Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Niat Melestarikan hingga Mengangkat Derajat Kerajinan Sumba ke Internasional

Berangkat dari ide sederhana untuk melestarikan kerajinan Sumba, ManaMu kini justru telah mengangkat derajat kerajinan yang hampir punah hingga ke level dunia.
Kerajinan produksi ManaMu yang menggunakan teknik Mamuli dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. /Bisnis-Feri Kristianto
Kerajinan produksi ManaMu yang menggunakan teknik Mamuli dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. /Bisnis-Feri Kristianto

Bisnis.com, DENPASAR — Berangkat dari ide sederhana untuk melestarikan kerajinan Sumba, ManaMu kini justru telah mengangkat derajat kerajinan yang hampir punah hingga ke level dunia.

ManaMu memproduksi kerajinan teknik tenun tangan atau handmade berbahan dasar dari kawat baja, kuningan dan tembaga. Bahan material tersebut ditenun tangan menjadi berbagai bentuk kerajinan.

Ide kerajinan ini dari kalung Mamuli, yakni aksesoris perhiasan yang menjadi simbol perempuan Sumba, Nusa Tenggara Timur, berbentuk vagina dan rahim berupa anting atau kalung. Perhiasan ini biasanya menjadi mahar dalam pernikahan serta simbol status sosial warga di Pulau SumbaTali.

ManaMu memadukan seni Mamuli dengan desain kontemporer memanfaatkan material lain seperti kaca, kulit, rotan serta kayu dan juga kain-kain wastra Nusantara. Bentuk kerajinannya seperti anting, gelang, topi, hingga lampu, hiasan dekorasi rumah serta instalasi seni lainnya dalam berbagai ukuran. Hasil karyanya dikemas sedemikian rupa sehingga menambah nilai jualnya.

Produk ManaMu saat ini paling banyak digunakan di sanggraloka di Maladewa. Selain di negara kepulauan itu, produknya banyak diekspor ke Australia untuk jenis aksesoris fashion serta ke Amerika Serikat dan Jerman. Saat ini, pasar luar negeri masih mendominasi permintaan. Sedangkan pasar dometik masih sangat minim menghargai kerajinan ini.

ManaMu menjual hasil karyanya mulai dari Rp400.000 per biji hingga jutaan rupiah tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pengerjaan. Sebagai gambaran, seluruh proses pengerjaan kerajinan ini memanfaatkan tangan manusia dan tidak ada melibatkan mesin-mesin.

“Pengerjaannya memang susah dan ini seni tradisional yang sudah mulai punah karena susah mencari perajinnya,” tutur Melania Karolina owner & Founder Manamu ketika ditemui Bisnis di showroomnya di Sanur, Jumat (19/05/2023).

Melania adalah sosok dibalik berdirinya Manamu. Saat ini dirinya juga sedang berkolaborasi dengan seniman untuk diikutsertakan lomba yang diadakan galleri seni dunia. Upaya itu ditempuh untuk meningkatkan kualitas serta kesadaran orang akan pentingnya melestarikan seni tenun tangan menggunakan kawat ini ditengah ancaman kepunahan.

Semangat ini sesuai dengan ide awal mendirikan ManaMu pada 2019. Melania sebelumnya bekerja di Singapura di salah satu perusahaan asing. Ketika sedang berlibur ke Sumba, dia tidak sengaja melihat seorang nenek membuat anting-anting menggunakan kawat bekas di tepi pantai. Harga anting-anting itu dijual sangat murah. Sekitar Rp20.000 per biji. Padahal, teknik pembuatannya sangat rumit dan memakan waktu lebih dari 2 jam. Dari pertemuan itu dirinya langsung melihat adanya potensi besar.

“Saya suka desain, ketika melihat karya di Sumba, langsung berpikir kalau ini punya potensi besar dan harus dilestarikan,” jelasnya.

Melania lantas dikenalkan dengan anak sang nenek yang juga menjadi perajin dan pelopor kerajinan teknik tenun tangan menggunakan kawat ini. Dari perkenalan itu, dirinya memutuskan memuat usaha kerajinan yang unik ini di Bali. Karena perajinya sudah hampir jarang, Melania memberdayakan beberapa pekerja perempuan asal Sumba terlibat.

