Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Garap Wisata Medis, 17 RS dan Klinik Swasta di Bali Bentuk Asosiasi Medical Tourism

Sejumlah rumah sakit di Pulau Bali mulai serius menggarap pasar wisata medis dengan mendirikan Bali Medical Tourism Association atau BMA yang beranggotakan 17 rumah sakit dan klinik bertaraf internasional.
Luh Putu Sugiari
Luh Putu Sugiari - Bisnis.com 30 Juni 2021  |  12:01 WIB
Deklarasi Bali Medical Tourism Association di Kantor BTB, Denpasar, Bali. Bisnis - Luh Putu Sugiari
Deklarasi Bali Medical Tourism Association di Kantor BTB, Denpasar, Bali. Bisnis - Luh Putu Sugiari

Bisnis.com, DENPASAR—Sejumlah rumah sakit di Pulau Bali mulai serius menggarap pasar wisata medis dengan mendirikan Bali Medical Tourism Association atau BMA yang beranggotakan 17 rumah sakit dan klinik bertaraf internasional.

Ketua BMTA Gede Wiryana Patra Jaya mengatakan Bali memiliki potensi untuk lebih mengembangkan wisata medis. Potensi ini terlihat dari ketersediaan rumah sakit berstandar internasional, peralatan medis yang mendukung, tenaga medis dan paramedis berkompeten, dan layanan unggulan lainnya.

"Disamping potensi tersebut, Bali juga memiliki banyak objek dan atraksi wisata yang bisa dinikmati oleh turis medis selama atau setelah pengobatan," tuturnya dalam rilis, Selasa, (29/6/2021).

Keberadaan wisata medis menjadi penting, sambungnya, karena memiliki potensi pendapatan yang besar dan pelaku medical tourism di negara maju cenderung mencari pengobatan ke luar negaranya, karena waktu tunggu yang lama untuk tindakan tertentu dan mahalnya biaya  dari negara asal.

"Hal ini tentu membuka peluang bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan Bali khususnya yang memiliki kemampuan untuk melayani pangsa pasar ini," tambahnya.

Menurut Wiryana, wisata medis menjadi salah satu program yang telah direncanakan oleh pemerintah dan telah diatur dalam Permenkes 76/2015.  Bagi Bali yang merupakan destinasi wisata, imbuhnya, hal ini tidak saja untuk mencegah keluarnya devisa karena banyak masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri. Bahkan berpeluang mendatangkan devisa bagi negara dengan masuknya turis medis baik domestik maupun internasional.

Sekretaris BMTA I Putu Deddy Suhartawan menuturkan tujuan dibentuknya asosiasi medical tourism yakni untuk menaungi rumah sakit-rumah sakit yang telah melayani pasien-pasien MT.  Lebih lanjut, asosiasi yang dibidani oleh Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Bali akan menjalin kerjasama di bidang pengembangan teknologi kesehatan, pegembangan skill dan kompetensi petugas medis. Sehingga Bali mampu menjadi destinasi MT bagi wisatawan domestik maupun internasional.

Untuk menjadikan Bali sebagai destinasi MT yang lebih berkualitas, BMTA tengah merancang adanya layanan sejenis Call Centre 24 jam untuk menerima dan memberi informasi kepada pasien-pasien MT, merujuknya ke rumah sakit anggota BMTA sesuai dengan layanan unggulan yang dimiliki.  Lalu memetakan, melakukan assessment dan memberikan pembinaan kepada Rumah sakit-rumah sakit anggota BMTA agar memiliki standar yang sama dalam melayani pasien MT.

Adapun saat ini BMTA juga telah resmi menjadi bagian dari Bali Tourism Board (BTB), dan diharapkan rumah sakit di Bali dapat bersama-sama mempromosikan Bali sebagai destinasi medical tourism.  Anggora dari BTMA, yakni RSUP Sanglah, RSU Bali Mandara, RS Mata Bali Mandara, RSPTN Unud, RS Mangusada Badung,  RS BIMC Nusa Dua, RS BIMC Kuta ,dan RS Siloam Kuta. Kemudian, RS Bali Royal (BROS), RS Prima Medika, RS Kasih Ibu Denpasar, RS Kasih Ibu Saba, RS Khusus Mata Ramata, RS Bhayangkara, Klinik Penta Medika,  Dental 911 Clinic, Assist 221.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata wisata medis
Editor : Feri Kristianto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top