Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Buleleng Perlu Bangun Industri Pengolahan Anggur Gerokgak

Buleleng merupakan sentra pertanian terbesar di Bali, dengan memiliki berbagai produk lokal khas seperti anggur, kopi, mangga, manggis, rambutan, hingga durian.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 31 Maret 2021  |  10:57 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster tengah didampingi Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana kiri dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho kanan meninjau Pasar Banyuasri usai diresmikan pada Selasa (30/3/2021). - Istimewa
Gubernur Bali Wayan Koster tengah didampingi Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana kiri dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho kanan meninjau Pasar Banyuasri usai diresmikan pada Selasa (30/3/2021). - Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR - Gubernur Bali Wayan Koster meminta pemerintah daerah Buleleng menciptakan industri pengolahan atas komoditas pertanian anggur yang ada di Gerokgak.

Buleleng merupakan sentra pertanian terbesar di Bali, dengan memiliki berbagai produk lokal khas seperti anggur, kopi, mangga, manggis, rambutan, hingga durian.

Pemerintah daerah setempat diharapkan mulai melakukan hilirisasi atas komoditas pertanian tersebut untuk meningkatkan nilai tambah.

Seperti misalnya hilirisasi dengan membangun industri olahan anggur di Gerokgak.

Apalagi, Bali telah menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali.

"Saya harap anggur di Gerokgak itu dikelola dengan menciptakan industri olahan, supaya nilai ekonomi masyarakat lokal Buleleng terus berkelanjutan," katanya, seperti dikutip dalam rilis, Rabu (31/3/2021).

Selain itu, Koster juga meminta setiap produk lokal yang dijual kepada konsumen memiliki kualitas dengan tampilan kemasan modern, ditata dengan baik, dan memiliki standar harga tetap sehingga tidak ada lagi tawar menawar.

Bali saat ini tengah menerapkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

"Ini merupakan solusi untuk menertibkan harga di pasaran dengan catatan tetap menguntungkan para pedagang lokal," sebutnya.

Buleleng saat ini telah memiliki Pasar Banyuasri berkonsep Tradisional dan Modern yang baru diresmikan, Selasa (30/3/2021).

"Saya apresiasi upaya Bupati Buleleng telah membangun Pasar Banyuasri. Sejak saya kecil, pasar ini sudah ada di Buleleng, namun kondisinya tidak teratur. Sehingga baru sekarang saya bisa melihat pasar ini berdiri megah dengan konsep desain arsitektur Bali yang bagus," sebutnya.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan Pasar Banyuasri dibangun dengan konsep gotong royong dengan dana Rp 175 miliar bersumber dari APBD Pemkab Buleleng Rp100 miliar, APBD Provinsi Bali sebanyak Rp50 miliar, dan Pemerintah Kabupaten Badung Rp25 miliar.

"Saya mengucapkan terima kasih banyak atas terwujudnya pasar ini dan berjanji akan menghadirkan produk lokal khas Buleleng sebagai implementasi dari Pergub Bali Nomor 99 Tahun 2018," jelasnya.

Sedangkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho dalam sambutannya menyampaikan Pasar Banyuasri merupakan pasar paling megah dan The Biggest Market in Bali.

"Pasar yang bernuansa tradisional modern ini juga telah menerapkan digitalisasi pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Sehingga di masa pandemi, digitalisasi pembayaran berbasis QRIS menjadi hal penting yang harus dilakukan sebagai salah satu upaya menerapkan protokol kesehatan," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali buleleng anggur
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top