Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Ritel di Bali Masih Tumbuh Negatif

Tidak ada aktivitas di sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali selama pandemi, menjadi faktor utama anjloknya industri ritel Bali.
Harian Noris Saputra
Harian Noris Saputra - Bisnis.com 21 April 2022  |  08:36 WIB
Ketua Aprindo Provinsi Bali menjelaskan kondisi industri ritel di Bali selama pandemi.
Ketua Aprindo Provinsi Bali menjelaskan kondisi industri ritel di Bali selama pandemi.

Bisnis.com, MATARAM - Penjualan ritel di Bali masih tumbuh negatif atau terkontraksi sejak pandemi pada 2020 hingga akhir 2021.

Data dari Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Provinsi Bali menyebutkan pada 2020 nilai penjualan retail terkontraksi 21 persen dan volume penjulan juga terkontraksi 19 persen. Pada 2021 nilai penjualan retail masih kontraksi 11,66 persen dan volume transaksi juga kontraksi 15,76 persen.

Ketua Aprindo Bali A.A.Ngurah Agung Agra Putra, menjelaskan kondisi penjualan ritel di Bali selama pandemi sejalan dengan kondisi perekonomian Bali yang juga mengalami kontraksi. "Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Bali yang mengalami kontraksi selama dua tahun, industri ritel juga mengalami kontraksi double digit selama periode 2020 - 2021," kata Agung melalui zoom, Rabu (20/4/2022).

Tidak ada aktivitas di sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali selama pandemi, menjadi faktor utama anjloknya industri ritel Bali. Turunnya aktivitas belanja masyarakat secara signifikan selama 2 tahun, sangat dirasakan oleh industri ritel.

"Karena tidak ada pariwisata, maka otomatis belanja masyarakat turun, tidak ada belanja dari wisatawan asing, nilai belanja masyarakat Bali turun, masyarakat luar Bali yang awalnya berada di Bali untuk bekerja, karena tidak lagi bekerja mereka pulang kampung, itu juga berdampak bagi industri ritel, masyarakat Bali sendiri yang di perkotaan karena sudah tidak bekerja banyak yang pulang kampung," ujar Agung.

Selain itu, pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM yang diberlakukan di Bali sepanjang pandemi, menjadi faktor anjloknya industri ritel. Aprindo menyebutkan, penjualan sebagian besar komoditas ritel tumbuh negatif, hanya komoditas penunjang kesehatan yang tumbuh positif, yakni vitamin 14,66 persen, yoghurt 12,88 persen, baby diapers 4,76 persen, liquid milk 2,26 persen.

Pada akhir 2021, tren penjualan ritel mulai membaik walaupun masih tumbuh negatif, peningkatan penjualan mulai membaik sejak September, dan semakin membaik pada Desember 2021. Adanya peralihan usaha masyarakat dari sektor lain ke sektor ritel, membuat nilai penjualan di tingkat grosir meningkat.

"Penjualan ritel di tingkat grosir meningkat 100 persen 2021, ini karena banyak masyarakat yang membuka usaha jualan, jadi berbelanja dalam jumlah besar di grosir. Sedangkan pertumbuhan di minimarket 26,54 persen, penjualan di departement store juga tumbuh 7,12 persen, special supermarket tumbuh 2,06 persen, dan di hypermart masih kontraksi 5,69 persen," ungkapnya. (K48)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali Pariwisata ritel
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top