Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kakatua Jambul Kuning Hanya Tersisa 40 Ekor di NTT

Jumlah tersebut hanya tersebar di dua site mopnitoring BBKSDA NTT, yakni di Taman Wisata Alam Manipo di Kabupaten Kupang dan Suaka Margasatwa Harlu di Kabupaten Rote Ndao.
News Writer
News Writer - Bisnis.com 31 Januari 2018  |  14:13 WIB
Kakatua Jambul Kuning Hanya Tersisa 40 Ekor di NTT
Bagikan

Bisnis.com, KUPANG- Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur menyatakan populasi kakaTua jambul kuning yang berada di provinsi berbasis kepulauan itu tersisa 40 ekor.

"Untuk di NTT kakatua jambul kuning adalah hewan liar yang dilindungi oleh Undang-Undang. Burung jenis ini jumlahnya sampai saat ini tinggal 40 ekor," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) Tamen Sitorus kepada wartawan di Kupang, Selasa (30/1/2018).

Ia menjelaskan hal ini berkaitan dengan semakin punahnya kakatua jambul kuning yang dilindungi oleh UU. Punahnya habitat burung itu akibat diburu oleh masyarakat.

Tamen mengatakan jumlah tersebut hanya tersebar di dua site mopnitoring BBKSDA NTT, yakni di Taman Wisata Alam Manipo di Kabupaten Kupang dan Suaka Margasatwa Harlu di Kabupaten Rote Ndao.

"Jumlah itu baru yang ada di dua lokasi yang kami Monitoring. Namun ada juga yang terdapat di pulau Komodo di Manggarai Barat," ujarnya.

Tamen mengatakan bahwa untuk tetap menjaga populasi kakatua jambul kuning itu pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak terus memantau kawasan yang menjadi lokasi berkembangbiaknya burung itu.

Apalagi pada tahun 2014 pemerintah sudah mengeluarkan UU perlindungan kepada Satwa-satwa liar yang menjadi prioritas perlindungan. Salah satunya adalah burung kakatua jambul kuning.

Karena itu setiap tahun pihaknya menargetkan peningkatan populasi burung itu sebanyak 10 persen. Artinya jika pada tahun 2017 hanya terdapat 40 ekor maka pada 2018 ini harus ada peningkatan sebanyak dua ekor lagi.

"Kita berharap ini menjadi lancar sehingga populasi burung ini terus berkembang," ujarnya.

Tamen mengimbau masyarakat untuk tidak memburu satwa-satwa liar yang dilindungi oleh Undang-Undang. Jika tertangkap maka sudah pasti akan diberikan sanksi tegas dan bisa masuk dalam penjara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dwgl

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top