BI Prediksi Ekonomi Bali Kembali Tumbuh 6 Persen

Bank Indonesia Bali memprediksi tingkat pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata pada 2020 akan kembali ke angka 6%, didorong oleh meningkatnya kinerja semua jenis lapangan usaha utama.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 12 Januari 2020  |  14:57 WIB
BI Prediksi Ekonomi Bali Kembali Tumbuh 6 Persen
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho

Bisnis.com, DENPASAR—Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali memprediksi tingkat pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata pada 2020 akan kembali ke angka 6%, didorong oleh meningkatnya kinerja semua jenis lapangan usaha utama.
 
Beberapa faktor pendorong peningkatan kinerja ekonomi tersebut ditaksir bersumber sektor terkait pariwisata seiring dengan meningkatnya kapasitas pelabuhan Benoa yang mendorong peningkatan  jumlah kapal pesiar ke Bali.

Selain itu, sumber peningkatan kinerja juga berasal dari pengerjaan beberapa proyek konstruksi baik yang merupakan kelanjutan dari 2019 maupun yang dimulai pada 2020 seperti Shortcut Mengwitani-Singaraja.
 
“Faktor lain adalah prakiraan membaiknya kinerja ekonomi negara mitra dagang utama, penambahan direct fight serta  pengembangan pasar wisman alternatif yaitu antara lain wisatawan dari negara-negara Eropa Timur,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho pada, Jumat (10/1/2020).
 
Trisno memprediksi tingkat pertumbuhan ekonomi destinasi utama wisata Indonesia ini akan berada pada angka 5,70%-6,10%. Peluang bagi industry keuangan untuk ikut berlari kencang menyalurkan kredit mereka terhadap masyarakat.

Menurutnya, tidak ada alasan lagi bagi pelaku jasa keuangan di pulau berpenduduk 4,2 juta jiwa ini untuk memperlambat kinerja.
 
Berdasarkan data Bisnis, kinerja ekonomi Bali pada 2019 diprakirakan akan tertahan pada angka 5,40%-5,80%, lebih rendah dibandingkan dengan 2018 yang tumbuh 6,35%.

Penyebab perlambatan tu karena jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Jumlah wisman ke Bali sampai dengan Nopember 2019 telah mencapai 5,73 juta wisman, dari target akhir tahun sebanyak 6,5 juta wisman. 

Akibatnya, capaian devisa Bali dari pariwisata hingga periode Nopember 2019 diprakirakan mencapai US$5,10 miliar dari target akhir tahun senilai US$6,35 miliar. Kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Bali ditaksir mencapai 60%.
 
Meskipun capaian kinerja itu masih diatas rengkuhan nasional, tetapi jika melihat data historis maka dapat dikategorikan tertahan.

Sejak 2016, tingkat pertumbuhan ekonomi daerah ini sudah menyentuh angka 6,32%. Kontraksi terjadi mulai 2017 ketika terjadi erupsi Gunung Agung yang membuat aktivitas penerbangan ditutup dan membuat pergerakan arus penumpang wisatawan terganggu.
 
Situasi itu menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi pada 2017 kontraksi menjadi 5,59%. BPS Bali mencatat, 2017 merupakan tingkat pertumbuhan terendah daerah ini sejak 2011.

Meskipun pada 2018, tingkat ekonomi daerah ini kembali tembus angka 6,35%, tetapi capaian ini tidak diperoleh secara organic. Saat itu terdapat pembangunan infrastruktur massif untuk persiapan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali sehingga mendongkrak kinerja daerah.
 
Trisno mengungkapkan pada 2019 lalu, sebagaimana terjadi pada perekonomian nasional, kinerja ekspor Bali juga terdampak oleh kondisi perekonomian global.

Kendati demikian perbaikan ekspor mulai terlihat pada semester II 2019, tercermin dari membaiknya kinerja ekspor barang dan jasa. Mengutip BPS Bali, nilai ekspor dari daerah ini pada periode Januari-November 2019 hanya tumbuh 1,1% atau senilai US$545,8 juta.
 
Selain itu, investasi masih tertahan yang disebabkan oleh sikap wait and see pelaku usaha menanti kebijakan presiden terpilih pada tahun lalu.

Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Bali, realisasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sampai November baru Rp9,7 triliun. Capaian itu sekitar 65,33% dari total target sampai akhir tahun lalu yang diharapkan mencapai Rp14,8 triliun.
 
