Art Bali Presentasikan 32 Seniman Indonesia dan Mancanegara

Pameran seni rupa kotemporer tahunan berbasis di Bali, yakni Art Bali akan kembali dibuka selama 3 bulan di AB.BC Building, Bali Collection, Kawasan ITDC, Nusa Dua dengan mengusung tema Speculative Memories atau Ingatan-ingatan Spekulatif.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  16:28 WIB
Art Bali Presentasikan 32 Seniman Indonesia dan Mancanegara
Karya Wimo Ambala Bayang/Melempar Caping untuk Membuat Segitiga (Homage to Baldessari)

Bisnis.com, DENPASAR—Pameran seni rupa kotemporer tahunan berbasis di Bali, yakni Art Bali akan kembali dibuka selama 3 bulan di AB.BC Building, Bali Collection, Kawasan ITDC, Nusa Dua dengan mengusung tema Speculative Memories atau Ingatan-ingatan Spekulatif.

Sebanyak 32 seniman Indonesia dan mancanegara akan ikut mempresentasikan hasil karya seni rupa kontemporer mereka mulai dari 13 Oktober 2019 hingga 13 Januari 2020.

Dikuratori oleh Rifky Effendy dan Ignatia Nilu, pameran Art Bali kali ini menghadirkan karya-karya seni visual dalam pelbagai presentasi medium seperti lukisan, instalasi, dan karya-karya dengan media seni baru.

Total karya adalah 49, terdiri dari 25 karya dua dimensi dan 5 karya tiga dimensi serta 19 karya merupakan instalasi/multimedia/video/dan media lainnya.

Salah satu karya adalah milik seniman I Wayan Sujana ‘Suklu’ yang merespon tema pameran dengan mengeksplorasi memori personalnya atas memori kultural agraris. Dia menggunakan bambu sebagai medium ungkap.

“Karya-karya di pameran ini melahirkan peristiwanya sendiri. Dia telah membentuk banyak realitas dengan berbagai peralihan kemungkinan. Ingatan atas waktu memiliki perspektif yang tidak melulu dinyatakan oleh kekuatan yang besar tetapi menampilkan potongan-potongan kecil yang belum sempat tergali bahkan belum ditemukan. Kita senantiasa membutuhkan upaya baru untuk memahami realitas yang terjadi hari-hari ini demi mewujudkan dan merayakan kemanusiaan,” ujar Ignatia Nilu dikutip melalui siaran pers, Kamis (10/10/2019).

Menurutnya, memori bisa diterjemahkan sebagai ingatan, dan ingatan ini muncul secara neurotik. Namun, hari-hari ini ingatan sudah bergeser, khususnya karena teknologi, ingatan tidak lagi ditentukan oleh apa yang bisa diingat tetapi apa yang ada di cloud.  Nilu menegaskan teknologi adalah perpanjangan baru dari memori manusia saat ini.

“Ingatan kita akan sejarah sangat ditentukan oleh bagaimana dituliskan di era modern terutama di era internet. Ini salah satu yang menyebabkan ingatan-ingatan atau catatan sejarah menjadi sangat arbitrer dan memunculkan neo-konservativisme baru,” jelasnya.

Rifky Effendy menambahkan sebagian karya-karya yang dipamerkan juga menghadirkan gugatan atas memori kolektif. Para seniman menafsirkan dan menghadirkan wacana dalam karya-karyanya yang berkorelasi dengan persoalan-persoalan di sekitar. Wacana reliji dan toleransi sangat mendominasi karya-karya di Art Bali kali ini.

I Wayan Sujana ‘Suklu’ mengatakan karyanya yang masih dalam proses adalah karya yang bersenyawa dengan konsep ruang, kosmologi dan situasi sehari-hari yang ada di Art Bali. Dia mengungkapkan 50% bentuk yang muncul akan dipengaruhi oleh bukan hanya memorinya, tetapi juga memori tumbuhan, hingga memori teman-teman yang saya ditemui ketika proses penciptaan.

Art Bali dirancang sebagai salah satu pameran seni berskala besar dan bertaraf internasional di Indonesia dengan tujuan untuk membangun dan mengembangkan ekosistem seni dan budaya di Bali pada khususnya. Art Bali juga ditujukan untuk menginspirasi dan menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap perkembangan karya artistik seniman dan meningkatkan minat masyarakat agar selalu mengunjungi peristiwa seni termasuk seni rupa kontemporer.  Selain sebagai edukasi publik, Art Bali dimaksudkan untuk ikut mendorong pariwisata Bali. Oleh karena itu, pameran ini dilangsungkan selama tiga bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, seni budaya

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top