Selain itu, tentu saja beberapa warga Sumba di Pulau Dewata untuk diajari teknik tenun tanggan menggunakan kawat ini. Total ada 12 orang saat awal didirikan. Misi mulia itu tidak mudah dilakukan. Tantangannya adalah, susahnya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Ada anggapan lebih baik bekerja sebagai sopir atau petugas keamanan daripada menjadi perajin kerajinan ini.

“Targetnya adalah pelestarian, sehingga harus orang Sumba asli yang dilibatkan, dan ini memang tidak mudah sekali,” jelasnya.

Ketika tantangan awal sudah dilalui. ManaMu mulai menyasar Sunday Market di Sanur. Di Bali, Sunday Market banyak digelar di beberapa tempat wisata seperti Sanur dan Canggu. Rerata pengunjungnya adalah wisatawan maupun ekspatriat.

Strategi ini langsung jitu. ManaMu berhasil memikat ketertarikan salah seorang pengusaha resort di Maladewa. Klien tersebut memesan agar dibuatkan lampu-lampu berukuran besar. Butuh waktu selama 3 bulan untuk dapat memenuhi pesanan berukuran sekitar 2,3 meter itu.

“Sebenarnya kami belum berpengalaman buat lampu tapi saya percaya diri saja karena seni tidak ada batasannya. Dari situ produk kita akhirnya bisa dan disukai klien internasional,” jelasnya.

Melania mengakui potensi kerajinan Sumba masih sangat besar dikembangkan. Tantangannya adalah bagaimana mendorong warga Sumba untuk tetap dapat terus melestarikan kerajinan ini. Saat ini lebih banyak warga Sumba memilih bekerja di bidang lain di Pulau Dewata dibandingkan terus berkarya di kerajinan ini.

Dia bertekad akan terus melestarikan kerajinan ini agar semakin banyak warga menyadari potensinya untuk pengembangan masyarakat.

Di tengah tantangan tersebut, ManaMu terbantu dengan adanya digitalisasi. Penggunaan media sosial serta website sangat membantu mengenalkan orang dengan teknik tenun tangan menggunakan kawat ini.  Khususnya ketika pandemi Covid-19 lalu, sedikit demi sedikit hasil karyanya menjadi perhatian.

Meskipun di tahun-tahun awal tidak banyak yang bertransaksi menggunakan digital. Namun, lambat laun mulai muncul permintaan. Melania juga terbantu dengan masuknya ManaMu sebagai salah satu peserta BRI Brilianpreneur 2022 di KTT G20 di Nusa Dua.

“Ikut ajang ini membantu awareness ke pasar domestik. Meskipun pasar domestik saat ini belum melirik karena alasan mahal tetapi ini bantu tingkatkan awareness,” tuturnya. 

Dia sudah membuktikan dampak digitalisasi saat Covid-19 lalu ketika tarif pengiriman melonjak tinggi. Adanya dagang-el sangat membantu untuk membuka pasar baru. Salah satunya adalah dagang-el di luar negeri yang fokus memasarkan produk-produk kerajinan etnik.

Ke depannya, ManaMu akan menggunakan digitaliasi sebagai alat untuk mengenalkan kerajinan yang sudah hampir punah ini. Melania mengaku sudah memperkerjakan sosial media management untuk memperkuat branding di media sosial.

Diakuinya digitalisasi harus dimanfaatkan dengan baik sehingga dikelola orang tepat. Langkah ini dibidik karena ManaMu memiliki target jangka panjang bisa memperkejakan hingga 50 orang perajin asal Sumba. 

Terpisah, Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto mengatakan bahwa sudah menjadi komitmen BRI Group untuk terus mendampingi nasabah, terutama pelaku bisnis dan UMKM untuk menembus pasar internasional. Termasuk pelaku UMKM yang memiliki inovasi di bidang lingkungan.

Amam mengutarakan bahwa BRI tidak hanya konsisten mencetak economic value, tetapi juga terus berupaya menciptakan social value yang berdampak bagi masyarakat, tak terkecuali terhadap UMKM yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan. 

“Sesuai dengan penguatan penerapan prinsip environmental [lingkungan], social [sosial], dan governance [tata kelola yang baik] atau ESG yang menjadi fokus perseroan,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Feri Kristianto
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper