Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Bali Dibuka 9 Juli, Aprindo: Tak Sinifikan karena Daya Beli Konsumen Turun

Sektor ekonomi Bali kecuali sektor pariwisata akan dibuka pada 9 Juli mendatang, namun dirasa belum dapat memberi dampak yang signifikan terhadap pelaku usaha ritel, karena daya belu konsumen turun akibat pandemi Covid-19.
Luh Putu Sigiari
Luh Putu Sigiari - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  13:58 WIB
Pengunjung berburu buah apel di Tiara Dewata Supermarket Denpasar menjelang Hari Raya Kuningan pada Sabtu (25/7/2015). - Bisnis/Natalia Indah Kartikaningrum
Pengunjung berburu buah apel di Tiara Dewata Supermarket Denpasar menjelang Hari Raya Kuningan pada Sabtu (25/7/2015). - Bisnis/Natalia Indah Kartikaningrum

Bisnis.com, DENPASAR - Sektor ekonomi Bali kecuali sektor pariwisata akan dibuka pada 9 Juli mendatang, namun dirasa belum dapat memberi dampak yang signifikan terhadap pelaku usaha ritel, karena daya belu konsumen turun akibat pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Bidang Organisasi Aprindo Bali AAG Agra Putra mengatakan para pelaku usaha tidak dapat berharap banyak dengan dampak yang signifikan seperti sebelum adanya pandemi ini. Sebab kapasitas maksimum dari tempat perbelanjaan juga dibatasi, yakni hanya 50 persen. Artinya secara tidak langsung pendapatan telah berkurang setengahnya.

Terlebih lagi, daya beli masyarakat Bali di tengah pandemi yang masih rendah. Sebab selama 3 bulan terakhir mereka tidak memiliki pendapatan, sehingga berpengaruh pada pengurangan konsumsinya.

“Saat ini yang paling diutamakan oleh masyarakat adalah kebutuhan pokok dan kesehatan. Bahkan untuk memenuhi itu mereka juga sudah cukup berat,” katanya saat dihubungi oleh Bisnis, Senin (22/6/2020).

Menurutnya, semasih sektor andalan di Bali yakni sektor pariwisata yang menjadi penopang ekonomi sebagian besar dari masyarakat belum dibuka, maka daya beli juga masih tetap rendah.
Dari sisi lain, jika pariwisata dibuka tentunya secara langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Tetapi tidak akan langsung berjalan dengan normal, sebab negara-negara yang menjadi pasar pariwisata di Bali juga tentunya perlu melakukan proses pemulihan dan belum tentu mereka akan langsung berwisata.

Agung berpendapat, saat ini adalah momen yang tepat bagi pemerintah untuk mengandalkan sektor lainnya seperti industry kreatif. Jika dilihat dari sejarahnya, sekitar 1990 ekspor masih didominasi oleh produk kerajinan dan kesenian Bali. Setelah itu, pariwisata mulai mendominasi ekonomi di Bali, padahal sektor ini yang paling rentan oleh isu-isu internasional.

Kepala Koperasi dan UMKM Provinsi Bali I Wayan Mardiana turut menyambut reopening di Pulau Dewata, sebab sejauh ini para perusaha sudah merasa sangat lesu akan dampak ekonomi yang dirasakan.

Mardiana menuturkan, bahwa pihaknya sedang menyusun protokol kesehatan normal baru untuk pelaku usaha di Pulau Dewata. Namun yang lebih ditekankan yakni wajib menggunakan masker bagi pedagang dan pengunjung, tersedianya tempat cuci tangan yang memadai dan penyemprotan desinfektan sebelum dibukanya usaha.

“Yang kami tekankan juga adalah menggunaan transaksi secara digital, untuk mengurangi penyebaran virus melalui uang tunai,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali ritel aprindo
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top