Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Cabai Rawit Mulai Turun, Tapi Daging Babi hingga Minyak Goreng Melonjak

Harga cabai rawit di Bali mulai melandai tetapi sejumlah komoditas seperti daging babi, minyak goreng, dan cabai merah terpantau mengalami lonjakan harga.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 08 April 2021  |  08:57 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, DENPASAR -- Harga cabai rawit di Bali mulai melandai tetapi sejumlah komoditas seperti daging babi, minyak goreng, dan cabai merah terpantau mengalami lonjakan harga.

Berdasarkan Sistem Informasi Harga Komoditas Pangan (SIGAPURA), harga cabai rawit yang sebelumnya sempat menyentuh harga Rp120.000 per kilogram (kg) pada akhir Maret 2021, saat ini sudah kembali di bawah Rp100.000/kg. Namun, beberapa komoditas terpantau mengalami lonjakan harga pada awal April 2021, diantaranya daging babi, minyak goreng dan cabai merah.

Bank Indonesia menekankan ada tiga komoditas yang perlu diperhatikan yaitu cabai merah, cabai rawit, dan canang sari. Sementara untuk menyambut periode puasa dan Lebaran, harga komoditas cabai rawit, telur ayam ras, bawang merah, tongkol diawetkan dan cabai merah patut diantisipasi.

Secara historis, seluruh komoditas tersebut sering mengalami kenaikan harga pada hari raya Galungan, Kuningan dan Lebaran selama tiga tahun terakhir.

Sementara itu, Inflasi Bali tercatat sebesar 0,52% (mtm) atau 0,84% (yoy) pada Maret 2021. Secara spasial, inflasi bulanan Kota Denpasar dan Kabupaten Singaraja masing-masing sebesar 0,47% dan 0,81%.

Dibandingkan kota/kabupaten lain di tingkat nasional, inflasi Kabupaten Singaraja menduduki peringkat ke-4, sementara Kota Denpasar menempati urutan ke-9. Berdasarkan jenis komoditas, cabai rawit dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulan Maret 2021.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan Pulau Dewata berpotensi mengalami kenaikan inflasi pada tahun ini dibandingkan sebelumnya. Sejumlah faktor yang mempengaruhi inflasi tersebut yakni meningkatnya aktivitas pariwisata pasca Covid-19, peningkatan daya beli masyarakat, normalisasi harga tiket angkutan udara, peningkatan cukai rokok, dan kenaikan biaya sekolah.

Menurutnya, Bank Indonesia merekomendasikan sejumlah kebijakan pengendalian inflasi di Bali. Pertama, pembentukan BUMD pangan untuk meningkatkan serapan produksi pertanian dan meningkatkan kualitas produk lokal. Kedua, memperluas cakupan pasar yang disurvei dalam rangka melengkapi data harga bahan pangan di SIGAPURA.

Ketiga, mendorong perluasan penggunaan CAS (Controlled Atmosphere Storage) sebagai tempat penyimpanan surplus produksi. Keenpat, menjalin kerja sama perdagangan antar daerah, baik intra provinsi, maupun antar provinsi. Kelima, pemanfaatan aplikasi digital untuk mendorong kenaikan hasil produksi dan kelancara distribusi.

"Dan melakukan edukasi kepada masyarakat untuk belanja bijak dan pemanfaatan pekarangan untuk penanaman komoditas bahan pangan," katanya seperti dikutip dalam rilis, Kamis (8/4/2021).

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan secara umum Pulau Dewata mengalami surplus selapan komoditas bahan pangan, termasuk beras, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging sapi, daging ayam, telur ayam, dan daging babi. Artinya, produksi bahan pangan di Provinsi Bali mampu memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Bali.

Meskipun demikian, Provinsi Bali masih mengalami defisit untuk komoditas bawang putih.

Koster pun meminta kepala daerah dan OPD terkait untuk membentuk tim neraca pangan di tingkat kota/kabupaten yang bertugas memetakan komoditas bahan pangan yang mengalami surplus/defisit di masing-masing daerah.

"Terakhir, kehadiran BUMD pangan dinilai semakin krusial terutama sebagai penyangga stok bahan pangan terutama ketika harga sedang mengalami lonjakan," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top