Gubernur Bali Janji Tutup Operasional Taksi Online Setelah Pemilu 2019

Gubernur Bali I Wayan Koster berjanji melakukan penutupan operasional taksi online di Pulau Dewata setelah pemilihan umum 2019 berakhir.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  16:29 WIB
Gubernur Bali Janji Tutup Operasional Taksi Online Setelah Pemilu 2019
Gubernur Bali Wayan Koster - Antara

Bisnis.com, DENPASAR – Gubernur Bali I Wayan Koster berjanji melakukan penutupan operasional taksi online di Pulau Dewata setelah pemilihan umum 2019 berakhir.

Janji tersebut diucapkan Koster setelah menerima dan beraudiensi dengan sopir pariwisata yang bekerja secara konvensional tanpa menggunakan aplikasi.

Dalam audiensi yang dilakukan pada Kamis (7/2/2019), sopir taksi konvensional meminta gubernur melakukan penutupan operasional taksi online sebab mereka merasa dirugikan.

Koster pun menanggapi dengan memberikan sejumlah janji. Salah satu janjinya adalah akan membuat aplikasi khusus untuk sopir taksi konvensional. Namun, ketika janji itu disampaikan, massa yang menemuinya di depan Kantor Gubernur Bali langsung bersorak tidak setuju.

Sopir taksi konvensional ini tidak ingin dibuatkan aplikasi. Mereka hanya menginginkan gubernur melakukan penutupan operasional taksi online.

“Kita sudah bicara tadi, semua akan diterapkan secara modern, harus cari waktu tepat yang fisiknya sama,” kata Koster, Kamis (7/2/2019).

Ketika mendapatkan sorakan, Koster kembali meminta massa untuk tenang. Dia berjanji akan melakukan hal yang terbaik, salah satunya dengan melakukan penutupan operasional taksi online.

Hanya saja, dia meminta massa untuk bersabar, sebab masih diperlukan waktu untuk melakukan hal tersebut. Dia berjanji akan menerapkan kebijakan tersebut setelah Pemilihan Umum 2019. 

“Saya perhatikan serius, tunggu waktu yang tepat saja, kita sikapi setelah pemilu,” katanya.

Ketua Bali Transport Bersatu (BTB) yang mewadahi sopir taksi konvesional I Nyoman Suwendra mengatakan pihaknya menagih komitmen Gubernur Bali. Menurutnya, sejak taksi online beroperasi sekitar tiga sampai empat tahun lalu di Bali, mereka kesulitan mendapatkan penumpang. Bahkan, mereka harus mengantre lama di pangkalan.

Sopir taksi konvensional mengalami penurunan pendapatan hingga 90% dari rata-rata biasanya. Adapun, dalam sehari mereka mengaku hanya mendapatkan upah senilai Rp50.000 sampai Rp70.000 saja dengan jumlah penumpang hanya satu dua orang.

BTB juga mengganggap dengan hadirnya taksi online, Bali dijual dengan harga murah. Adapun biaya transportasi taksi konvensional dengan taksi online memang berbeda jauh. Perbedaan harga ini lantaran taksi online yang tidak perlu mengeluarkan biaya kontribusi bagi destinasi maupun desa tempat menarik penumpang.

“Kami harapkan menutup taksi online di Bali, karena kami yang memilih Bapak Gubernur,” kata Suwendra.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, taksi online

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top