Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Penyambung Masa Depan Anak-anak di Pemuteran Bali

KrediBali memulai kelas pada 9 Mei 2020 di Pemuteran ketika pandemi Covid-19 mulai merebak.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 31 Desember 2022  |  13:49 WIB
Penyambung Masa Depan Anak-anak di Pemuteran Bali
Pendiri KrediBali I Gede Andika Wira Teja (berdiri) bersama anak-anak di Desa Pemuteran.bisnis - istimewa
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR--Bagi I Gusti Ayu Putu Sri Kertiasih Wulantari, masa depan kini membentang luas. Remaja berusia 14 tahun asal Banjar Pengumbahan Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng ini kini semakin percaya diri. Penyebabnya, kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat drastis dibandingkan dua tahun lalu sebelum pandemi. Dengan skill bahasa Inggrisnya, dia sekarang bisa berdiskusi dengan wisatawan yang mulai banyak lalu lalang di daerahnya.

Remaja yang akrab dipanggil Wulan ini tinggal di di Desa Pemuteran yang diapit oleh perbukitan dan lautan. Desa ini merupakan salah satu destinasi wisata terkenal di Bali akan wisata diving dan snorking. Lokasinya di dipesisir Bali bagian utara tepat di jalur Singaraja-Gilimanuk. Tempat ini bisa dijangkau sekitar 3 jam dari kota Denpasar, ibukota Bali. Sebelum pandemi, Pemuteran terkenal bagi wisatawan mancanegara yang ingin menikmati keheningan berpadukan wisata air. Akomodasi vila dan homestay sangat banyak bertebaran di sini. Karena inilah, skill bahasa Inggris menjadi sangat penting bagi masyarakat sekitar untuk berkomunikasi.

“Sekarang kalau ada bule sudah berani lah berbicara lancar dengan mereka. Sebelumnya cuma sekedar hallo saja,” ujar Wulan sambil tertawa kepada Bisnis.

Tidak sekedar berbicara dengan wisatawan saja. Kemampuan bahasa inggrisnya kini juga bisa diadu dengan murid-murid dari Bali bagian selatan. Pada Juni 2022, siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Gerokgak ini juara 2 lomba pidato bahasa Inggris yang diadakan di SMA Negeri 2 Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Keberhasilan itu bagi siswa di wilayah seperti Denpasar, Badung dan Gianyar adalah yang lumrah karena terbiasa berinteraksi dengan wisatawan. Bagi Wulan, prestasi ini terbilang luar biasa.

Buat remaja seperti dirinya yang menetap di daerah yang jauh dari ingar bingar seperti Kuta, Nusa Dua dan Canggu, peningkatan kemampuan bahasa Inggris adalah lompatan besar. Wulan mengaku, kini semangatnya belajar semakin membara.

“Sekarang siap aja kalau bersaing dengan siswa daerah lain. Kesempatan juga buat anak-anak di sini,” tuturnya.

Dengan skill tersebut, dia yakin masa depannya akan cerah. Wulan juga mengaku tidak mau putus sekolah meskipun orang tuanya hanya petani. Wulan mengatakan ingin merantau ke daerah lain jika kesempatan tersebut. Optimisme tersebut tidak muncul sebelumnya. Kecamatan Gerokgak tempat Wulan menetap adalah salah satu kecamatan dengan angka putus sekolah cukup tinggi di Kabupaten Buleleng. Akses dan lingkungan menjadi pendorong tingginya angka putus sekolah.

Anak tertua dari 3 bersaudara ini mengaku tidak sendirian merasakan peningkatan rasa optimistis. Temannya yang bernama Nando Sastrawan juga berhasil meraih juara 1 lomba pidato bahasa Inggris yang diikutinya. Sebelumnya, jangankan juara. Untuk berani berbicara saja tidak ada kemampuan, karena minimnya kosakata dan bahasa Inggris yang benar.

I Gusti Ayu Made Surya Ratnadi, ibu dari Wulan menuturkan, sebagai orang tua kini dirinya merasa tenang. Dia yang mendorong anak pertamanya untuk ikut pembelajaran tersebut karena yakin manfaatnya sangat banyak. Ditambah lagi saat itu masyarakat seperti dirinya susah akibat Covid-19.

Sebelumnya, dia dan suaminya memiliki kekhawatiran besar dengan masa depan anak-anaknya. Apalagi, ketika pandemi Covid-19, anak-anak di desanya banyak tidak bisa mengikuti sekolah daerah. Saat itu, pariwisata di daerahnya mati suri karena. Ini berdampak terhadap pendapatan masyarakat untuk memiliki gawai hingga membeli pulsa paket data.

Kekhawatiran tersebut sempat memunculkan pemikiran bahwa anaknya berpotensi putus sekolah. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena mengutip data dari http://pemuteran-buleleng.desa.id/, ada sekitar 3.094 jiwa atau 38.31% penduduk di Desa Pemuteran tidak pernah bersekolah.

Harapan bahwa anaknya akan memiliki pendidikan yang lebih baik dari dirinya sekarang sudah terbuka lebar. Tidak ada lagi kekhawatiran jika nantinya Pemuteran tiba-tiba sepi dari wisatawan. Manfaat lagi yang ini dirasakan oleh Gusti Ayu, anaknya paham tentang pemilahan sampah.

“Sebelumnya ada kekhawatiran lah, Pemuteran itu kan jauh dari pusat kota. Tidak mau juga kalau anak-anak saya akhirnya cuma jadi petani seperti kami,” ungkap ibunya.

Peningkatan besar skill Bahasa Inggris anak-anak di Pemuteran tersebut terjadi berkat program Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan atau KrediBali yang diinisasi I Gede Andika Wira Teja. Program ini memberikan kursus Bahasa Inggris bagi anak-anak dari SD sampai SMP yang tidak bisa mengikuti kelas daring. KrediBali memulai kelas pada 9 Mei 2020 di Pemuteran ketika pandemi Covid-19 mulai merebak. Ada dua tiga level pembelajaran diberikan, yakni basic, intermediate, dan advance.

Pesertanya disaring. Hanya anak dari keluarga kurang mampu seperti penerima bantuan sosial dan BLT serta yang orang tuanya yang bekerja sektor pariwisata dan terdampak Covid-19 diberikan kesempatan belajar. Meski tidak dipungut biaya, setiap anak diwajibkan membawa sampah plastik yang telah dipilah dari rumahnya masing-masing sebagai bentuk kesungguhan ikut kelas. Sampah hasil pemilahan tersebut kemudian ditukarkan dengan beras untuk diberikan kepada lansia tidak mampu di sekitar. Pada awalnya hanya ada 220 orang siswa yang ikut pelatihan.

Setiap level diberikan pelajaran selama dua jam. Pembelajaran dimulai pukul 08.00 Wita hingga 15.00 Wita. Pola pembelajaran dibuat mudah. Setiap siswa didorong terlibat aktif dalam kondisi belajar. Siswa juga diberikan kelas pengembangan keterampilan di luar kelas. Selain itu, ada pembelajaran terkait lingkungan dan kepedulian sesame menggunakan bahasa Inggris. Materi yang diberikan secara sederhana serta mengajak siswa untuk berani.

Pemuda yang akrab dipanggil Dika ini mengaku pada awalnya, dia sendiri yang mengajarkan seluruh pelajaran bahasa Inggris tersebut. Padahal, sebenarnya dia bisa melibatkan tim relawan lain di jejaring Jejak Literasi Bali yang juga didirikannya. Hanya hal itu tidak dilakukan. Pertimbangannya, ingin memiliki kedekatan secara emosional dengan anak-anak di Pemuteran.

Kini selain dirinya, sudah ada beberapa relawan terlibat. Dika mengaku sangat senang akhirnya idenya memberikan pelatihan bagi anak-anak di kampung halaman orang tuanya menunjukkan hasil. Saat ini, total sudah ada 325 orang anak bergabung. Adapun jumlah relawan yang mengajar sebanyak 6 orang. Saat ini keterlibatannya di Pemuteran hanya 2 minggu sekali karena tim relawan setempat sudah sangat mampu.

“Seperti Wulan itu salah satu contoh yang membuat saya pribadi sangat senang bisa sejauh ini,” tuturnya.

Berkat ide pemuda kelahiran 21 April 1998 ini, KrediBali akhirnya diganjar apresiasi SATU Indonesia Awards 2021 dari Astra Indonesia sebagai Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19. Menurutnya, apresiasi ini disyukuri olehnya meskipun bukan dari tujuan utamanya. Dia menjelaskan, ide awal KrediBali sebenarnya adalah untuk membantu desa tempat orang tuanya lahir,yakni Pemuteran.