“Rendahnya angka investasi juga disebabkan adanya base effect dimana pada 2018, nilai investasi cukup tinggi akibat adanya IMF-WB AM 2018,” ungkapnya.
 
Fokus Perekonomian

Gubernur Bali I Wayan Koster optimistis pada 2020 ini, pertumbuhan lebih dari 6% bukan hal yang mustahil. Dia mengaku telah menyiapkan berbagai langkah sebagai upaya memperkuat pondasi perekonomian Bali dengan mendorong pembangunan di segala bidang.

Mantan anggota DPR RI ini menilai meskipun tahun lalu capaian diprakirakan rendah, dia tetap puas karena angka pertumbuhan itu masih di atas perekonomian nasional.
 
Untuk mencapai pertumbuhan hingga 6%, pada tahun ini pihaknya akan focus dengan perekonomian daerah.

Caranya, dengan memperkuat sentra pangan, meningkatkan kualitas ekspor serta menguatkan kinerja pertanian tradisional seperti buah manggis, pisang, kakao, olahan kopi serta produksi arak Bali. Untuk itu pihaknya meminta bantuan dari pelaku jasa keuangan agar terlibat memberikan permodalan.
 
“Basis ekonomi akan diperkuat, sector pertanian dari hulu sampai hilir akan kami benahi semua agar bisa memacu produk berkualitas untuk ekspor,” tuturnya ketika ditemui di Kantor Perwakilan BI Bali.
 
Manggis Bali saat ini sudah menjadi komoditas ekspor unggulan dari daerah ini. Data Dinas Pertanian Bali, pada 2019, total ekspor komoditas yang dihasilkan di sentra Pupuan Kabupaten Tabanan ini mencapai 5.199 ton. Jumlah itu meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 4.051 ton. Tujuan ekspor manggis Pulau Dewata adalah China.
 
Untuk komoditas kakao, Bali memiliki sentra yang tersebar di Melaya, Kabupaten Jembrana. Saat ini kualitas kakao fermentasi Jembrana sudah diakui oleh perusahaan cokelat dunia dan diekspor langsung ke Negara-negara Eropa serta Jepang.
 
 “Ekspor manggis kita sudah nomor satu, pertanian tradisional lainnya akan terus didorong dan dipetakan dengan baik. Dengan demikian perekonomian Bali akan semakin kuat, didukung sektor pertanian serta sektor pariwisata,“ ujarnya.
 
Upaya lain untuk menjangkau target 6% adalah merancang event berkategori internasional di Bali, contohnya seperti Festival Kopi International serta Festival Budaya Dunia. Menurutnya, lebih tepat membuat event besar mengajak wisatawan datang dibandingkan harus melakukan promosi seperti yang sudah dilakukan selama ini.

Tidak hanya itu, pembangunan dan perbaikan infrastruktur darat, laut dan udara secara terintegrasi akan terus dilanjutkan. Hal ini selain sebagai penunjang kemajuan sektor pariwisata, juga diarahkan sebagai prioritas meningkatkan kesejahteraan krama Bali.
 
Tantangan Inflasi
 
Kendati akan kembali ke level normal, kinerja perekonomian Bali pada tahun ini juga tetap menghadapi sejumlah tantangan khususnya pengendalian inflasi.

Trisno menyatakan ada sejumlah hal yang harus diwaspadai, yakni kenaikan cukai rokok sebesar 23%, kenaikan iuran BPJS kesehatan, peningkatan kunjungan wisatawan yang membawa konsekuensi peningkatan permintaan serta peningkatan biaya pendidikan.

Berdasarkan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) pada minggu pertama Januari 2020, inflasi Bali mencapai 0,22%, seiring dengan terjadinya kenaikan harga beberapa komoditas seperti telur ayam, udang dan bumbu-bumbuan.
 
Meskipun demikian inflasi Bali pada Januari 2020 diprakirakan akan melandai dalam kisaran 0,20%-0,60% (mtm), yang tertahan oleh penurunan tarif angkutan udara, penurunan harga bahan bakar minyak (pertamax) dan penurunan permintaan di masa low season pariwisata.

Sementara itu, untuk sepanjang 2020 inflasi diperkirakan dapat terkendali dalam sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 3%±1%, sebagai hasil dari koordinasi yang solid antara TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota serta dengan stakeholderterkait lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi bali, bank indonesia

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top