Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berlibur Ke Bali, Jangan Lupa Belajar Membuat Garam Tradisional di Amed Karangasem

Garam yang kami buat secara tradisional, sehingga bentuk dan rasanya berbeda dari lainnya.
Luh Putu Sugiari
Luh Putu Sugiari - Bisnis.com 11 November 2020  |  14:05 WIB
Petani menunjukkan garam di Salt Center Amed Karangasem.
Petani menunjukkan garam di Salt Center Amed Karangasem.

Bisnis.com, DENPASAR - Liburan ke Bali akan terasa menyenangkan sembari belajar membuat garam di Salt Center Amed Karangasem Bali.

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Garam Amed (MPIG) Bali Nengah Suanda saat ditemui tim Jelajah Wisata KemBali yang diinisiasi oleh Bisnis Indonesia menjelaskan cara membuat garam tradisional mulai dari penyiapan tanah kemudian ditampung dalam wadah besar, yang direndam dalam air laut.

Selanjutnya air disaring selama semalam, air saringan lalu dikristalisasi pada sebuah palungan dengan bantuan sinar matahari selama empat hari.

"Garam yang kami buat secara tradisional, sehingga bentuk dan rasanya berbeda dari lainnya," tuturnya di Koperasi Salt Center Amed, Rabu (11/11/2020).

Selama pandemi, Suanda bersama 24 orang petaninya tetap produktif membuat garam karena permintaan yang terus meningkat untuk kebutuhan masyarakat Jakarta dan Bali. Termasuk dengan adanya tambahan permintaan ekspor ke negara Swiss sebanyak 20 ton.

"Saat ini kami masih fokus untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, permintaan akan garam tidak terpengaruh Covid-19," jelasnya.

Menurut Suanda, setiap musim garam pada Agustus hingga akhir November dapat menghasilkan 40 ton garam yang sudah melalui proses pengeringan di rumah produksi. Dimana 30 persennya akan langsung didistribusikan, sisanya di stok untuk kebutuhan sepanjang tahun.

"Garam yang kami buat natural, sehingga bisa bertahan hingga tiga tahun," tambahnya.

Terkait adanya Covid-19, dia menuturkan petani garam tidak terlalu terpengaruh dengan pandemi. Terlebih satu orang petani dapat bekerja sebagai nelayan, peternak, dan juga bekerja di ladang saat musim hujan tiba.

Untuk omzet, sambungnya, sebagai petani garam atau selama 4 bulan, satu orang petani dengan luas lahan 150 m2 dapat memperoleh omzet Rp25 juta hingga Rp30 juta.

Dia mengungkapkan, garam produksi Amed memiliki tekstur dan rasa yang berbeda dengan garam lainnya, yakni tidak menimbulkan rasa pahit jika dikonsumsi. Terlebih rumah produksi garam juga telah mempunyai standarnya sendiri.

"Garam yang kami produksi juga sangat digemari oleh wisatawan yang berlibur ke Bali Timur," jelasnya.

Jika ingin berlibur ke Bali, jangan lupa mampir ke Salt Center Amed, anda dapat belajar membuat garam sekaligus membelinya langsung dari petani. Salt Center ini berada di Jl Ketut Natih, Purwakerti, Abang, Karangasem Bali atau sekitar tiga jam dari Kota Denpasar.

Program Jelajah Wisata KemBali ini didukung oleh, Kemenparekraf, BPD Bali, Astra Isuzu, Pegadaian Kantor Wilayah VII Denpasar, BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banuspa, Pertamina Region Jatimbalinus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali garam karangasem
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top