Rela Melepaskan Beasiswa

Ceritanya bermula pada Maret 2020, ketika dia pulang kampung untuk meminta restu kepada keluarga besarnya untuk melanjutkan jenjang sekolah S2 ke luar negeri. Tamatan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini sebelumnya pada 2020 bekerja di salah satu kementerian. Di tahun awal pekerjaanya, dia juga mendapatkan beasiswa ke Inggris. Hanya saja, saat itu keberangkatan ke universitas untuk mengambil master baru bisa dilakukan pada September 2020.

“Karena alasan ini, makanya Maret saya pulang ke kampung ayah saya di Pemuteran sekaligus pamitan lah ceritanya sama keluarga besar,” tuturnya.

Disinilah kemudian jalan ceritanya berubah 180 derajat. Dari rencana awal untuk pamitan, Andika justru menemukan cerita menyedihkan di desa Pemuteran. Saat itu dia menemukan fakta bahwa Pemuteran mati suri. Tidak ada lagi lalu lalang wisatawan mancanegara seperti biasa. Dia pun melihat, kesulitan ini berimbas kepada anak-anak sekitar. Lantaran mereka tidak bisa bersekolah akibat larangan berkumpul dalam jumlah banyak. Bahkan, anak-anak sekolahan juga tidak bisa ikut belajar melalui daring karena ketidakmampuan orang tua mereka untuk membeli paket data. Dhika ini kemudian berpikir apa yang bisa diberikan.

Saya coba riset coba berbekal pengalaman kuliah untuk baselined studies. Ternyata yang diminati bahasa inggris dan itu related dengan ilmu saya. Ketika itu hasil riset saya, yang diminati bahasa Inggris,” ungkapnya.

Akhirnya, untuk menarik anak-anak yang berpotensi putus sekolah tersebut. Dia mencoba menawarkan pelatihan bahasa Inggris. Kekhawatiran terbesarnya, jika tidak segera dilakukan maka anak-anak di desa Pemuteran akan ikut orang tuanya yang nelayan atau bekerja di sawah karena tidak ada media belajar. Ide itupun awalnya tidak berjalan mudah diwujudkan. Dika kemudian memberanikan diri ikut serta dalam rapat paruman desa adat (rapat besar desa adat).

Dalam rapat tersebut,  Dika menawarkan diri sebagai relawan pengajar. Untuk menyakinkan anggota rapat, dia membeberkan bukti data potensi anak putus sekolah di Pemuteran bisa meningkat. Supaya rapat lebih yakin lagi, dia menegaskan kegiataan ini harus diambil alih oleh relawan, karena pemerintah saat pandemi Covid-19 baru fokus dengan pemenuhan hidup warga.

“Pas ada rapat saya willing sebagai volunteer dan paparkan data saya, entah masyarakat mengerti atau tidak. Tetapi pada saat itu mereka apresiasi,” ungkapnya.

Kekhawatiran dari pihak desa awalnya ada. Ini terkait PPKM larangan berkerumun. Problem ini kemudian diatasi dengan menggunakan aula desa yang terbuka. Dari sinilah kemudian muncul banyak dukungan baik dari kepla desa, hingga babinsa yang siap menjaga serta karang taruna siap berperan sebagai asisten. Pelatihan pun berjalan. Bahkan membludak pesertanya. Dia mengaku heran karena tidak beriklan tetapi antusiasme warga untuk mengikutkan anaknya sangat besar.

Awalnya Dika sebenarnya hanya berharap ini berjalan selama beberapa bulan sehingga pada September 2020 dirinya bisa menjalani beasisswa yang telah diambilnya. Namun, rasa tanggung jawab terhadap masa depan anak-anak di Desa Pemuteran membuat pemikirannya berubah. Ditambahkan lagi situasi Covid-19 pada Agustus dan September 2020 sedang pada masa puncak. Dika pun memutuskan melepaskan kesempatan beasiswa. Pertimbangannya sederhana.

“Saya putuskan, kalau saya masuk sendiri kuliah, saya sendiri terselamatkan. Tetapi kalau 75 anak orang terselamatkan [pendidikannya] itu tentu berbeda ceritanya. Itu pola pikir kenapa saya memutuskan tidak mengambil, dan sekaligus cara mempertanggung jawabakan kepada orang tua,” jelasnya.

Diakuinya keputusannya melepas beasiswa ditentang berbagai pihak termasuk orang tua. Hanya saja semua keputusan tersebut membuatnya yakin bahwa untuk sekelas dirinya, kesempatan untuk belajar mendapatkan beasiswa masih sangat banyak. Berbeda dengan anak-anak di Pemuteran yang belum sebanyak dirinya untuk mendapatkan kesempatan.

