Kendalikan Inflasi, NTB Percepat Pembentukan BUMD Pangan

BUMD pangan nantinya akan berperan sebagai offtaker yang membeli produksi petani dengan harga yang lebih pasti.
Ilustrasi beras.
Ilustrasi beras.

Bisnis.com, DENPASAR – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pangan dipercepat sebagai upaya pengendalian inflasi dalam jangka panjang. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry A Harahap menjelaskan sejumlah program strategis didorong untuk mengendalikan inflasi dalam jangka panjang, salah satunya adalah pembentukan BUMD pangan baik di provinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota. 

“Ada sejumlah program strategis pengendalian inflasi dalam jangka panjang, pertama adalah percepatan pembentukan BUMD Pangan, kemudian penguatan kelembagaan pertanian mulai dari basis data hingga sumber daya manusia di sektor pertanian. Kami juga terus mendorong penguatan kapasitas pembiayaan pertanian,” jelas Berry dari keterangan resminya, Kamis (1/2/2023). 

BUMD pangan nantinya akan berperan sebagai offtaker yang membeli produksi petani dengan harga yang lebih pasti, sehingga petani tidak khawatir adanya fluktuasi harga. Untuk menampung hasil pertanian, TPID juga Pemanfaatan gudang berbasis teknologi ozon sebagai gudang penyimpanan tanaman hortikultura (cabai dan bawang merah). Kemudian program jangka menengah yang akan direalisasikan yakni penguatan tata ruang terkait irigasi dalam rangka optimalisasi fungsi bendungan bagi pertanian. Penguatan peran digitalisasi untuk distribusi dan perdagangan.

Berry juga menjelaskan dalam jangka pendek, NTB perlu mendorong perbaikan sistem budi daya dan intensifikasi lahan untuk peningkatan produktivitas. Membangun infrastruktur produksi, memberi dukungan alsintan dan adopsi teknologi atau digital farming bagi para petani. 

Sepanjang 2023, sejumlah langkah konkret juga telah dilakukan oleh TPID dalam melakukan pengendalian inflasi, seperti operasi pasar untuk menstabilkan harga pangan, kontrol harga.

“Untuk menjaga pasokan, kami juga melakukan peningkatan produktivitas beras melalui penggunaan bibit unggul. Optimalisasi pemanfaatan pupuk organik untuk efisiensi biaya produksi. Optimalisasi gerakan tanam cabai khususnya pada lahan Pemda yang belum dimanfaatkan (daerah Lingsar dan Setiling). Perluasan/penambahan klaster pangan untuk komoditas cabai di daerah Sumbawa. Mendorong hilirisasi komoditas pertanian khususnya komoditas cabai dan bawang merah,” ujar Berry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper