 19 hotel. Kemudian, 14 hotel berbintang tiga, delapan hotel berbintang lima, dan 7 hotel berbintang dua.

Pengamat pariwisata dari Universitas Udayana I Nyoman Sunarta menilai penjualan aset berupa hotel dilakukan karena tidak adanya ketidakpastian akan penanganan hingga waktu berakhirnya pandemi. Bali yang sebelumnya menjadi pilot project pembukaan gerbang internasional justru tidak kunjung pasti dalam menyelesaikan kasus Covid-19.

"Ini ibarat pasar tidak percaya dengan kondisi pandemi di Bali, berlanjut dengan mengalmbil kebijakan penjualan aset," katanya.

Menurutnya, tidak menjadi masalah jika dalam penjualan aset terjadi alih fungsi hotel di Bali. Justru penjaulan aset tersebut akan mendukung era Bali yang mengedepankan pariwisata berbasis kualitas.

Apalagi, tren wisatawan ke Bali ke depannya tidak lagi mencari hotel-hotel besar.

"Ini kesempatan introspeksi apa yang salah dari pariwisata Bali, saya melihatnya ini sebagi seleksi alam. Kuantitas [jumlah wisatawan] tidak menjadi jaminan lagi," sebutnya.

Pengamat ekonomi pariwisata dari Universitas Warmadewa I Made Suniastha Amerta mengatakan penjualan aset meruapakan bentuk strategi bisnis. Hal tersebut pun lumrah terjadi di masa pandemi. Hanya, penjualan aset ini tidak bisa dijadikan acuan bahwa kondisi pengusaha Bali sudah di titik akhir.

"Perihal jual-beli merupakan hal yang lumrah, terlebih lagi pada situasi pandemi ini," sebutnya.

Ketua Umum BPD HIPMI Bali Agus Pande Widura menilai pengusaha Bali akan mengupayakan untuk tidak menjual aset hotel yang menjadi trademark bisnis selama ini. Pengusaha Bali yang kesulitan di tengah pandemi akan lebih menjual aset selain hotel yang dimiliki.

"Itu sudah mulai penjualan [aset lain] untuk menjaga aset utama, ini yang mungkin harus kita segera carikan solusi agar jangan sampai jadi penonton di negeri sendiri ketika pandemi berakhir," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali pariwisata perhotelan phri
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top