Keputusan yang diambil Dika kini tidak salah. Skill Bahasa Inggris anak-anak di Pemuteran peserta KrediBali meningkat drastis. Hal itu memberi mereka peluang besar untuk menjalani masa depan lebih baik. Banyak diantara orang tua dari murid-muridnya yang rajin melaporkan perkembangan terkini anaknya. Bagi Dika, kabar tersebut memberi angin segar sekaligus kesempatan buatnya untuk berpindah menyebarkan pola yang sama di tempat lain.

“Karena pandemi sudah selesai maka program tidak dilanjutkan karena masalah pandemi. Jadi ketika selesai ya selesai. Di pemuteran berjalan les biasa. Alumni yang sudah graduate. Jadi sekarang bersama tim relawan jadi bukan sama saya sekali paling saya dua minggu sekali,” jelasnya.

Tinggalkan Legacy

Menurutnya, apa yang sudah dilakukan di Pemuteran sudah berjalan dengan baik. Usainya pandemi Covid-19 menjadi alasan. Karena menurutnya, kehadiran sebuah yayasan atau Non government organitation (NGO) di sebuah lokasi itu berdasarkan supply and demand. Tidak bisa yayasan atau NGO tiba-tiba hadir dan memaksakan program saja kepada masyarakat. Yang terjadi justru ketidakseimbangan.

Khusus di Pemuteran, saat ini demand sudah tidak ada karena anak-anak sudah memiliki skill. Meskipun demikian dari tim KrediBali tetap melakukan pemantauan. Dia menekankan SDM di Pemuteran kini sudah siap untuk dilepas. Skill bahasa Inggris anak-anak hasil didikan KrediBali akan dapat membantu peningkatan pariwisata daerah.

Dika menegaskan fungsi relawan seperti timnya di KrediBali bukan untuk terkenal. Baginya, yang harus dikenal mendapatkan dampak adalah masyarakat dan bukan lembaga yang bertugas sebagai mediator. Prinsip ini yang dipegang oleh KrediBali, sehingga tidak akan terus menerus mendampingi maysarakat di Pemuteran. Sepanjang masyarakat sudah dapat menggunakan pola-pola yang dibuat timnya, atau bahkan memodifikasinya, maka sudah bisa dilepaskan. Dika menekankan, peran relawan bukanlah memberi asupan atau menyuapi masyarakat terus menerus. Tetapi menyiapkan mental mereka terlebih dulu untuk kemudian membantu membuat makanan yang dapat dikonsumsi mereka sendiri. Dengan demikian mereka bisa belajar bertahan hidup sesuai dengan kelokalan daerahnya.

“Jadi kami itu jatuhnya sebagai partner mereka. Untuk saat ini kami misalnya butuh buku atau kamus atau bantu cek kurikulum. Sebenarnya bukan meninggalkan tapi melepaskan  dan masih ada kerja sama. Karena kalau fokus satu desa, masih ada banyak desa butuh kami. Kami tidak bisa jamin kan beri skill offer ke daerah lain. Pacuan lain harus dibangun sehingga Pemuteran lainnya terbangun,” jelasnya.

Salah satu “pacuan” yang kini dijajaki oleh tim KrediBali adalah Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Sejak September 2022 tim KrediBali kini mulai merintis pola pelatihan sama seperti di Pemuteran untuk Desa Puhu. Dika mengungkapkan, meskipun pandemi telah usai, tapi dampak ekonomi bagi masyarakat Puhu masih sangat terasa masif. Hingga saat ini terdapat sekitar 85 anak yang mengikuti kelas bahasa Inggris.

Dika menekankan baik di Pemuteran maupun Puhu belum akan memberikan dampak langsung dalam hal ekonomi dalam jangka pendek. Dikarenakan, anak-anak yang mereka beri fasilitas tidak akan berkecimpung langsung di dunia kerja. Apa yang KrediBali berikan kepada anak-anak tersebut adalah bagaimana membuka jalan bagi masa depan mereka serta memperkuat pondasi SDM daerah. Selain itu mampu mengubah persepsi anak muda akan sampah. Karena hingga kini saja sudah sebanyak 430 kg sampah platik terkumpul di Pemuteran. Dia menyakini dampaknya terasa beberapa tahun mendatang bagi daerahnya.

“Misi kami bukan membuat kami terkenal, tetapi misi kami adalah meninggalkan satu legacy di satu tempat,” tutup pemuda yang kini telah juga telah berhasil menamatkan pendidikan master di Yogyakarta ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali Relawan bali utara
Editor : Feri Kristianto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top