Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kualitas Desa Wisata di Bali Perlu Ditingkatkan

Saat ini sudah ada 283 desa wisata di Bali, tetapi dari ratusan desa wisata tersebut, hanya 30 desa wisata yang dinyatakan sebagai desa mandiri dan maju.
Suasana persawahan Ubud./Indonesia Travel
Suasana persawahan Ubud./Indonesia Travel

Bisnis.com, DENPASAR – Pengembangan desa wisata di Bali dituntut untuk memprioritaskan kualitas daripada kuantitas atau jumlah desa wisata.

Desa wisata yang dibangun secara berkualitas dengan basis pemberdayaan masyarakat, mengutamakan pengembangan destinasi, hospitality atau kualitas pelayanan akan lebih menarik bagi wisatawan dari pada merintis ratusan desa wisata tetapi tidak marketable.

Dinas Pariwisata Bali mencatat saat ini sudah ada 283 desa wisata di Bali, tetapi dari ratusan desa wisata tersebut, hanya 30 desa wisata yang dinyatakan sebagai desa mandiri dan maju, sedangkan 101 desa wisata masih bersifat rintisan, 107 desa wisata kategori berkembang.

Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Bali, Ida Bagus Adi Laksana, mengakui keberadaan ratusan desa wisata di Bali sudah saatnya dievaluasi. Masih banyak desa wisata yang sudah dirintis masih stagnan atau tidak berkembang.

Gus Adi mengatakan banyak tantangan memajukan desa wisata dan butuh peran semua pihak mulai dari penduduk setempat hingga pemerintah daerah.

“Memang pengelolaan desa wisata tidak mudah karena butuh inovasi, terutama dari desa dinas setempat. Jika ingin maju harus berani berkorban dulu, dalam artian rela mengabdi di desa dalam jangka waktu yang panjang,” ujar Gus Adi dikutip dari keterangan resminya yang diterima Bisnis, Jumat (27/1/2023).

Adi menyebut pengembangan desa wisata merupakan kewenangan pemerintah kabupaten atau kota setempat. Intervensi pemkab setempat untuk kemajuan desa wisata dinilai penting, Pemkab tidak bisa melepas begitu saja pengembangan desa wisata setelah menetapkan desa tersebut sebagai desa wisata. Pemkab harus tetap melakukan intervensi melalui program maupun promosi yang bisa mendatangkan wisatawan.

Melonjaknya jumlah desa wisata di Bali mulai terjadi sejak pandemi covid-19. Gus Adi menyebut para pelaku wisata yang diberhentikan atau tidak bisa bekerja karena pandemi balik ke kampung halamannya dan mengembangkan desa wisata.

“Mereka mencoba untuk survive dengan mengembangkan desanya menjadi desa wisata, tentu merupakan langkah yang harus diapresiasi,” ujar Adi.

Pertumbuhan desa wisata tidak linear dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan, mayoritas wisman ke Bali masih memilih berwisata ke destinasi unggulan seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Ubud. Hanya 30 persen dari wisatawan yang datang ke Bali memilih desa wisata sebagai tujuan utama. (C211)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper