Musrenbang Bali, Gubernur Tegaskan Visi Lima Tahun ke Depan

Visi ini mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 11 April 2019  |  17:29 WIB
Musrenbang Bali, Gubernur Tegaskan Visi Lima Tahun ke Depan
Gubernur Bali Wayan Koster. - Antara

Bisnis.com, DENPASAR – Gubernur Bali I Wayan Koster berpesan agar implementasi visi pembangunan Bali lima tahun ke depan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Pulau Dewata.

“Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali agar dijabarkan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah dan terpadu berdasarkan skala prioritas, dengan sasaran yang jelas dan terukur,” katanya saat membuka Musrenbang 2020, Kamis (11/4/2019).

Menurut Koster, Nangun Sat Kerthi Loka Bali telah resmi ditetapkan sebagai visi pembangunan lima tahun ke depan yang tertuang dalam Perda No 3 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2018-2023.

Visi ini mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sekala-niskala menuju kehidupan krama dan gumi Bali sesuai prinsip Trisakti Bung Karno.

Prinsip Trisakti yang dimaksud adalah berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah dan terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila 1 Juni 1945.

“Bali harus bangga karena menjadi pilot project konsep pembangunan rancangan Presiden Soekarno yang belum sempat terealisasi karena masa kepemimpinannya saat itu telah berakhir,” katanya.

Kata dia visi tersebut akan mengantarkan Bali menuju era baru yang ditandai dengan tatanan kehidupan holistik yang meliputi tiga dimensi utama yakni, pertama, menjaga keseimbangan alam, krama (manusia) dan kebudayaan Bali (genuine Bali).

Dimensi kedua, bisa memenuhi kebutuhan, harapan, dan aspirasi krama Bali dalam berbagai aspek kehidupan. Dan, dimensi ketiga, merupakan manajemen risiko yakni memiliki kesiapan yang cukup dalam mengantisipasi munculnya permasalahan dan tantangan baru dalam tataran lokal, nasional, dan global yang akan berdampak secara positif maupun negatif.

Koster menegaskan bahwa visi dan Bali era baru diwujudkan dengan fokus pada pembangunan yang merupakan penataan fundamental Bali, mencakup tiga aspek utama meliputi alam, krama (manusia) dan kebudayaan Bali berdasarkan nilai-nilai Tri Hita Karana, yang dilaksanakan dengan konsep Sad Kertih (atma kertih, wana kertih, danu kertih, segara kertih, jana kertih dan jagat kertih).

Pembangunan Bali dilaksanakan dengan konsep Pola Pembangunan Semesta Berencana (PPSB) yang berlangsung secara sistematis, masif, dan dinamis dalam tataran lokal, nasional, dan global.

Untuk mewujudkannya, penyelenggaraan pembangunan Bali harus dilakukan dengan pendekatan aspek pembangunan yang mengandung dimensi sakala dan niskala, bersifat holistik, integratif, dan berbasis perencanaan yang bersifat sinergis.

Koster menambahkan pembangunan berbasis kepemimpinan kultural, dengan pendekatan satu kesatuan wilayah dan berpihak pada kepentingan Bali.

Ia juga berpesan seluruh jajaran perencana pembangunan bersama seluruh pemangku kepentingan, harus terus bekerja keras, berkoordinasi, dan bersinergi, dalam pelaksanaan program pembangunan, serta dalam menghadapi dinamika dan tantangan pembangunan yang semakin kompleks.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top