Masyarakat Hindu, Budha, dan Konghuchu di Bali Rayakan Imlek

Masyarakat Hindu, Budha, dan Konghuchu di Bali beserta sejumlah wisatawan memadati Kongco Dwipayana, Denpasar untuk melakukan persembahyangan Hari Raya Imlek, Selasa (5/1/2019).
Ni Putu Eka Wiratmini | 05 Februari 2019 16:36 WIB
Masyarakat Hindu-Budha di Bali merayakan Imlek dengan bersembahyang di Kongco Dwipayana, Denpasar, Selasa 5 Februari 2019. - Bisnis/Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR – Masyarakat Hindu, Budha, dan Konghuchu di Bali beserta sejumlah wisatawan memadati Kongco Dwipayana, Denpasar untuk melakukan persembahyangan Hari Raya Imlek, Selasa (5/1/2019).

Persembahyangan telah dilakukan sejak pagi. Mereka yang datang umumnya masyarakat Hindu yang juga memuja dewa-dewa kepercayaan masyarakat China. Mereka datang dengan membawa sesajen lengkap berupa buah dan dupa dengan memakai pakaian adat Bali. 

Masyarakat keturunan China yang datang juga ada yang memakai pakain adat Bali. Mereka memadu madankan pakaian adat Bali dengan Congsam atau kostum tradisional perempuan China. 

Selain masyarakat lokal, ada pula wisatawan yang turut hadir merayakan Imlek dengan melakukan persembahyangan di Kongco Dwipayana. Wisatawan yang datang dominan memakai baju berwarna merah dengan aksen emas. 

Pendeta Kongco Dwipayana Mangku IB Adnyana mengatakan setiap perayaan imlek tempat suci ini kerap menjadi pilihan bersembahyang. Kongco Dwipayana yang berlokasi di Denpasar merupakan tempat ibadah untuk masyarakat Hindu, Budha, dan Konghuchu. 

Di Kongco Dwipayana tidak hanya terdapat patung-patung dewa kepercayaan masyarakat China, tetapi juga pelinggih-pelinggih masyarakat Hindu. Total ada empat bangunan utama di Kongco Dwipayana yakni bangunan khusus pemujaan dewa-dewa China, Gedong Sang Budha dan Dewi Kuan In, Pura untuk memuja Dewa-Dewa Hindu, dan Kolam 7 Dewi. Bahkan, juga ada stana Nyai Roro Kidul di bagian pelataran. 

Umat yang datang melakukan persembahyangan di setiap bangunan. Mereka tidak membatasi persembahyangan pada dewa-dewa yang mereka biasa puja sehari-hari saja.   

“Untuk di Bali ini merupakan Kongco terbesar yang memuja dewa Hindu dan Dewa Budha,” katanya, Selasa (5/2/2019). 

Dia menjelaskan, Kongco yang telah ada sejak 1999 ini dibangun dengan akulturasi budaya Bali dan China. Ukiran-ukiran Bali begitu kental dengan perpaduan warna dan aksen budaya China. 

Persembahyangan juga dilakukan dengan menghantarkan sesajen. Umat Hindu yang datang bersembahyang bahkan membawa sarana persembahyangan khusus seperti pejati dan buah-buahan. Masyarakat keturunan China juga membawa buah-buahn untuk dipersembahkan. 

Setelah selesai melakukan persembahyangan, umat akan diberikan air suci seperti yang biasa dilakukan Umat Hindu. Mereka juga mendapatkan bija untuk ditaruh di kening.

Menurutnya, selain hal-hal tersebut, persembahyangan di Kongco Dwipayana hampir sama dengan Vihara lainnya. Hanya bentuk sesajen hingga prosesi yang sedikit berbeda karena ada akulturasi dengan budyaa Hindu di Bali.

“Kita melaksanakannya secara Hindu dan juga secara Budha serta Konghuchu,” katanya. 

Desak Ngudiana, salah satu umat yang sedang melakukan persembahyangan, datang ke Kongco Dwipayana menggunakan pakaian adat Bali berwarna merah. Desak sendiri masih memeluk agama Hindu dan rutin melakukan persembahyangan Imlek setiap tahun. 

“Saya datang dengan membawa sesajen berupa pejati dan canang,” katanya. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
imlek

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top