Tangani Pascapanen, Bali Kebut Fasilitas Irradiasi Sinar Gamma

Gubernur Bali I Wayan Koster minta rencana pembangunan fasilitas penanganan pascapanen produk pertanian dengan sistem iradiasi gamma dipercepat.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 03 April 2019  |  19:31 WIB
Tangani Pascapanen, Bali Kebut Fasilitas Irradiasi Sinar Gamma
Buah manggis salah satu komoditas ekspor dari Bali. - Pertanian.go.id

Bisnis.com, DENPASAR — Gubernur Bali I Wayan Koster minta rencana pembangunan fasilitas penanganan pascapanen produk pertanian dengan sistem iradiasi gamma dipercepat.

“Fasilitas ini merupakan salah satu solusi penanganan masalah pertanian di hilir dan memberdayakan hasil pertanian secara maksimal,” katanya dikutip Rabu (3/4/2019).

Menurut Koster pembangunan fasilitas penanangan pasca panen hasil pertanian dengan iradiasi gamma ini juga merupakan salah satu wujud nyata dari pemberlakuan Pergub No.99 Tahun 2018 tentang pemanfaatan dan pemasaran produk pertanian lokal.

Ia yakin fasilitas penanganan pasca panen ini bakal membuat produk pertanian bisa bertahan lebih panjang, buah dan sayur awet dan tahan lama, serta terbebas dari bakteri.

Koster menyebut fasilitas ini diperkirakan menelan biaya hingga Rp160 miliar yang akan segera dicarikan solusinya, termasuk dengan mengupayakan alokasi anggaran dari pusat.

Kata dia lahan telah tersedia seluas 22 hektare di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

“Kebutuhan lahan memang luas, karena harus ada pergudangan, ruang sortir, dan mengemas sebelum masuk ke mesin pengolahan irradiasi gamma,” tegas Koster

Peneliti energi nuklir dari Batan Prof. Yohannes Sardjono mengatakan keunggulan dari penerapan irradiasi gamma pada produk pertanian dan peternakan yang mampu memperpanjang usia simpan produk tersebut.

“Pemaparan dengan sinar gamma akan membantu meminimalkan bakteri dan penyebab busuk lainnya sehingga masa simpan bisa lebih panjang,” katanya.

Kata dia prosesnya sama sekali tidak merusak kandungan gizi dari bahan pangan dan tetap aman serta higienis untuk dikonsumsi.

Dengan masa simpan yang panjang, produk pertanian tersebut otomatis dapat dipasarkan dan didistribusikan dengan lebih leluasa karena meminimalkan risiko kebusukan.

Ia menambahkan fasilitas ini akan sangat mengurangi risiko produk yang terbuang sia-sia dan petani bisa mendapatkan dampak secara ekonomi karena produknya bisa lebih lama dipasarkan.

Fasilitas iradiasi sinar gamma sudah banyak diterapkan di negara-negara lain terutama yang memiliki komoditas pertanian seperti Jepang, China, dan Australia.

Ia berharap dengan pembangunan fasilitas ini Bali bisa menuju kepada kedaulatan pangan, penanganan pertanian dari hulu ke hilir serta memberikan produk berkualitas baik untuk pasar lokal maupun wisatawan asing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor buah

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top