NTB Inflasi 2,87%, Kenaikan Harga Tomat Hingga Sewa Rumah Beri Andil Terbesar

Penyumbang inflasi Januari 2024 ini antara lain tomat andil 0,13%, kemudian bawang merah 0,10%, daging ayam ras, 0,08%, sewa rumah 0,05%, dan jeruk 0,03%.
Ilustrasi petani memanen tomat./Freepik.
Ilustrasi petani memanen tomat./Freepik.

Bisnis.com, DENPASAR – Inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Januari 2024 tercatat 2,87% (yoy), jauh lebih rendah jika dibandingkan inflasi pada Januari 2023 yang besarnya 5,83% (yoy). 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin menjelaskan komoditas penyumbang inflasi pada awal tahun 2024 ini antara lain tomat dengan andil 0,13%, kemudian bawang merah 0,10%, daging ayam ras, 0,08%, sewa rumah 0,05%, dan jeruk 0,03%. 

“Kenaikan harga bawang merah, tomat dan daging ayam ras merata di Kota Mataram, Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima. Sedangkan di Kota Mataram ada tren kenaikan harga sewa rumah di awal 2024 ini,” jelas Wahyuddin dari siaran pers, Kamis (1/2/2024). 

Sedangkan komoditas penahan laju inflasi antara lain cabai rawit, udang basah, ikan bandeng, ikan kembung dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika dilihat dari kelompok pengeluaran, kelompok dengan andil inflasi terbesar yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 1,99%. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah Beras, Tomat, Sigaret Kretek Mesin (SKM), Cabai Merah dan Sigaret Kretek Tangan (SKT)

Kemudian diikuti oleh kelompok transportasi dengan andil 0,20%. komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah angkutan udara, mobil, dan sepeda motor. kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran dengan andil 0,17%. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah bakso siap santap, mie, ayam goreng, martabak dan nasi dengan lauk. 

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry A Harahap menjelaskan inflasi NTB hingga saat ini masih terkendali dengan baik apalagi jika melihat data sepanjang 2023, inflasi sebesar 3,02% (yoy), masih terkendali dalam rentang sasaran. 

Namun demikian, Berry menekankan sejumlah faktor perlu diwaspadai mulai dari musim yang tidak menentu yang akan berdampak ke fluktuasi harga komoditas. 

“Ke depan terdapat beberapa tantangan yang perlu diwaspadai, antara lain fluktuasi harga komoditas hortikultura seiring masuknya musim penghujan, pergeseran masa panen padi, masuknya masa pemilu dan ramadhan yang berpotensi mendorong tingkat permintaan, kenaikan cukai rokok, dan tekanan harga emas global. Oleh karena itu, sinergi dan inovasi TPID perlu untuk terus dilakukan,” jelas Berry. 

Berdasarkan pemantauan, hingga Minggu kedua Januari 2024 tekanan inflasi diindikasikan melandai. Hal ini sejalan dengan deflasi yang terjadi pada komoditas cabai rawit seiring adanya panen dan pasokan dari luar wilayah, meningkatnya pasokan ikan tongkol dan ikan bandeng, serta penyesuaian tarif BBM non subsidi per 1 Januari 2024. Akan tetapi penurunan lebih lanjut relatif tertahan oleh inflasi yang terjadi pada bawang merah (masa panen telah berakhir), kenaikan harga tomat, daging ayam ras, dan berlanjutnya kenaikan harga emas perhiasan.

Berry memproyeksikan inflasi pada 2024 diperkirakan melandai dan berada pada kisaran 2,5±1%. Melandainya tekanan inflasi seiring dengan perkiraan melandasinya tekanan pada kelompok volatile food dan administered price. Meski demikian, penurunan tekanan diperkirakan tertahan oleh kelompok CI didorong berlanjutnya kenaikan harga emas global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper