Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cerita Wanita Komunitas Mbola So Jaga Tradisi Tenun Ikat Palu'e

Para wanita pengungsi asal Pulau Palu’e di Maumere menggiatkan kembali tenun ikat khas Palu’e dengan pewarna alami yang dipasarkan secara online.
Albertus Agung Moa Padji dan Oktaviano Donald
Albertus Agung Moa Padji dan Oktaviano Donald - Bisnis.com 15 November 2022  |  10:32 WIB
Cerita Wanita Komunitas Mbola So Jaga Tradisi Tenun Ikat Palu'e
Pengrajin dari sanggar Mbola So menunjukkan kain tenun buatanya di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis - Suselo Jati
Bagikan

Bisnis.com, MAUMERE — Senyum merona dari wajah para wanita tangguh yang tergabung dalam komunitas tenun ikat Mbola So saat menyambut tim Jelajah Sinyal 2022 dari Bisnis Indonesia di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (5/11/2022) siang.

Dengan semangat mereka kemudian menceritakan perjuangan para wanita dari keluarga pengungsi asal Pulau Palu’e dalam menggiatkan kembali warisan seni tenun ikat bermotif khas dengan pewarna alami dalam satu dekade terakhir.

Para wanita ini menjadi bagian dari 300-an pengungsi asal Pulau Palu’e, Kabupaten Sikka, NTT, yang terpaksa direlokasi ke Maumere akibat erupsi Gunung Rokatenda pada Oktober 2012. Aktivitas vulkanik dari gunung berjenis stratovolcano itu memaksa ratusan warga yang tinggal di pulau di utara Pulau Flores untuk tinggal di Desa Hewuli hingga saat ini. 

Agustina, salah satu penenun ikat di sanggar tenun ikat Mbola So, menjelaskan saat itu pemerintah menyediakan lahan sekitar 8x15 meter untuk setiap keluarga pengungsi dan bantuan tunai senilai Rp15 juta yang hanya cukup untuk membangun hunian darurat. 

Untuk memenuhi kebutuhan pokok, pemerintah juga mendistribusikan paket bulanan kepada setiap pengungsi. Masing-masing pengungsi menerima 10 Kg beras, mie instan, telur dan ikan sarden setiap bulannya.

Namun, semua dukungan dari pemerintah itu belum bisa membuat Agustina dan para wanita dari keluarga pengungsi dari Pulau Palu’e untuk tenang. Mereka harus memutar otak untuk mencari uang.

Selain untuk kebutuhan rumah tangga, mereka harus mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga yang masih tinggal di Pulau Palu’e. Keluarga yang tetap bermukim di Pulau Palu’e tak bisa mengoptimalkan hasil alam lantaran dampak letusan gunung.

“Sehingga mereka tidak ada mata pencaharian lagi, mereka di sana kesulitan makanan,” ujarnya.

Mbula So

Sejumlah pengrajin kain tenun dari komunitas Mbola So di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Menggiatkan Tenun Ikat Khas Palu’e

Dengan kebutuhan tersebut, para wanita mencoba untuk menggiatkan kembali tenun ikat khas Palu’e. Pasalnya, menenun memang menjadi salah satu keahlian yang dimiliki oleh Agustina dan para wanita dari keluarga pengungsi tersebut. Apalagi, masyarakat Palu’e turun temurun mewariskan seni tenun ikat dengan motif khas.

Problemnya, saat itu mereka tidak memiliki peralatan dan modal awal untuk menghasilkan kain tenun ikat. Namun, kendala itu bisa teratasi dengan bantuan dari donatur yang juga merupakan salah seorang pemerhati tenun ikat di NTT. Para wanita ini mendapatkan donasi berupa alat tenun dan benang.

Tak hanya itu. Agustina dan sejumlah wanita diajarkan untuk menghasilkan tenun dengan pewarna alami, termasuk budidaya bahan alam seperti yang digunakan oleh para pendahulu di Pulau Palu’e. 

“Namun, setelah pulang kami mencoba untuk mempraktikkan kembali dan hasil awalnya warnanya pudar.  Kami ditertawakan karena warnanya tidak bagus dan [kainnya] tidak dapat dipakai,” jelas Agustina.

Agustina Mbula So

Agustina, salah seorang pengrajin kain tenun di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Para wanita ini tak patah arang. Mereka terus semangat mencoba dengan dukungan para orang tua yang melihat pewarna alami sebagai warisan dari leluhur yang perlu dihidupkan kembali. 

Para orang tua itu yakin hasil tenun dengan pewarna alami yang dibuat oleh Agustina dan teman-temannya akan semakin baik. “Akhirnya kami menjadi semakin bersemangat dan terus mencoba,” jelasnya.

Erni, penenun ikat yang juga anggota dari sanggar Mbola So, mengisahkan bahwa mereka juga terus mendapatkan dukungan dari pemerhati tenun khas di NTT. Melihat upaya tanpa lelahnya, para wanita tangguh ini mendapatkan bantuan alat tenun ikat, termasuk goan atau perentang benang.

Selain itu, pada 2017, 14 wanita dari sanggar ini mendapatkan pelatihan intensif selama tiga hari, termasuk dalam penggunaan pewarna alami sebagai bahan dasar untuk tenun. Penggunaan pewarna alami dalam tenun ikat bukan perkara mudah. Tak sedikit dari mereka yang mengeluhkan aroma kurang sedap yang tercium saat menggunakan pasta dalam proses menyiapkan pewarna alami.

“Sempat mengeluh karena pusing dengan baunya, tetapi kami tetap semangat dan bertahan. Siapa tau besok kami sukses sehingga kami bertahan,” ungkapnya.

Mbula So

Pengrajin melakukan proses pewarnaan bahan kain tenun di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Alhasil, sejak 2017 para wanita ini mampu menghasilkan tenun ikat bermotif khas Palu’e dengan pewarna alami. Erni menjelaskan untuk warna biru pada kain tenun, mereka menggunakan indigo, sedangkan warna merah berasal dari buah mengkudu atau kulit pohon yang berwarna senada.

Sementara pewarna hijau diolah dari kulit batang mangga dan dedaunan, serta warna kuning dari kulit pohon mangga dan kunyit. “Semuanya menggunakan bahan alami dan mendapatkannya kami mencari di sini atau minta ke orang tua di [Pulau] Palu’e untuk antar [ke Maumere],” jelasnya.

Setelah proses pewarnaan rampung, barulah para wanita ini memulai proses tenun dengan goan yang bisa dilakukan bersama-sama oleh tiga orang. Para suami dan anak mengambil peran tersendiri dalam proses ini. Mereka menyiapkan bahan, mengikat dan menggulung benang serta membantu proses goan.

Proses tenun ikat ini pun bergantung dengan motif yang dibuat. Erni menjelaskan ada beragam motif khas masyarakat Palu’e untuk kain tenun ikat. Motif itu antara lain Wua Wela dan Widing Mata. Selain itu, ada motif Sikka Dobo yang mengisahkan kewajiban masyarakat Palu’e untuk menggelar acara adat di kampung halaman.

Menurutnya, kain tenun ikat besar dengan motif khas Palu’e paling lama dikerjakan dalam tiga bulan. Pewarnaan menjadi tahapan terlama dalam prosesnya. “Bisa diulang sampai empat atau lima kali untuk mendapatkan warna yang diinginkan,” jelasnya.

Mbula So

Erni, salah seorang pengrajin kain tenun di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, menjelaskan motif khas tenun ikat Palu'e kepada tim Jelajah Sinyal, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Pemasaran Online

Tantangan yang dihadapi para wanita dari sanggar Mbola So tidak berhenti dengan proses pewarnaan alami. Mereka kemudian dihadapkan dengan tantangan untuk memasarkan produk kerajinan tersebut. 

Pada awalnya, Erni dan para wanita di komunitas ini memasarkan kain tenun ikat dengan cara dititipkan ke sanggar milik pemerhati tenun NTT. Dengan kata lain, hasil penjualan akan diberikan kepada komunitas Mbola So setelah kain tenunnya laku.

“Kami bingung mau dipasarkan ke mana sehingga kami titipkan langsung ke sanggar miliki ibu Alfonsa [pemerhati tenun NTT]. Karena bosan menunggu, kami langsung ke sanggar dan mengeluhkan kondisi kami sehingga kadang Ibu Alfonsa memberikan kami uang terlebih dahulu sebelum tenun terjual,” jelasnya.

Mbula So

Para wanita pengrajin kain tenun dari komunitas Mbola So melakukan aktivitas harian di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Dengan kebutuhan ekonomi yang mendesak, tak jarang para wanita penenun ikat ini terpaksa menjajakan produknya di pasar dengan harga yang murah. Kain tenun bermotif khas Palu’e dengan pewarna alami itu dijual jauh di bawah harga yang pantas.

Hal ini menjadi perhatian utama bagi Hendrikus Pedro, salah seorang pengajar di Universitas Nusa Nipa (Unipa) yang aktif mendampingi komunitas Mbola So. 

Berawal dari kebutuhan penelitian terkait ekonomi kerakyatan pada 2019, Pedro hingga saat ini aktif mengadvokasi dan membimbing pengembangan organisasi dan pemasaran kain tenun ikat komunitas Mbola So. Tujuannya, para penenun bisa mendapatkan harga yang layak.

“Ketika pertama kali melihat mereka menggunakan pewarna alami, saya langsung merasa bahwa ini potensi yang kuat sekali… Sangat luar biasa [kain dengan pewarna alami], tapi harganya murah. Mereka butuh untuk kebutuhan pokok,” ungkapnya kepada tim Jelajah Sinyal.

Mbula So

Hendrikus Pedro, pengajar Unipa yang juga aktif mendampingi wanita penenun di komunitas Mbola So di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Melihat kondisi yang dihadapi para wanita penenun itu, Pedro secara umum mendorong tiga hal dalam upayanya tersebut yakni peningkatan kualitas, pemasaran dan organisasi yang kuat.

Menurutnya, pemasaran menjadi tantangan terberat yang dihadapi komunitas Mbola So. Pasalnya, pemasaran kain tenun sering kali dihadapkan pada sejumlah ‘oknum’ perantara yang berupaya menekan harga semurah mungkin.

“Artinya mereka harus jadi tuan atas produk mereka sendiri,” tegas Pedro.

Upaya Pedro tersebut mendapatkan dukungan dari Petrus Jefridus Pio. Pria yang akrab disapa Jefri ini merupakan warga Desa Hewuli yang juga merupakan pengungsi asal Pulau Palu’e.

Setelah mengenyam pendidikan tinggi pada 2019, Jefri mendorong para wanita penenun untuk memasarkan kain tenun melalui platform dalam jaringan atau online. Bersama Pedro dan sejumlah mahasiswa dari Unipa, Jefri berupaya meyakinkan para wanita tangguh itu untuk mencoba kanal pemasaran baru tersebut.

“Saya melihat mama-mama di sini berjualan ke pasar yang harganya [kain tenun] kadang tidak seberapa dibandingkan dengan proses tenunnya,” ungkapnya.

Salah seorang pengrajin kain tenun di komunitas Mbola So sedang menenun kain bermotif khas masyarakat Palu'e di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Di tengah pandemi Covid-19, Jefri mencoba memasarkan kain tenun khas Palu’e dari komunitas Mbola So ke berbagai daerah. Jefri memanfaatkan berbagai platform online mulai dari Whatsapp, Facebook, TikTok dan berbagai marketplace. Hal itu dimungkinkan dengan dukungan layanan internet yang terbilang stabil di wilayah Desa Hewuli.

Upaya Jefri dan Pedro pun mulai menunjukkan hasil. Penjualan tenun khas ini mulai meningkat dengan jangkauan pasar hingga ke luar negeri yakni ke Korea Selatan dan Malaysia. Selain itu, yang terpenting adalah setiap kain tenun dari komunitas Mbola So mendapatkan harga yang layak.

“Yang lebih dirasakan ketika menjual di pasar online adalah terjual dengan harga standar dan bisa langsung laku, dibeli,” kata Jefri. 

Jefri mengatakan ke depan akan terus mendorong pemasaran online tenun khas komunitas Mbola So tersebut. Di samping itu, Jefri dengan dibantu oleh Pedro terus memperkuat organisasi sanggar ini. Langkah ini ditempuh agar komunitas tenun ini bisa tetap berkarya tanpa kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bahkan bisa menyisihkan dana sebagai tabungan.

Untuk mewujudkannya, Jefri misalnya menginisiasi program ‘Sarung Rebis’. Program ini serupa dengan arisan yang dananya dikumpulkan dari penjualan sejumlah lembar sarung atau kain yang diproduksi sanggar Mbola So.

“Sarung dari satu goan bisa menghasilkan lima lembar kain. Tiga lembar dijual untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan [hasil penjualan] dua lembar sarung disimpan untuk para wanita [sebagai uang arisan yang penerimaannya bergiliran],” jelasnya.

Mbula So

Petrus Jefridus Pio atau Jefri memberikan penjelasan mengenai proses pemasaran kain tenun ikat khas masyarakat Palu'e yang dihasilkan komunitas Mbola So di Desa Hewuli, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/11/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Program ‘Sarung Rebis’ ini, jelas Jefri, masih berjalan hingga saat ini. Satu orang anggota komunitas Mbola So bisa mendapatkan Rp14 juta dari program ini sehingga membantu perekonomian keluarganya.

Yang pasti, Jefri dan Pedro masih terus memikirkan berbagai macam upaya untuk memperkuat organisasi komunitas Mbola So, meningkatkan kualitas kain tenun dan menjangkau pasar yang lebih luas dengan dengan ditopang layanan digital.

“Sekarang dengan cara online, harga jualnya lebih kuat. Kami ingin terus meningkatkan lagi agar para wanita di komunitas Mbola So dan keluarganya lebih sejahtera,” kata Pedro.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

flores ntt maumere Jelajah Sinyal
Editor : Oktaviano DB Hana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top