Menjelang Idulfitri, Stok Bahan Pangan di Buleleng Aman

Stok bahan pangan menjelang Idul Fitri 1440 Hijriah di Kabupaten Buleleng, Bali, tergolong aman dengan tingkat inflasi masih berada di bawah tingkat inflasi nasional.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  23:45 WIB
Menjelang Idulfitri, Stok Bahan Pangan di Buleleng Aman
Ilustrasi pedagang bahan panbgan di pasar tradisonal. - Reuters/Iqbal Rinaldi

Bisnis.com, SINGARAJA – Stok bahan pangan menjelang Idul Fitri 1440 Hijriah di Kabupaten Buleleng, Bali, tergolong aman dengan tingkat inflasi masih berada di bawah tingkat inflasi nasional.

"Ketersediaan sembilan bahan pokok masih tergolong aman," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Buleleng, Nyoman Surya Temaja di Singaraja, Buleleng, Jumat (31/5/2019).

Ketersediaan beras, misalnya, dari 78.000 ton beras produksi setiap tahun di Buleleng hanya sekitar 74.000 hingga 75.000 ton per tahun yang dibutuhkan, sehingga masih tersedia cadangan sebanyak 3.000 hingga 4.000 ton beras

Selain beras, kata Surya Temaja, sembako lainnya seperti telur, daging sapi atau ayam juga tidak menjadi persoalan meskipun terjadi kenaikan harga daging. "Kenaikan harga daging sebesar sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram di Hari Raya ini saya rasa masih dalam batas wajar," jelasnya.

Untuk menjamin keamanan bahan-bahan makanan itu, pihak DKP Buleleng telah bekerja sama dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Buleleng serta dinas terkait melakukan pengawasan terhadap bahan-bahan pangan yang disediakan oleh para pedagang makanan atau hidangan untuk berbuka puasa.

Dari hasil pengawasan yang diperoleh, masih terdapat bahan-bahan kimia yang tidak direkomendasikan, seperti pada pewarna makanannya, maka dari itu, tim pengawas merekomendasikan untuk memakai pewarna alami.

"Walaupun pewarna alami terlihat masih kurang menarik, tetapi sudah tentu lebih aman untuk dikonsumsi, dan tidak berbahaya bagi kesehatan," katanya.

Terkait tingkat inflasi, Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Buleleng, Desak Putu Rupadi, SE mengatakan Perusahaan Daerah (PD) Pasar dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Buleleng telah melaksanakan operasi pasar yaitu penyelenggaraan pasar murah dari pasar-pasar besar seperti Pasar Banyuasri, Pasar Anyar hingga ke desa-desa.

Menurut dia, pasar murah ini diselenggarakan untuk menjaga stabilitas harga serta ketersediaan bahan pokok yang tentunya berpengaruh terhadap tingkat inflasi.

"Harga kebutuhan pokok sudah stabil, seperti bawang putih yang dulunya sempat mencapai harga Rp 80.000 per kg, sekarang sudah mengalami penurunan harga hingga Rp 30.000 per kg," katanya.

Rupadi mengatakan persentase inflasi terakhir April 2019 sebesar 0,39 persen serta akumulasi per tahunnya terhitung dari Januari hingga April sebesar 0,98 persen.

Jika dilihat dari perbandingan inflasi antara Kota Singaraja (0,38 persen), Kota Denpasar (0,26 persen) dan Nasional (0,44 persen), Buleleng masih tergolong bagus karena masih berada di bawah angka satu persen dan di bawah tingkat inflasi nasional.

"Faktor yang memengaruhi inflasi dan deflasi selain harga bahan pokok bisa juga dilihat dari biaya listrik, BBM, serta tiket transportasi. Kita di daerah pengendaliannya hanya di sandang, pangan dan pakaian saja," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buleleng, bahan pangan

Sumber : Antara
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top