Budi Daya Terintegrasi Tripang Bisa Maksimalkan Potensi Petambak

Oleh: Newswire 23 April 2018 | 11:00 WIB
Budi Daya Terintegrasi Tripang Bisa Maksimalkan Potensi Petambak
Pekerja menujukan teripang pasir (Holothuria scabra) di Balai Bio Industri Laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Lombok Utara, NTB, Kamis (12/4). Balai Bio Industri Laut berupaya membudidayakan teripang pasir karena mengalami penurunan populasi dan terancam punah./Antara-Dedhez Anggara

Bisnis.com, LOMBOK UTARA—Balai Bio Industri Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, menawarkan teknologi pembesaran teripang sistem "Integrated Multi Trophic Aquaculture" (IMTA) kepada pelaku usaha perikanan budi daya.

Kepala Balai Bio Industri Laut (BBIL) Hendra Munandar, di Lombok Utara, Senin (23/4/2018), menjelaskan IMTA adalah teknologi perikanan budi dengan mengoptimalkan petakan tambak untuk tiga jenis komoditas, yakni rumput laut, ikan bandeng dan teripang.

"Jadi dalam satu petakan tambak, pembudidaya bisa memperoleh pendapatan dari tiga jenis komoditas dengan siklus produksi berbeda-beda," katanya.

Ia menyebutkan rumput laut yang cocok ditanam di tambak adalah jenis Gracilaria. Komoditas tersebut bisa dipanen dalam waktu tiga bulan. Sedangkan bandeng dipanen setelah masa pembesaran enam bulan, kemudian dilanjutkan pada panen teripang setelah masa pembesaran selama 12 bulan.

Hendra mengakui belum mengkalkulasikan total pendapatan yang akan diperoleh pembudidaya dengan menerapkan sistem IMTA. Namun teknologi tersebut sudah diuji coba di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, dan Desa Pijot, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur.

"Kami menjalin kerja sama dengan Pemkab Lombok Timur dan salah satu perusahaan swasta. Rencananya kami akan panen teripang pada akhir tahun nanti," ujarnya.

Peneliti BBIL, Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI, Dr Sigit Anggoro Putro Dwiono, menambahkan telah telah merintis penelitian dan pengembangan budi daya teripang pasir (holothuria scabra) yang meliputi berbagai aspek pembenihan dan pembesaran di Pulau Lombok, sejak 2011.

Penelitian dilakukan dalam rangka melindungi populasinya di alam dan untuk pengembangan usaha budi daya komersial.

Menurut dia, sebagai produk perikanan, teripang pasir memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di pasar internasional, teripang dikenal sebagai tripang atau beche-de-mer atau hoi-som.

Selain dikonsumsi dalam bentuk berbagai menu masakan, teripang juga banyak dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan kosmetik dan farmasi. Hal itu disebabkan biota laut tersebut mengandung protein tinggi dan antioksidan.

"Selain bernilai komersial, teripang juga memiliki peran ekologis yang penting karena dapat menjaga kegemburan dasar perairan sehingga dapat dihuni oleh berbagai hewan laut lainnya," kata Sigit.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya