Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Kedelai Tak Ideal, Pengusaha Tahu Tempe di Bali Merugi

Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, pengusaha tempe dan tahu terpaksa melakukan penurunan kualitas berupa mengecilkan volume produk
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  16:12 WIB
Pekerja memproduksi tahu disebuah industri rumahan di Jakarta, Rabu (18/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja memproduksi tahu disebuah industri rumahan di Jakarta, Rabu (18/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, DENPASAR – Pengusaha tahu tempe di Bali menilai kenaikan harga kedelai yang terjadi saat ini melebihi ambang batas ideal sehingga produksi mengalami penurunan dan menanggung kerugian.

Ketua Pusat Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Bali Haji Sutrisno mengatakan kenaikan ideal harga kedelai adalah senilai Rp7.500 per kg, sedangkan saat ini harganya telah mencapai Rp9.500 per kg.

Di satu sisi, ketika kedelai berada pada harga normal yakni senilai Rp7.000 per kg, pihaknya masih bisa menjual dengan harga Rp10.000 per kg dan mendapatkan untung kotor Rp3.000 per kg.

Di tengah harga kedelai di Bali yang mengalami kenaikan hingga Rp9.500 per kg, pengusaha tahu tempe mengaku tidak mendapatkan untung dan cenderung merugi. Tetapi, pengusaha tempe dan tahu tidak mampu menaikkan harga karena permintaan dari konsumen.

Sebagai siasat, pengusaha tempe dan tahu pun terpaksa melakukan penurunan kualitas berupa mengecilkan volume produk. Produksi yang biasanya 10 buah menjadi 12 buah dengan ukuran yang lebih kecil.

"Dengan kedelai naik jadi Rp9.500 per kg, pendapatan kita bahkan minus, sebagian menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran produk, kan konsumen tidak mau harga dinaikkan, dari biasanya Rp1.000 kok jadi Rp1.200," katanya kepada Bisnis, Rabu (6/1/2021).

Selain tidak mendapatkan untung, pengusaha tahu tempe pun terpaksa menurunkan volume produksi. Pada kondisi normal, produksi tahu tempe di Bali mencapai 150.000 kilogram per hari. Saat ini karena kenaikan harga kedelai dan pasar yang lesu, produksi menurun 30 persen.

Adapun di Bali terdapat 1.800 pabrik pengrajin tahu tempe dengan kebutuhan kedelai per bulan 2.287.108 kg atau kebutuhan per tahun 27.445.296 kg.

Dari kebutuhan bahan baku kedelai tersebut, impor masih mendominasi dengan porsi 85 persen, sedangkan ketersediaan lokal hanya 15 persen. Kenaikan harga kedelai yang mencapai Rp9.500 per kg hanya untuk kedelai impor. Saat ini kedelai lokal disinyalir ketersediaannya masih kosong di pasaran karena belum ada panen.

"Isu tentang kenaikan harga kedelai impor dipicu oleh tingginya permintaan dari negara China sampai 2 kali lipat dari biasanya, untuk harga ideal kedelai impor sesuai dengan harga jual produk olahannya Rp7.500," sebutnya.

Lebih lanjut, Sutrisno menjelaskan pihaknya pun terpaksa melakukan mogok kerja tiga hari agar pemerintah segera merespon kenaikan harga kedelai dan menolong pengusaha tahu dan tempe.

Seperti halnya di masa pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono, kenaikan harga kedelai direspons pemerintah dengan memberikan subsidi kepada pengusaha tahu dan tempe sebesar Rp1.000 per kilogram selama 100 hari.

Setelah mogok produksi 3 hari, saat ini pengusaha tempe dan tahu di Bali telah menaikkan harga jual yang semula Rp5.000 untuk tahu biasa isi 10 bungkus menjadi Rp6.000. Kemudian, tahu biasa isi 5 yang semula Rp2.500 menjadi Rp3.000.

Harga tahu sumedang yang semula Rp6.000 per bungkus untuk isi 10 menjadi Rp7.000. Sementara itu, harga tempe menyesuaikan degan ukuran masing-masing.

Hanya saja, dengan kenaikan harga tersebut dinilai belum cukup menutupi kerugian. Saat ini pengusaha tahu dan tempe hanya berusaha untuk bertahan untuk melakukan produksi.

"Kami berharap bisa bertahan untuk melakukan produksi dan pemerintah bisa mengendalikan harga kedelai agar tidak melejit," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga kedelai impor kedelai tahu tempe
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top